Diet Ekstrem Bikin Berat Badan Naik Lebih Tinggi
Gambar atau konten salah?
Banyak orang ingin punya berat badan ideal dalam waktu singkat. Tapi keinginan ini sering menjebak mereka dalam pola diet yang salah. Alih-alih sehat, metode memangkas kalori secara ekstrem justru memicu stres dan efek yoyo—berat badan malah melonjak lebih tinggi dari sebelum diet.
Spesialis Gizi Klinik, dr Christopher Andrian MGizi SpGK, mengatakan ada satu kesalahan besar yang merusak pola pikir masyarakat sekarang. Ambisi untuk menurunkan berat badan secepat mungkin dengan cara menyiksa tubuh.
"Banyakan orang diet itu sekarang mau turun secepat-cepatnya. Cepat ekstrem. Jadi dia makan sedikit-dikitnya, olahraga seheboh-hebohnya dengan anggapan restriksi kalori terjadi disitu," kata dr Christopher saat ditemui di Dermaster Gizi Jakarta Selatan, Rabu 08 Juli 2026.
Menurutnya, penurunan berat badan memang akan cepat terjadi. Tapi yang turun sebagian besar adalah air dan massa otot. Lemak juga ikut turun, tapi hasilnya tidak permanen.
"Nah mungkin kondisi kayak gitu itu penurunan berat badan akan cepat turun. Tapi dominan yang turun itu mayoritas adalah air, otot yang hilang, lemak juga ada. Tapi itu biasanya sifatnya tidak permanen," paparnya.
Akibatnya, metabolisme tubuh melambat. Lalu muncul fase stuck atau mandek. dr Christopher menjelaskan, kondisi ini sering membuat orang frustrasi. Mereka lalu kembali ke pola makan lama.
"Nah kondisi kayak gitulah yang makanya kadang-kadang orang sering stuck. Cepat turun, tiba-tiba stuck, abis itu dia stress, abis itu dia rebound, naik lagi. Kan banyak tuh kayak gitu," ujarnya.
Dia memberi contoh nyata. Berat badan turun 3 kilogram, lalu naik 5 kilogram. Turun lagi 3 kilogram, naik lagi 5 kilogram. Pola ini terus berulang.
"Ujung-ujungnya yang terjadi apa? Turunnya 3 kilo, naiknya 5 kilo. Turun lagi 3 kilo lagi, naik lagi 5 kilo. Makanya berat badannya terus seperti itu," lanjutnya.
Membatasi jumlah kalori sebenarnya bisa diterapkan. Tapi tidak bisa dilakukan sembarangan. Komposisi tubuh harus tetap diperhatikan. Jika defisit kalori terlalu besar tanpa perhitungan nutrisi yang matang, tubuh tidak hanya kehilangan lemak. Zat esensial lain juga ikut hilang.
dr Christopher menjelaskan, diet 800 kalori secara medis memang ada. Istilahnya very low calorie diet. Diet ini ditujukan untuk orang yang ingin penurunan berat badan cepat. Tapi tidak bisa diterapkan jangka panjang.
"Diet 800 kalori pun secara medis itu ada, very low calorie diet kita bilangnya. Memang ditujukan buat orang-orang yang mau cepat penurunan berat badan. Tapi ya very low calorie diet itu tidak bisa kita terapkan buat jangka panjang. Kenapa? Karena kalorinya kecil," jelas dia.
Jika dipaksakan, efek sampingnya pasti muncul. Defisiensi mikronutrien, kekurangan vitamin dan mineral, akan terjadi karena restriksi kalori yang terlalu besar.
"Dan kalau kita terapkan buat jangka panjang, efek untuk defisiensi mikronutrien, kekurangan nutrisi dari vitamin, mineral, itu pasti akan muncul karena restriksi kalori yang terlalu besar," tandasnya.
Intinya, diet ekstrem bukan solusi. Tubuh butuh keseimbangan. Penurunan berat badan yang sehat tidak bisa instan. Jika terlalu memaksakan, efek rebound justru membuat berat badan naik lebih tinggi. Dan yang hilang bukan hanya lemak, tapi juga otot dan nutrisi penting lainnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warteg Bisa untuk Diet Sehat, Tak Perlu Salad Mahal
Rahasia Diet 6.000 Kalori Haaland di Piala Dunia
5 Makanan Harian yang Sehatkan Jantung Menurut Penelitian
Minum Kopi Tiap Hari? Ini Efeknya pada Hati Anda
Rahasia Umur Panjang: 5 Makanan Ini Dikonsumsi Centenarian
Sarikaya, Bukan Apel, Jadi Buah Paling Sehat Versi BBC
Berita Terbaru
Servis Yamaha Grand Filano Tembus Rp 732 Ribu
Ulasan Huawei MatePad Mini: Tablet Mungil Layar PaperMatte
Anak Tukang Bengkel Berhasil Kuliah Gratis di UGM, Ini Kisahnya
Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Juli 2026
Resep Jasmine Milk Tea Hangat, Kreasi Minuman Kekinian
Wisatawan AS Mulai Tinggalkan Musim Panas Eropa