Warisan Bukan Cuma Harta, Pendidikan Jadi Prioritas Utama Masyarakat Indonesia

Ika P. · 2 min baca · 1 jam lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Warisan Bukan Cuma Harta, Pendidikan Jadi Prioritas Utama Masyarakat Indonesia

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Bicara soal warisan, pikiran kebanyakan orang langsung melayang pada rumah, tanah, tabungan, atau bisnis keluarga. Padahal, warisan itu tidak melulu soal harta benda. Temuan terbaru dari Studi Sun Life Asia 2026 yang berjudul "Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan" mengungkap fakta menarik: masyarakat Indonesia menempatkan akses pendidikan setara pentingnya dengan kepemilikan kekayaan.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, memaparkan bahwa dari 506 responden di Indonesia, kesempatan pendidikan dan kekayaan sama-sama masuk dalam tiga prioritas warisan teratas bagi 65% responden. Angka ini diikuti oleh tradisi keluarga yang mencapai 47%. Albertus menegaskan, "Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya memikirkan apa yang kelak diterima generasi berikutnya, tetapi juga bekal yang membantu mereka bertumbuh dan mengambil keputusan."

Studi ini mengidentifikasi beberapa bentuk warisan non-material yang dinilai krusial. Pertama, cara pandang terhadap uang. Generasi penerus perlu dibekali pemahaman mendalam soal prinsip pengelolaan finansial—mulai dari bagaimana uang diperoleh, digunakan secara bertanggung jawab, dikembangkan, hingga dibagikan dengan bijak.

Kedua, kesempatan untuk belajar dan berkembang. Sebanyak 61% responden yang berencana mewariskan kekayaan menyatakan ingin menggunakannya untuk membiayai pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun pengembangan keterampilan. Tujuannya jelas: membuka lebih banyak pilihan hidup bagi generasi berikutnya.

Ketiga, cerita dan pengalaman hidup. Kisah tentang perjalanan membangun karier, menghadapi masa-masa sulit, hingga evaluasi kegagalan bisnis memberikan konteks berharga yang tidak bisa digantikan oleh sekadar angka di neraca keuangan. Pengalaman-pengalaman ini menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai.

Menariknya, Albertus menyebutkan bahwa warisan yang bermakna bukan sekadar memberi, tetapi juga membuka peluang untuk mandiri. Hal ini tercermin dari 74% responden Indonesia yang berencana mewariskan kekayaan dan ingin asetnya diinvestasikan untuk pertumbuhan jangka panjang.

"Karena itu, membangun legacy tidak perlu menunggu keluarga memiliki kekayaan besar. Aset dapat berpindah tangan, tetapi cara memandang uang, nilai yang dijaga, pengalaman yang dibagikan, dan kesempatan yang dibuka akan membentuk identitas keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya," imbuhnya.

Pada akhirnya, pandangan ini menggeser paradigma lama tentang warisan. Kekayaan materi memang penting, tetapi nilai-nilai, pengetahuan, dan pengalaman yang diwariskan justru menjadi fondasi yang lebih kokoh dalam membentuk karakter dan masa depan keluarga. Warisan sejati bukan hanya tentang apa yang ditinggalkan, melainkan apa yang tertanam dalam diri generasi penerus untuk melanjutkan tongkat estafet keluarga.

warisanpendidikankekayaannilai keluargagenerasi penerus

Komentar

Memuat komentar...