BPOM: Indonesia Bisa Jadi Negara Pertama dengan Vaksin mRNA DBD

Agus P. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
BPOM: Indonesia Bisa Jadi Negara Pertama dengan Vaksin mRNA DBD

Gambar atau konten salah?

Indonesia berpeluang menjadi negara pertama di dunia yang berhasil mengembangkan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD). Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengonfirmasi bahwa vaksin ini tengah dalam tahap pengembangan dan diklaim bisa menjadi yang pertama secara global.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa lembaganya berkomitmen penuh mendukung pengembangan vaksin ini hingga bisa masuk ke tahap uji klinis dan akhirnya digunakan oleh masyarakat luas.

"Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," kata Taruna dalam konferensi pers pada Rabu, 08 Juli 2026.

Menurut Taruna, pengembangan vaksin dengue menjadi sangat penting. Sebab, hingga saat ini belum ada terapi yang benar-benar spesifik untuk mengobati penyakit tersebut. Ia lalu menceritakan pengalamannya saat menjalani pendidikan spesialis di University of California, Irvine. Di sana, ia menangani seorang pasien yang terinfeksi dengue sepulang dari Asia Tenggara.

"Banyak rekan saya di sana belum memiliki pengalaman menangani penyakit tersebut. Tetapi saya teringat pengalaman bekerja di Indonesia, termasuk saat bertugas di puskesmas, di mana kami cukup sering menangani pasien demam berdarah," ujarnya.

Taruna menjelaskan, penanganan dengue pada dasarnya berfokus pada menjaga demam tetap terkendali dan mencegah dehidrasi. Pendekatan itu berhasil ia terapkan hingga pasiennya pulih. Pengalaman itu, kata Taruna, menunjukkan bahwa Indonesia adalah tempat yang sangat strategis untuk riset dengue. Tingginya jumlah kasus membuat tenaga kesehatan dan peneliti Indonesia memiliki pengalaman klinis yang berharga.

"Kalau ini bisa berhasil bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi juga seluruh dunia akan berdampak," katanya.

Taruna menegaskan bahwa peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue yang dilakukan saat ini masih merupakan langkah awal. Vaksin tersebut masih harus melalui serangkaian pengujian, terutama uji klinis, sebelum bisa digunakan secara luas. Sebagai regulator, BPOM akan memastikan setiap vaksin yang beredar memenuhi tiga syarat utama: terbukti aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik.

Meski begitu, BPOM tidak ingin regulasi justru menghambat lahirnya inovasi. "Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegas Taruna.

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, mengatakan vaksin saat ini masih berada pada tahap uji praklinis. Meski begitu, hasil awal menunjukkan respons imun yang cukup menjanjikan.

"Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Beti berharap dalam enam bulan ke depan penelitian bisa berlanjut ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia. "Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia dan semoga hasilnya seimbang juga dengan hasil pre-clinical trial," katanya.

Apabila seluruh tahapan penelitian berjalan sesuai rencana, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah demam berdarah. Ini bisa menjadi tonggak baru bagi pengembangan teknologi vaksin di Indonesia dan dunia.

Vaksin mRNA bekerja dengan cara mengajarkan sel tubuh untuk membuat protein yang memicu respons imun. Teknologi ini sudah terbukti sukses pada vaksin COVID-19. Jika berhasil, vaksin dengue berbasis mRNA bisa menjadi terobosan besar karena demam berdarah selama ini belum memiliki vaksin yang benar-benar efektif dan aman secara luas. Indonesia, dengan jumlah kasus DBD yang tinggi, menjadi lokasi uji yang ideal untuk pengembangan vaksin semacam ini.

vaksin mRNAdemam berdarah dengueBPOMpengembangan vaksinuji klinisIndonesiaEtana Biotechnologies

Komentar

Memuat komentar...