17% Pekerja Malaysia Alami Gangguan Psikososial
Gambar atau konten salah?
Sebuah survei nasional di Malaysia mengungkap bahwa hampir 17 persen pekerja mengalami gangguan psikososial akibat pekerjaan mereka. Survei yang berlangsung dari tahun 2023 hingga 2025 ini melibatkan 100.000 pekerja di tujuh sektor industri tertentu. Data tersebut dikumpulkan melalui Program Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Nasional.
Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, R Ramanan, menjelaskan bahwa angka 16,91 persen itu mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Ia menyebut beberapa faktor utama pemicu gangguan psikososial di lingkungan kerja dengan intensitas tinggi. Faktor-faktor itu antara lain beban kerja yang terlalu berat, ritme kerja yang terlalu cepat, dan tekanan tenggat waktu yang terus-menerus.
Selain faktor konvensional, Ramanan juga menyoroti ancaman baru yang disebut teknostres. Kondisi ini muncul akibat ketergantungan tinggi pada teknologi digital, paparan berlebihan terhadap perangkat digital, serta kesulitan pekerja beradaptasi dengan penggunaan teknologi yang berlangsung tanpa henti di tempat kerja. Teknostres kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental pekerja, terutama di era digital.
Menurut Ramanan, temuan survei ini memberikan data empiris penting bagi kementeriannya. Data tersebut akan digunakan untuk merumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif. Ia menyampaikan hal itu saat menjawab pertanyaan di parlemen. Pertanyaan itu berkaitan dengan perkiraan kerugian produktivitas akibat banyaknya pekerja yang mengalami kecemasan hingga stres mental di tempat kerja.
Survei ini mengevaluasi bahaya psikososial di lingkungan kerja secara spesifik. Tujuh sektor industri yang terlibat tidak disebutkan secara rinci, namun data ini menjadi dasar bagi pemerintah Malaysia untuk merancang kebijakan perlindungan pekerja. Gangguan psikososial sendiri mencakup masalah seperti stres berat, kecemasan, dan tekanan mental yang berujung pada penurunan produktivitas.
Dengan angka hampir 17 persen, artinya sekitar satu dari enam pekerja di Malaysia mengalami masalah kesehatan jiwa akibat pekerjaan. Ini menjadi alarm bagi perusahaan dan pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Data dari program pencegahan penyakit akibat kerja ini diharapkan mampu mendorong perubahan kebijakan di tingkat nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
