Lina F. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Setelah Piala Eropa 2024, Timnas Swiss memasuki fase transisi. Banyak pemain kunci telah pensiun, termasuk kiper Yann Sommer, bek Fabian Schar, dan Xherdan Shaqiri, yang dikenal sebagai “Messi‑nya Swiss”. Granit Xhaka kini diharapkan bisa “menggendong” A‑Team.

Dengan pensiun mereka, Xhaka harus menanggung tanggung jawab penuh dalam skuad Swiss. Sebagai gelandang Sunderland, ia telah menjadi pemimpin di lapangan dan membawa tim nasional ke Piala Dunia 2026. Swiss menjuarai Grup B di kualifikasi zona Eropa, mengemas 14 gol dan hanya kebobolan dua kali dalam enam laga.

Di Premier League musim 2025/2026, Xhaka tampil luar biasa. Kedatangannya langsung membawa The Black Cats ke pentas Eropa, meski berstatus tim promosi dari Championship. Usianya 33 tahun, ia tidak mau Swiss menjadi penghibur di Piala Dunia. “Selama saya masih punya keinginan untuk menaklukkan prestasi baru, dan dengan tekad seluruh tim, saya akan turun ke lapangan. Kami ingin mewujudkan mimpi tim nasional Swiss,” ujarnya sebelum bertolak ke Amerika Serikat.

Swiss selalu kandas di babak 16 besar pada tiga edisi Piala Dunia sebelumnya. Xhaka, yang kini lebih dewasa, memikul tanggung jawab berbagi pengalaman dan semangat kompetitifnya dengan pemain muda. Mungkin ini penampilan Piala Dunia keempatnya, tetapi ia berjuang agar pulang dengan rasa bangga.

Laga pertama Swiss melawan Qatar di Grup B berlangsung di Levi’s Stadium, Santa Clara, Minggu, 14 Juni 2026 dini hari WIB. Pertandingan ini menandai awal perjalanan Swiss di turnamen dunia yang menantang.

Dengan banyaknya pensiun, Swiss harus menyesuaikan strategi. Xhaka menjadi tulang punggung, menggabungkan pengalaman internasional dan semangat juang. Piala Dunia 2026 menjadi ujian penting bagi tim ini untuk menegaskan kembali posisi mereka di kancah sepak bola dunia.

SwissXhakaPiala Dunia 2026Piala Eropa 2024pensiun pemain kunciPremier LeagueLevi’s Stadium

Komentar

Memuat komentar...