Rupiah Melesah, Harga Obat Naik, Tekanan Apotek Kecil
Gambar atau konten salah?
Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS menimbulkan risiko kenaikan harga obat. Dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga menekan seluruh rantai industri farmasi.
Menurut Dicky Budiman, pengamat kesehatan global dari Griffith University, sebagian besar perusahaan farmasi menengah ke bawah terpaksa gulung tikar. Mereka tidak mampu membeli bahan baku obat, sehingga produksi terhenti.
Bagi apotek, tekanannya akan berlapis. “Bagi apotek, tekanannya akan berlapis karena harga beli obat naik dari distributor, sementara harga jual ke pasien sulit dinaikkan,” ujarnya pada 15 Juni 2026.
Selain kenaikan harga beli, modal kerja apotek tergerus karena harus membeli stok dengan biaya lebih tinggi. Ada pula persaingan dengan jaringan apotek besar yang memiliki daya tawar dan modal lebih kuat, tambahnya.
Solusi yang harus didorong menurut Dicky adalah kemudahan akses kredit usaha bagi apotek kecil. Ia juga menekankan perlunya jalur pembelian langsung ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) tanpa rantai distribusi panjang agar margin tetap terjaga.
Digitalisasi juga perlu dipercepat. “Selanjutnya, digitalisasi apotek juga perlu didorong dengan mengajak apotek kecil bergabung dengan platform telemedicine dan e‑farmasi sehingga volume transaksinya meningkat.” Ia menegaskan perlunya proteksi melalui asosiasi. “Proteksi melalui asosiasi juga penting. Jadi, Ikatan Apoteker Indonesia dan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia perlu lebih aktif mengadvokasi kebijakan yang melindungi apotek kecil,” katanya.
Selanjutnya, Dicky mengusulkan pembatasan ekspansi apotek waralaba besar di area tertentu. “Ini juga sebenarnya sudah diterapkan di beberapa negara untuk melindungi usaha kecil,” ujarnya.
Secara keseluruhan, ketidakstabilan nilai tukar menambah beban biaya bagi produsen dan distributor, sementara apotek kecil menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan ketersediaan obat bagi masyarakat. Peningkatan akses kredit, pembelian langsung, dan digitalisasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
BRIN Gandeng Modiva, Riset Antiperspiran Alami
Prabowo Umumkan Program Tukar Tambah Motor Listrik
Icomex Bursa Komoditas RI, Siap Operasi 2027
Prabowo Canangkan Bursa Mineral RI, Target Beroperasi 2027
Insentif Motor Listrik 1 Juta Unit Menanti PMK
6 dari 9 Terminal BBM Flores Beroperasi Pascagempa
Freeport Target Setor Rp 100 Triliun per Tahun ke Negara
Pertamina Potong Rp81 Per Liter BBM untuk NTT
Freeport Ajukan IUPK Baru, Operasi Tambang Terancam Berhenti 2041
Freeport Lepas 12% Saham Gratis ke RI, Berlaku 2041