WIKA Raup Penjualan Rp15,8 T per Kuartal III 2026

Fajar H. · 2 min baca · 1 jam lalu · 32 dibaca
Bisik.id
WIKA Raup Penjualan Rp15,8 T per Kuartal III 2026

Gambar atau konten salah?

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, yang dikenal dengan singkatan WIKA, melaporkan kenaikan penjualan pada tiga bulan pertama hingga September 2026. Angkanya naik 11,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp15,80 triliun. Penjualan ini terbagi dua: proyek yang dikerjakan sendiri sebesar Rp9,04 triliun, dan proyek kerja sama operasi atau KSO sebesar Rp6,77 triliun.

Kenaikan penjualan ini sejalan dengan bertambahnya kontrak baru yang diraih perusahaan. Hingga kuartal III 2026, nilai kontrak baru melonjak 57,9 persen secara tahunan, mencapai Rp9,78 triliun. Lonjakan ini bukan tanpa sebab. Sejak 2023, WIKA menjalankan transformasi dan penyehatan internal secara konsisten.

Salah satu langkahnya adalah seleksi proyek yang ketat. Perusahaan menerapkan prinsip four eyes, di mana setiap keputusan proyek harus melalui lebih dari satu orang. Mereka juga memprioritaskan kontrak dengan skema pembayaran di muka dan pembayaran bulanan berdasarkan progres pekerjaan. Hasilnya, setiap proyek diharapkan bisa menghasilkan untung dan berjalan mandiri.

Strategi itu mulai terlihat dari laba kotor perusahaan yang mencapai Rp1,09 triliun. Angka ini tumbuh 44,4 persen dibandingkan tahun lalu. Margin laba kotor juga naik menjadi 12,11 persen, dari sebelumnya 8,34 persen. Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 30 Oktober 2026, mengatakan bahwa peningkatan penjualan dan penguatan margin menunjukkan keberhasilan strategi bisnis perusahaan. Ia menambahkan, perusahaan akan terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Transformasi ini juga berdampak pada kinerja bisnis utama. Laba usaha tercatat Rp754,33 miliar, naik 162,1 persen secara tahunan. Sementara itu, EBITDA dari operasi inti, di luar investasi kereta, mencapai Rp957,84 miliar, tumbuh 148,4 persen. Penerapan lean management mulai menunjukkan hasil. Rasio biaya operasi terhadap penjualan turun menjadi 5,34 persen pada kuartal III 2026, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi keuangan, WIKA fokus memperkuat fundamental. Total utang perusahaan berkurang Rp1,42 triliun. Rinciannya, utang berbunga turun Rp505 miliar dan utang usaha turun Rp914,54 miliar pada kuartal III 2026 dibandingkan tahun lalu. Untuk melanjutkan transformasi, perusahaan butuh dukungan dari berbagai pihak: pemegang saham, kreditur, regulator, hingga publik.

Dukungan itu diperlukan untuk mendorong restrukturisasi menyeluruh, pengembalian modal perusahaan, dan divestasi proyek kereta cepat. Langkah-langkah ini diharapkan bisa mengurangi beban bunga dan kerugian dari proyek kereta cepat. Selain itu, pengembalian modal bisa dipakai untuk membayar kewajiban kepada kreditur, baik perbankan maupun pemegang surat utang seperti obligasi dan sukuk. Saat ini, pemegang surat utang WIKA terdiri dari 206 investor perorangan, 88 lembaga dana pensiun, dan 154 lembaga keuangan.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa WIKA sedang dalam proses pemulihan dan penataan ulang bisnis. Fokus mereka adalah pada profitabilitas proyek, pengurangan utang, dan efisiensi operasional. Meskipun ada tantangan dari proyek kereta cepat, langkah-langkah yang diambil sejak 2023 mulai membuahkan hasil yang terukur.

WIKAkenaikan penjualankontrak barutransformasiprofitabilitaspengurangan utangefisiensi operasional

Komentar

Memuat komentar...