Wamenek Dradjad: Aksi Jual Asing Peluang Investor Lokal Borong Saham
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, justru melihat sisi lain dari gelombang aksi jual yang dilakukan investor asing di pasar modal Indonesia. Menurutnya, kondisi ini bisa menjadi celah bagi investor dalam negeri untuk mulai mengoleksi saham dengan harga yang lebih murah.
Pelemahan indeks ini terjadi setelah MSCI, lembaga penyedia indeks global, mengumumkan potensi penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market. Pengumuman semacam ini biasanya memicu reaksi pasar, dan kali ini pun demikian.
Berdasarkan data dari Stockbit, nilai aksi jual di pasar modal Indonesia mencapai Rp 8,13 triliun. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah cukup dalam, yakni 11,24 persen, dan berada di level 5.193,85 pada pukul 15.11 WIB.
Menanggapi situasi ini, Dradjad mengaku tidak mempermasalahkan keputusan investor asing untuk keluar dari pasar modal RI. Ia memahami bahwa keputusan mereka umumnya mengikuti analisis dari lembaga penyedia indeks global seperti MSCI.
"Yang asing kan karena ikut MSCI dan indeks maupun analisis kan bukan hanya MSCI. Jadi ya nggak apa-apa kalau mereka melakukan itu nggak apa-apa," ungkap Dradjad kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
Ia menegaskan bahwa investor domestik harus tetap kuat. Justru di tengah kondisi IHSG dan harga saham yang sedang melemah, ia menilai ini adalah momentum yang tepat bagi investor dalam negeri untuk membeli saham.
"Kalau investor pasar modal dalam negerinya resilient, ujung-ujungnya kan mereka akan ketinggalan lagi. Malah mungkin dengan asing keluar harga turun, investor dalam negeri silahkan serok aja sekarang," jelasnya.
Dradjad juga mengingatkan agar investor domestik melakukan perhitungan investasi secara mandiri. Ia menilai pengumuman MSCI tidak selalu menguntungkan bagi investor, sehingga ketergantungan pada lembaga tersebut sebaiknya dikurangi.
"Saya ingin teman-teman di dalam negeri itu resilient, ngitung sendiri. Karena yang rugi kita sendiri nanti. Kan yang investasi, teman-teman kan nyimpen duitnya di pasar modal. Tabungan buat nanti beli rumah, tabungan buat nanti biaya anak sekolah dan sebagainya. Nah kalau gampang panik akan rugi," terangnya.
"Investor yang kira-kira gampang panik, naik turun, naik turunnya gede sekali. Ada investor yang lebih steady. Nah itu ditunjukkan di analisis itu. Jadi saya berharap investor dalam negeri Indonesia tidak terlalu, ya itu tadi, ngitung sendiri dan jangan gampang panik," tandasnya.
Kondisi pasar yang bergejolak memang sering kali memicu reaksi berlebihan. Padahal, bagi sebagian investor, justru saat seperti inilah peluang terbaik muncul. Perbedaan antara investor yang panik dan yang tenang biasanya terlihat jelas ketika pasar sedang tidak stabil. Mereka yang mampu menahan diri dan tetap berpegang pada perhitungan sendiri cenderung lebih siap menghadapi gejolak. Sementara mereka yang mudah terpancing emosi sering kali mengambil keputusan yang justru merugikan keuangan mereka sendiri dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
