Jalan Menuju Surga: Beras Jadi Jalan
Gambar atau konten salah?
Di Kota Malang, ada sebuah jalan dengan nama yang cukup mencolok: Jalan Menuju Surga. Namanya memang unik, bahkan mungkin mengundang tanya. Tapi di balik nama itu, ada cerita tentang kerja keras dan kepedulian warga setempat.
Jalan ini berada di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing. Posisinya diapit oleh bangunan dan hamparan sawah hijau. Fungsinya sebagai jalur alternatif yang menghubungkan Jalan Terusan Batubara dengan Jalan Simpang Laksda Adi Sucipto.
Panjangnya hanya sekitar 600 meter. Dulu, jalan ini hanyalah setapak tanah yang membelah sawah. Hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Masalah besar muncul setiap kali ada warga yang meninggal. Iring-iringan jenazah harus memutar jauh lewat jalan raya utama, Jalan Laksda Adi Sucipto. Itu sangat menyulitkan, apalagi di tengah suasana duka.
Asmuri (63), Ketua Panitia Pembangunan jalan ini, masih ingat betul masa-masa itu. "Dulu kondisinya masih berupa jalan setapak ke sawah dan hanya bisa dilewati pejalan kaki. Ketika ada yang meninggal dunia dan menuju ke pemakaman, warga harus memutar hingga ke jalan raya yang jaraknya cukup jauh," katanya kepada wartawan pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Melihat kesulitan yang terus berulang, warga pun tergerak. Pada tahun 2016, mereka memulai inisiatif bersama. Tujuannya: mengubah jalan setapak itu menjadi jalan tembus yang layak. Yang menarik, pembangunan ini murni dari swadaya masyarakat. Tidak ada bantuan anggaran dari pemerintah.
Bagaimana caranya? Warga memanfaatkan tradisi jimpitan beras. Setiap kepala keluarga menyisihkan sedikit beras mereka secara rutin. Beras itu lalu dikumpulkan dan dijual. Uang hasil penjualannya dipakai untuk membeli tanah uruk dan bahan material bangunan.
Para pemilik sawah di sekitar lokasi juga ikut berperan. Mereka dengan sukarela merelakan sebagian lahan mereka. Tujuannya agar jalan bisa diperlebar. Kerja sama ini berjalan konsisten. Hasilnya, pada tahun 2018, jalan tembus itu akhirnya rampung. Lebarnya bervariasi, antara 1,2 hingga 2,5 meter. Kini, sepeda motor sudah bisa melintas.
Manfaat Jalan Menuju Surga kini terasa lebih luas. Bukan hanya untuk ambulans dan iring-iringan jenazah. Jalan ini juga menjadi jalur alternatif yang ramai dilewati pengendara motor. Mereka menggunakannya untuk menghindari kemacetan parah di Jalan Laksda Adi Sucipto, terutama pada jam-jam sibuk.
Tapi tantangan baru muncul. Pemeliharaan jalan dan fasilitas penunjang masih minim. Warga berharap Pemerintah Kota Malang bisa memberi perhatian lebih. Asmuri menyampaikan harapannya: "Saya berharap ada perhatian dari Pemkot Malang, agar jalan tembus ini bisa permanen dengan cara diaspal dan irigasi persawahan di sekitar bisa ditata. Termasuk adanya pemasangan lampu penerangan yang memadai, karena selama ini kami yang menyediakan secara swadaya."
Cerita Jalan Menuju Surga ini menunjukkan bagaimana warga bisa mengatasi masalah bersama. Dari jalan setapak yang merepotkan, mereka membangun akses yang lebih baik. Semua dilakukan dengan cara sederhana: menyisihkan beras, merelakan tanah, dan bekerja bersama. Sekarang, mereka berharap pemerintah bisa membantu menjaga apa yang sudah mereka rintis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Jalan Menuju Surga: Beras Jadi Jalan
Bellingham Kunci Kemenangan Inggris ke Semifinal Piala Dunia
Haaland Pamer Ruang Gaming Pribadi, Incar Sponsor Xbox
Kasus HIV/AIDS Baru di Sumsel Capai 380 Orang dalam 5 Bulan
Kisah Sema: Hipertensi Tak Terkontrol Berujung Cuci Darah
Renungan Minggu: Pengharapan di Tengah Pergumulan
Argentina Tantang Swiss di Perempat Final Piala Dunia
Imbauan: ASN Boleh Antar Anak Hari Pertama Sekolah