Yogyakarta Siapkan Sirkuit Permanen untuk Balap Nasional
Gambar atau konten salah?
Yogyakarta sudah lama dikenal sebagai tempat lahirnya pebalap nasional. Banyak yang kini menorehkan nama di kancah dunia, meski kota ini belum memiliki sirkuit yang layak. Beberapa pebalap yang berasal dari Yogyakarta dan sudah mendunia antara lain Doni Tata Pradipta, Galang Hendra, Veda Ega Pratama, Aldi Satya Mahendra, dan Kiandra Ramadhipa.
Veda Ega Pratama menjadi rider Indonesia pertama yang meraih podium di ajang Grand Prix. Ia menempati posisi ketiga di Moto3 GP Brasil, lalu kembali naik podium di MotoGP Prancis. Prestasi ini menandai langkah awal Veda di dunia balap internasional.
Kiandra Ramadhipa, yang berasal dari Sleman, Yogyakarta, baru saja mencuri perhatian di Red Bull Rookies Cup 2026 saat seri di Jerez. Pada race 2, ia memulai dari posisi ke-17 namun berhasil menjadi juara. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lintasan baru membuatnya menonjol di kalangan rekan sekelasnya.
Selain itu, Kiandra juga menorehkan kemenangan di FIM Moto3 Junior World Championship 2026 pada balapan di Estoril, Portugal. Ia memenangkan race 2 pada akhir pekan lalu, menambah daftar prestasinya di kancah internasional.
Aldi Satya Mahendra tidak kalah gemilang. Ia menempati posisi ketiga di WSSP 600 Superbike di Sirkuit Buriram pada seri tahun lalu. Pada seri berikutnya di sirkuit yang sama, Aldi meraih podium kedua. Tahun ini, ia kembali menempati podium ketiga di WSSP Superbike Italia pada akhir pekan lalu.
Walaupun prestasi pebalap Yogyakarta terus bertambah, masih ada keprihatinan. Pernyataan Veda Ega yang viral beberapa waktu lalu menjadi cermin masalah tersebut. “Wah, ternyata saya walaupun latihan di pasar sapi bisa sampai di sini ya,” kata Veda di media sosial TikTok. Pernyataan ini menyoroti kondisi latihan yang belum memadai di Yogyakarta.
Di Yogyakarta, tidak ada sirkuit permanen yang memadai. Para pebalap biasanya memanfaatkan lahan parkir Pasar Hewan Siyono atau lapangan parkir Stadion Mandala Krida. Jalur balap hanya diatur dengan ban bekas yang ditata sedemikian rupa, sehingga lintasan tidak memiliki aspal standar sirkuit. Kondisi ini membuat pebalap harus beradaptasi dengan lingkungan yang tidak ideal.
Sirkuit tempat latihan sangat penting untuk pembinaan. Jika Indonesia ingin menambah pebalap kelas dunia, trek balap wajib hukumnya. Pembangunan sirkuit di Yogyakarta memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan hal ini menjadi perhatian Komite Olahraga Nasional Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wesley Heince Parera Tauntu, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI DIY, mengungkapkan sudah ada informasi mengenai pembangunan sirkuit di Yogyakarta. “Informasi yang kami dapat ini sudah ada tempat yang sudah disiapkan. Kalau saya enggak salah informasinya daerah Ratu Boko ya sana, sekitar Prambanan situ. Ya mudah‑mudahan ini bisa terealisasi cepat,” kata Wesley. Ia menambahkan, “Harapannya memang perlu dukungan dari semua pihak untuk bisa merealisasikan sirkuit yang permanen untuk teman‑teman balap di DIY.”
Dengan fasilitas yang memadai, lebih banyak pebalap seperti Veda dan Kiandra dapat muncul dari Yogyakarta. Saat ini, kedua rider tersebut merupakan hasil binaan dari Astra Honda Racing School. Pembangunan sirkuit akan mengakhiri cerita pebalap dunia yang lahir dari “sirkuit” parkiran pasar hewan.
Ramadhipa menyambut baik kabar pembangunan sirkuit. Ia berharap agar sirkuit tersebut segera terealisasi. Saat ini, Ramadhipa lebih banyak berada di Eropa untuk mengikuti seri balapan Red Bull Rookies Cup 2026 dan FIM Moto3 Junior World Championship 2026. Namun, ia mengatakan, “Saya merasa senang kalau ada sirkuit tentunya. Itu membantu saya, fasilitasnya semakin tercukupi. Ya, semoga saja itu terealisasi,” jawabnya saat ditanya Senin (15 Juni 2024).
Ramadhipa juga menekankan pentingnya sirkuit bagi pelatihannya. “Saya merasa senang kalau ada sirkuit tentunya. Itu membantu saya, fasilitasnya semakin tercukupi. Ya, semoga saja itu terealisasi,” ia ulang. Ia berharap sirkuit tersebut dapat memudahkan persiapan ketika harus berlatih selama mudik.
Secara keseluruhan, Yogyakarta telah menunjukkan potensi besar dalam dunia balap. Namun, tanpa infrastruktur yang memadai, para pebalap harus menghadapi tantangan tambahan. Pembangunan sirkuit permanen di Yogyakarta menjadi langkah penting untuk mendukung generasi pebalap berikutnya dan memastikan bahwa bakat lokal dapat berkembang tanpa batas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bagnaia Jalani Operasi Lengan saat Libur MotoGP
BKB Rekrut Eks UFC, Incar Ekspansi ke Indonesia
Marc Marquez Yakin Motor 850cc Bisa Lebih Cepat di Sachsenring
Atlet Asian Games 2026 Tinggal di Kapal Pesiar
Veda Ega: Honda Unggul di Tikungan Cepat
Mario Aji dan Veda Ega Siap Balapan di MotoGP Mandalika
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
