Desa Gulingan Habiskan Rp 4 Miliar Per Tahun untuk Kelola Sampah
Gambar atau konten salah?
Desa Gulingan di Kecamatan Mengwi, Badung, punya cara sendiri mengatasi sampah. Mereka tidak menggunakan mesin pembakar atau insinerator. Sebaliknya, desa ini mengeluarkan dana Rp 4 miliar setiap tahun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk menerapkan konsep 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle.
"Kami konsisten itu, tidak kami pakai insinerator, nggak di sini karena kami nanti biar tidak berubah konsep 3R itu," kata Kepala Desa Gulingan, I Ketut Winarya, saat ditemui di TPS3R Sapuh Jagat di desanya, Rabu, 08 Juli 2026.
Winarya menjelaskan bahwa pemerintah desa membiayai semua produksi, termasuk operasional rutin, pegawai, mobilisasi alat, hingga dana personal. Totalnya Rp 4 miliar per tahun dari APBDes. Dana itu dipakai untuk operasional Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R) Sapuh Jagat yang sudah berjalan sejak April 2022.
Anggaran sebesar itu dinilai sebanding dengan beban pengelolaan sampah dari 2.242 kepala keluarga dinas, atau sekitar 8.700 lebih jiwa penduduk Desa Gulingan. Setiap hari, mereka menghasilkan timbulan sampah mencapai 6,7 ton.
"Jadi sebelum saya memaparkan berapa jumlah sampah di penduduk yang kita transformasi ke TPS, TPS (3R) ini sudah berdiri sejak tahun 2021 pembangunannya dan kita operasi itu di tahun 2022 di bulan April. Nah, sehingga dari analisis perhitungan timbulan sampah per harinya kita hampir 6,7 ton," terang Winarya.
Untuk mengoptimalkan penyerapan anggaran operasional, pemerintah desa membentuk satuan tugas khusus yang bergerak di garda terdepan. Sebanyak 187 kader kebersihan lingkungan (kesling) dikerahkan. Mereka memantau pergerakan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, banjar, subak, hingga sekolah dasar menggunakan sistem digital.
"Kader kesling itu fungsionalnya adalah di seluruh Gulingan, meliputi masing-masing banjar, ada subak, dan SD, nah inilah yang memantau pergerakan pemilahan sampah termasuk sampai ke bank sampahnya. Sistem sekarang dibangun digitalisasi untuk mengecek sampah itu, siapa saja keslingnya yang terdiri dari kelian adat, dinas, perwakilan masyarakat, dan lembaga," urai Winarya.
Pengawasan digital ini memangkas jalur birokrasi pengangkutan sampah. Jadwal yang kaku berubah menjadi sistem jemput bola yang dinamis. Jika kantong pemilahan sampah di rumah warga sudah penuh, mereka cukup menghubungi kader kesling setempat. Armada pengangkut langsung datang ke lokasi.
"Nah sehingga kalau sudah penuh di masyarakat tinggal dihubungi kesling, jadi saya tidak lagi menunggu jadwal. Tinggal kita angkut, timbang, angkut, bayar," jelas Winarya.
Desa Gulingan menolak insinerator karena ingin konsisten dengan konsep 3R. Mereka mengelola sampah dari 2.242 kepala keluarga atau sekitar 8.700 jiwa. Timbulan sampah mencapai 6,7 ton per hari. TPS3R Sapuh Jagat sudah beroperasi sejak April 2022, meskipun pembangunannya dimulai tahun 2021. Dengan sistem digital dan 187 kader kesling, pengangkutan sampah tidak lagi menunggu jadwal tetap. Warga cukup menghubungi kader jika kantong pemilahan sudah penuh, dan armada langsung datang. Sistem ini memotong birokrasi dan membuat pengelolaan sampah lebih responsif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trump Balas Iran, Serang Bandar Abbas dan Chabahar
Wisatawan Masuk Lewat Jalur Tikus, Target Retribusi Rp132 Miliar Terancam
Cuaca Bali 9 Juli: Berawan, Hujan Ringan di Jembrana
SIM Keliling Buleleng dan Badung Hari Ini, Siapkan Syarat Ini
Hari Ini Tak Disarankan untuk Nikah, Begini Ramalan Dewasa Bali
Jadwal Salat Denpasar Hari Ini, 9 Juli 2026
Berita Terbaru
Desa Gulingan Habiskan Rp 4 Miliar Per Tahun untuk Kelola Sampah
Diet Ekstrem Bikin Berat Badan Naik Lebih Tinggi
Servis Yamaha Grand Filano Tembus Rp 732 Ribu
Ulasan Huawei MatePad Mini: Tablet Mungil Layar PaperMatte
Anak Tukang Bengkel Berhasil Kuliah Gratis di UGM, Ini Kisahnya
Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Juli 2026