22 Calon Pengantin di Sidoarjo Positif HIV

Endah K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
22 Calon Pengantin di Sidoarjo Positif HIV

Gambar atau konten salah?

Sebuah temuan yang cukup mengejutkan datang dari Kabupaten Sidoarjo. Hingga awal Juni 2026, sebanyak 22 calon pengantin dinyatakan positif mengidap HIV. Angka ini terdiri dari 12 laki-laki dan 10 perempuan. Informasi ini disampaikan langsung oleh Ferry Efendi, yang menjabat sebagai Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC) Sidoarjo.

"Kami menemukan 22 calon pengantin positif HIV hingga Juni 2026. Rinciannya 12 orang laki-laki dan 10 orang perempuan," kata Ferry pada Selasa, 23 Juni 2026.

Menurut Ferry, temuan ini bukan sekadar angka. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini bisa memicu munculnya kasus HIV baru setelah pasangan tersebut resmi menikah. Risiko itu muncul terutama jika pasangan yang masih negatif HIV tidak mendapatkan edukasi dan pendampingan yang cukup.

"Artinya saat mereka menikah, akan dimungkinkan muncul kasus positif HIV baru apabila tidak segera dilakukan edukasi dan intervensi secara komprehensif kepada pasangan tersebut," ujarnya.

Ferry juga mengungkapkan satu fakta penting lainnya. Hingga saat ini, tes HIV belum menjadi syarat wajib dalam proses pernikahan di Indonesia. Calon pengantin biasanya hanya diminta untuk melampirkan surat keterangan kesehatan. Pemeriksaan HIV sendiri masih bersifat sukarela, artinya tidak ada paksaan.

Kondisi ini, lanjut Ferry, membuat ada kemungkinan sejumlah calon pengantin dengan status HIV positif belum terdeteksi. Mereka bisa saja melewati proses pernikahan tanpa diketahui status kesehatannya.

"Jika calon pengantin menolak tes HIV, maka tidak bisa diketahui apakah status HIV mereka positif atau negatif. Padahal ada kemungkinan kasus-kasus seperti ini belum terungkap," katanya.

Ferry menilai temuan 22 calon pengantin ini hanyalah gambaran dari fenomena gunung es atau iceberg phenomenon. Dalam fenomena ini, jumlah kasus yang terlihat di permukaan jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah sebenarnya yang ada di masyarakat. Artinya, mungkin masih banyak kasus lain yang belum terdeteksi.

"Angka 22 kasus mungkin terlihat kecil, tetapi ini merupakan bagian dari fenomena gunung es. Kasus yang muncul ke permukaan kemungkinan jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat," jelasnya.

Karena itu, Ferry menekankan pentingnya keterbukaan soal status kesehatan kepada pasangan sebelum menikah. Langkah ini, menurutnya, menjadi salah satu kunci utama untuk mencegah penularan HIV. Dengan keterbukaan, upaya pencegahan bisa dilakukan lebih awal dan bisa menekan jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) baru.

"Pasangan harus saling terbuka terkait status kesehatannya sebelum menikah. Dengan begitu langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal," ungkapnya.

Meski begitu, Ferry menegaskan bahwa pasangan dengan status HIV berbeda—atau disebut serodiskordan—tetap bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan aman. Syaratnya, mereka harus mengikuti program pencegahan secara konsisten.

"Jika pernikahan tetap dilanjutkan atas dasar cinta, maka pasangan yang negatif harus siap memberikan dukungan kepada pasangannya yang positif dan bersedia mengikuti program pencegahan secara komprehensif," tegasnya.

Dalam hubungan suami istri, pasangan dengan status HIV berbeda dianjurkan untuk menggunakan kondom. Ini bertujuan mengurangi risiko penularan. Selain itu, pasangan yang masih negatif juga bisa mengikuti program Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). Program ini memberikan obat antiretroviral (ARV) bagi individu yang belum terinfeksi HIV namun memiliki risiko tinggi tertular.

"Pemeriksaan HIV secara berkala, minimal enam bulan sekali, juga penting dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan pasangan," tambah Ferry.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Delta mencapai 7.129 kasus hingga April 2026. Angka ini terus bertambah setiap tahun. Karena itu, upaya deteksi dini, edukasi, dan pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran HIV di masyarakat.

Secara keseluruhan, temuan 22 calon pengantin ini menunjukkan bahwa masih ada celah besar dalam sistem pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan. Tes HIV yang bersifat sukarela membuat banyak kasus mungkin tidak terlihat. Padahal, keterbukaan dan deteksi dini bisa menjadi kunci untuk mencegah penularan lebih luas. Fenomena gunung es ini mengingatkan bahwa angka yang terlihat kecil belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

HIVcalon pengantinSidoarjotes sukarelafenomena gunung espencegahanPrEP

Komentar

Memuat komentar...