Video Petani Terbang Viral, Ternyata Cuma Konten

Eko P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Video Petani Terbang Viral, Ternyata Cuma Konten

Gambar atau konten salah?

Sebuah video amatir yang memperlihatkan seorang petani terbang menggunakan drone di atas perkebunan membuat geger jagat media sosial. Rekaman itu menunjukkan seseorang melayang di udara, seolah-olah sedang dalam perjalanan menuju ladang. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata ada sejumlah fakta yang jauh berbeda dari kesan pertama yang ditangkap penonton.

Video tersebut diambil di area perkebunan Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Dalam rekaman, seseorang tampak terbang hingga ketinggian 15 meter dan menempuh jarak sekitar satu kilometer. Pemandangan itu langsung menyedot perhatian warganet. Tapi jangan terkecoh. Semua itu bukanlah kenyataan.

Pemilik akun yang mengunggah video sekaligus Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang, Budianto (47), buka suara. Ia menegaskan bahwa narasi petani yang pulang-pergi ke sawah dengan cara terbang sama sekali tidak benar. Video itu, kata dia, murni dibuat sebagai konten hiburan digital. Tujuannya jelas: mendongkrak popularitas akun media sosial miliknya.

Pria yang tampak terbang di dalam video adalah mitra kerja Budianto bernama Daeman (53). "Awalnya kita kan hanya konten. Itu aja sih," kata Daeman membenarkan. Jadi tidak ada petani yang benar-benar menggunakan drone sebagai alat transportasi ke ladang.

Lantas, drone seperti apa yang dipakai dalam video itu? Bukan drone biasa. Budianto menjelaskan bahwa unit tersebut adalah drone pertanian yang telah dimodifikasi secara khusus. Drone itu memiliki kapasitas angkut logistik yang luar biasa, mampu mengangkat beban hingga 150 kilogram. Modifikasi ini yang membuat drone bisa "menerbangkan" seseorang untuk keperluan konten.

Meski demikian, fungsi utama drone raksasa ini bukan untuk mengangkut orang. Budianto menegaskan bahwa perusahaannya tidak menerapkan metode transportasi terbang bagi para pekerja di ladang. Fungsi operasional asli drone tersebut murni untuk membantu efisiensi kerja petani. Misalnya menyemprotkan pestisida cair atau mendistribusikan kebutuhan tanam ke area yang sulit dijangkau.

"Perlu kami sampaikan bahwa penggunaan drone yang sebenarnya di lahan kami hanya difungsikan untuk membantu operasional pertanian, yaitu untuk mengangkut bibit, pupuk, dan hasil panen ke area lahan tanam," kata Budianto. Ia menambahkan dengan tegas, "Drone tidak digunakan untuk mengangkut orang."

Daeman juga mengungkapkan alasan utama pihak perkebunan mulai menerapkan teknologi drone ini sejak tahun 2026. Letak geografis lahan garapan mereka terisolasi oleh area tambak. Tidak ada akses jalan yang layak untuk dilewati kendaraan bermotor. Kondisi ini membuat drone menjadi solusi yang sangat membantu memangkas waktu kerja.

"Jadi 100 kilo pupuk sama pisang. Oh satu baterai kalau jarak 1 kilo sudah 3 kali-an (bisa mengangkut). Akses. Ini itu ada tambak nggak bisa, jalan motor nggak bisa. Sangat efektif. Kan hanya perjalanan berapa menit," ungkap Daeman. Drone memungkinkan mereka mengangkut logistik pertanian melintasi area yang tidak bisa dijangkau kendaraan darat.

Penerapan teknologi pesawat tanpa awak berkapasitas besar ini diakui baru berjalan pada tahun ini di area perkebunan Tuban tersebut. Meskipun mendapat sorotan luas dan viral di internet, pihak pengelola ladang menegaskan belum memiliki ketertarikan untuk mengomersialkan atau menyewakan alat modifikasi tersebut kepada pihak luar. "Baru tahun ini. Mungkin nggak, nggak disewakan," tandas Daeman.

Video viral itu memang sukses menarik perhatian. Tapi di balik sensasi terbang di udara, ada cerita yang lebih membumi. Drone pertanian yang dimodifikasi itu sejatinya adalah alat kerja, bukan kendaraan pribadi. Konten tersebut hanyalah strategi digital untuk meningkatkan jumlah pengikut di media sosial. Sementara di lapangan, drone tetap digunakan untuk tugas-tugas pertanian yang berat di medan yang sulit dijangkau.

petani terbangdrone pertaniankonten hiburanviral media sosialmodifikasi droneefisiensi pertanianakses tambak

Komentar

Memuat komentar...