Warga Blitar Temukan Bom Aktif Peninggalan Perang Dunia II
Gambar atau konten salah?
Seorang warga yang sedang memancing di Sungai Jalan Manggar, Kota Blitar, Jawa Timur, menemukan sebuah benda mencurigakan. Ternyata, benda itu adalah bom peninggalan Perang Dunia Kedua. Tim gabungan dari Jibom Brimob Polda Jatim dan Polres Blitar Kota segera turun tangan. Bom tersebut akhirnya berhasil diangkat dan kemudian diledakkan. Getaran dari ledakan itu terasa hingga radius 5 kilometer.
Kapolres Blitar Kota, AKBP Kalfaris T. Lalo, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan evakuasi tersebut. "Puji Tuhan, tim berhasil mengangkat (mengevakuasi) yang rupanya memang itu adalah mortir atau bisa dikatakan bom udara atau bom aircraft. Kemudian diangkat bersama-sama tim gabungan," ujarnya pada Kamis, 09 Juli 2020.
Menurut Lalo, bom itu masih dalam kondisi aktif dan utuh saat ditemukan. Namun, beberapa bagian bom sudah berkarat. Karat itu diduga muncul karena bom tersebut sudah lama terbawa arus dan tergerus aliran sungai. "Menurut tim Jibom itu masih aktif. Posisinya terjepit batu, jadi sudah berkarat. Tidak ada tulisannya, karena mungkin sudah lama tertanam di situ dengan posisi 30 derajat," lanjut Kapolres.
Bom jenis aircraft ini memiliki ukuran yang cukup besar. Panjangnya sekitar 1,5 meter dengan lebar antara 25 hingga 30 sentimeter. Bobot bom diperkirakan mencapai 50 hingga 100 kilogram.
Setelah proses evakuasi berhasil, bom tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Tim Jibom Brimob Polda Jatim Mako Kediri melakukan disposal atau peledakan. Lokasi peledakan dipilih di sekitar Kali Bladak, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Area itu sengaja dipilih karena jauh dari pemukiman penduduk.
Kasi Humas Polres Blitar Kota, AKP Samsul Anwar, menjelaskan bahwa peledakan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2020. "Untuk bom jenis aircraft yang telah dievakuasi kemarin sudah dilakukan disposal atau pemusnahan oleh tim Jibom Polda Jatim dengan personel Polres Blitar Kota. Disposal dilakukan siang tadi, dan berjalan lancar," terang Samsul.
Lokasi disposal berada di bekas galian tambang kawasan Kali Bladak. Alasan pemilihan tempat itu selain jauh dari warga, juga karena lahannya luas dan dinilai aman untuk proses peledakan. Sebelum bom diledakkan, personel melakukan sterilisasi lokasi terlebih dahulu. "Untuk memastikan tidak ada warga maupun pekerja tambang pasir yang melintas di sekitar lokasi. Nah, setelah dinyatakan aman baru dilakukan disposal dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar," jelas Samsul.
Proses disposal dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Tim Jibom Brimob. Keselamatan personel dan lingkungan sekitar menjadi prioritas utama. Polres Blitar Kota memastikan seluruh rangkaian disposal berlangsung kondusif. "Sampai dengan disposal selesai, personel dipastikan dalam keadaan aman dan lancar," kata Samsul.
Salah seorang warga Nglegok bernama Eka mengaku mendengar dan merasakan getaran ledakan. Rumahnya berjarak sekitar 5 kilometer dari titik pusat peledakan. "Kedengeran cukup keras sekali, jaraknya sekitar 4 sampai 5 kilometer dari Kali Bladak itu. Beberapa warga sekitar sini juga kaget, berhamburan keluar rumah. Kami kira Gunung Kelud meletus, ternyata sedang ada peledakan bom dari polisi," ujarnya.
Hingga saat ini, polisi belum bisa memastikan asal-usul bom udara tersebut. Namun, berdasarkan kondisi fisiknya, polisi menduga bom itu adalah mortir pesawat. "Kami belum tahu itu bom tahun berapa, kalau bicara dugaan ini bisa saja ke agresi militer dan sebagainya. Yang jelas memang keberadaan benda tersebut sudah lama. Dengan melihat kondisi fisiknya bom mortir pesawat," jelas Kapolres Lalo.
Penemuan bom peninggalan perang di Indonesia bukanlah hal yang benar-benar baru. Beberapa daerah, terutama yang menjadi lokasi pertempuran di masa lalu, masih menyimpan sisa-sisa sejarah semacam ini. Bom yang ditemukan di Blitar ini menjadi pengingat bahwa konflik masa lalu bisa meninggalkan jejak yang baru ditemukan puluhan tahun kemudian. Proses evakuasi dan peledakan yang dilakukan tim Jibom menunjukkan prosedur penanganan benda berbahaya sudah berjalan sesuai standar, meskipun warga sempat terkejut karena getarannya mirip letusan gunung berapi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Viral! Wisawatan Keluhkan Biaya Berlapis di Situ Bagendit
Trans Hotel Jakarta Diskon 20 Persen di Sisa Liburan
15 Turis India Tewas dalam Kecelakaan Kapal di Phu Quoc
Badai Bavi Lumpuhkan Penerbangan Singapura-Taiwan-Shanghai
Hotel Miami Ludes Diserbu Fans Inggris Jelang Lawan Norwegia
KUTAKITA Sundown Week: Nikmati Senja Gratis di Kuta
Berita Terbaru
Warga Blitar Temukan Bom Aktif Peninggalan Perang Dunia II
Bellingham Bawa Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2026
Transmart Diskon Sepeda Listrik Hingga Rp 2,7 Juta
Jadwal MPLS 2026 SD-SMA Rilis
Diskon 50% + 20% di Transmart Hari Ini
Anak Krakatau Naik Status Siaga, Erupsi Mulai Juli 2026
Bahaya Menahan Kencing: Kandung Kemih Bisa Lemah
Jalan Menuju Surga: Beras Jadi Jalan