10 Muharram 2026: Dua Tanggal, Satu Makna Asyura

Andi B. · 5 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
10 Muharram 2026: Dua Tanggal, Satu Makna Asyura

Gambar atau konten salah?

Bulan Muharram selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Ini bukan sekadar bulan biasa dalam penanggalan Hijriah, melainkan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan, di mana setiap amal kebaikan mendapat ganjaran berlipat. Di antara seluruh hari dalam bulan ini, tanggal 10 Muharram menonjol sebagai titik paling penting, yang dikenal luas dengan sebutan Hari Asyura. Nama "Asyura" sendiri berasal dari kata "asyara", yang berarti sepuluh dalam bahasa Arab. Hari ini bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan hari yang sarat dengan makna spiritual dan sejarah. Umat Islam dianjurkan untuk mengisi hari ini dengan berbagai amalan sunnah, dan yang paling utama adalah menjalankan puasa Asyura. Puasa ini memiliki keutamaan yang luar biasa, disebutkan dalam hadits dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Namun, sebelum membahas amalan, pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: kapan tepatnya 10 Muharram 2026? Jawabannya ternyata tidak sesederhana satu tanggal, karena perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia. **Perbedaan Tanggal 10 Muharram 1448 H** Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, 10 Muharram 1448 H jatuh pada hari **Kamis, 25 Juni 2026**. Tanggal ini juga sejalan dengan ketetapan yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem penanggalan yang disepakati secara internasional. Namun, ada perbedaan pendapat. Nahdlatul Ulama (NU), melalui Lembaga Falakiyah Pengurus Besar NU (LF PBNU), memiliki perhitungan yang berbeda. Mereka menetapkan bahwa 1 Muharram 1448 H jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Surat resmi bernomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026 yang menjelaskan rukyah Hilal Muharram menjadi dasar keputusan ini. Konsekuensinya, 10 Muharram versi NU jatuh sehari lebih lambat, yaitu pada **Jumat, 26 Juni 2026**. Perbedaan ini bukanlah hal baru. Ini adalah hasil dari perbedaan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyah (pengamatan langsung hilal) yang sudah lama menjadi tradisi ilmiah di Indonesia. Intinya, umat Islam bisa memilih untuk mengikuti salah satu dari dua tanggal tersebut, sesuai dengan keyakinan dan pedoman organisasi atau lembaga keagamaan masing-masing. **Amalan yang Dianjurkan di Hari Asyura** Hari Asyura bukan hanya tentang puasa. Ada banyak amalan lain yang dianjurkan, sebagaimana dihimpun dalam buku *Kalender Ibadah Sepanjang Tahun* karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid. Amalan-amalan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani perjuangan para nabi. Berikut beberapa di antaranya: * **Berpuasa Asyura:** Ini adalah amalan utama. Niatnya bisa digabung dengan puasa Tasua (9 Muharram) atau puasa 11 Muharram untuk membedakan diri dengan tradisi Yahudi. * **Membaca Doa Asyura:** Doa khusus yang dibaca pada tanggal 10 Muharram, berisi permohonan perlindungan dan keberkahan. * **Mengusap Kepala Anak Yatim:** Sebuah amalan yang sangat dianjurkan, dengan janji pahala yang besar. Mengusap kepala mereka dengan penuh kasih sayang adalah simbol nyata dari kepedulian sosial. * **Memuliakan Fakir Miskin:** Memberikan santunan, makanan, atau pakaian kepada mereka yang kurang mampu. * **Memberikan Ilmu atau Kemanfaatan:** Ini bisa berupa hal sederhana seperti menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau hal yang lebih besar seperti mengajarkan ilmu. * **Bershadaqah:** Memberikan sedekah dalam bentuk apapun, baik uang, makanan, atau senyuman. * **Melapangkan Nafkah:** Membelanjakan lebih banyak untuk keluarga, terutama untuk hadiah bagi anak dan istri. * **Mandi Sunnah:** Mandi dengan niat khusus untuk menyambut hari yang mulia. * **Bercelak (Memakai Celak Mata):** Meski terkesan sepele, ini adalah amalan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. * **Menjamu Orang yang Berbuka Puasa:** Memberikan makanan atau minuman kepada mereka yang menjalankan puasa Asyura. * **Memperbanyak Shalat Sunnah:** Khususnya shalat sunnah empat rakaat dengan tata cara tertentu. * **Membaca *Hasbunallah Wani'mal Wakil*:** Dzikir yang sangat kuat, memohon kecukupan dan pertolongan hanya dari Allah. * **Membaca Surat Al-Ikhlas 1000 Kali:** Amalan yang dipercaya memiliki keutamaan besar. * **Melaksanakan Shalat Tasbih:** Shalat sunnah yang penuh dengan bacaan tasbih. * **Silaturahim:** Menjalin dan mempererat hubungan dengan semua orang, sanak keluarga, tetangga, dan terutama para ulama atau ahli ilmu. **Keistimewaan 10 Muharram dalam Sejarah** Mengapa tanggal 10 Muharram begitu istimewa? Jawabannya terletak pada rentetan peristiwa monumental yang terjadi pada hari ini, sebagaimana dicatat dalam sejarah Islam. Peristiwa-peristiwa ini bukanlah sekadar dongeng, melainkan tonggak sejarah yang menunjukkan kekuasaan dan pertolongan Allah. Berikut beberapa peristiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram: 1. **Nabi Adam 'alaihissalam** diterima tobatnya oleh Allah. Setelah sekian lama berpisah karena dosa, pertobatan beliau diterima pada hari yang mulia ini. 2. **Kapal Nabi Nuh 'alaihissalam** berlabuh dengan selamat di bukit Zuhdi. Setelah banjir bandang yang dahsyat menghancurkan peradaban yang durhaka, kapal ini menjadi simbol keselamatan bagi orang-orang beriman. 3. **Nabi Ibrahim 'alaihissalam** selamat dari kobaran api Raja Namrud. Api yang membakar justru menjadi dingin dan menyelamatkan beliau, sebuah mukjizat yang nyata. 4. **Nabi Yusuf 'alaihissalam** dibebaskan dari penjara Mesir. Setelah bertahun-tahun difitnah dan dipenjara, kebenaran akhirnya terungkap dan beliau dibebaskan. 5. **Nabi Yunus 'alaihissalam** keluar dengan selamat dari perut ikan hiu. Setelah ditelan karena meninggalkan tugas dakwahnya, beliau diselamatkan dan kembali ke daratan. 6. **Nabi Ayyub 'alaihissalam** disembuhkan Allah dari penyakit kulit yang menjijikkan. Setelah bertahun-tahun menderita, kesabaran beliau berbuah kesembuhan yang sempurna. 7. **Nabi Musa 'alaihissalam** dan kaum Bani Israil (sekitar 500 ribu orang) selamat dari kejaran Fir'aun di Laut Merah. Laut terbelah, Fir'aun dan pasukannya tenggelam, sementara umat Nabi Musa selamat menyeberang menuju Gurun Sinai. Semua peristiwa ini, dari tobat hingga keselamatan, terjadi pada satu hari yang sama: 10 Muharram. Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti bahwa Allah telah memilih hari ini sebagai hari di mana rahmat dan pertolongan-Nya turun secara istimewa. **Kesimpulan Kontekstual** Perbedaan tanggal 10 Muharram antara pemerintah dan NU (25 vs 26 Juni 2026) adalah realitas yang harus diterima dengan lapang dada. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, melainkan soal perbedaan metodologi (hisab vs rukyah) yang sama-sama memiliki dasar ilmiah dan syariat. Yang terpenting, umat Islam tetap memiliki kesempatan untuk meraih keutamaan hari ini, baik dengan berpuasa pada tanggal 25 atau 26 Juni, atau bahkan pada kedua tanggal tersebut untuk berhati-hati. Lebih dari sekadar perdebatan tanggal, esensi 10 Muharram adalah momentum untuk merenungkan kembali bagaimana Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang beriman dan bertawakal. Peristiwa-peristiwa besar di masa lalu mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir, melainkan awal dari pertolongan. Hari Asyura mengingatkan kita untuk tidak pernah putus asa dari rahmat Allah, dan untuk terus berbuat baik, baik kepada diri sendiri maupun kepada sesama.
Bulan Muharram10 MuharramHari AsyuraPuasa AsyuraTanggal 10 Muharram 2026Perbedaan hisab dan rukyahAmalan sunnah

Komentar

Memuat komentar...