7.000 Buruh di Pasuruan dan Mojokerto Terancam PHK Akibat Pabrik Pindah ke Vietnam

Yuli S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
7.000 Buruh di Pasuruan dan Mojokerto Terancam PHK Akibat Pabrik Pindah ke Vietnam

Gambar atau konten salah?

Dua pabrik komponen otomotif di Jawa Timur, tepatnya di Pasuruan dan Mojokerto, berniat memindahkan sebagian jalur produksinya ke Vietnam. Rencana ini bukan soal pabrik tutup total, melainkan pergeseran sebagian lini produksi. Konsekuensinya? Bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menyasar sekitar 7.000 buruh.

Said Iqbal, Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, menjelaskan situasinya. Keputusan pindah ini, katanya, datang dari prinsipal—istilah untuk pemilik atau induk perusahaan di Jepang. Perubahan arah bisnis mereka ke produksi mobil listrik menjadi pemicunya. Bukan karena Indonesia tidak menarik untuk investasi. "Mereka menyatakan tidak, menarik. Buktinya apa? Mereka tetap ada, cuma sebagian dipindahkan. Tapi nampaknya mungkin ini tentang strategi bisnis," ujar Said di Jakarta Pusat, Selasa, 23 Juni 2026, setelah Rapat Kerja Nasional KSPI.

Menghadapi ini, Said—yang juga menjabat Presiden Partai Buruh dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)—sudah bergerak. Pihaknya melakukan langkah mitigasi agar rencana itu batal. Salah satu caranya: meminta serikat buruh di bawah naungannya terus bernegosiasi dengan manajemen kedua pabrik di Jawa Timur. Tujuannya, meyakinkan induk usaha di Jepang untuk mengurungkan niat.

Tak cuma itu. Said juga berencana meminta bantuan serikat buruh di Jepang. Mereka diminta ikut meyakinkan dua perusahaan terkait agar tetap mempertahankan lini produksinya di Indonesia. "Kita akan meyakinkan prinsipal juga melalui manajemen yang ada di Pasuruan dan Mojokerto ini untuk meyakinkan prinsipal di Jepang. Saya juga akan menggunakan jalur internasional Serikat buruh Jepang agar mereka tidak pindah ke Vietnam," paparnya.

Langkah lain, Said sudah mengarahkan serikat pekerja untuk melibatkan pemerintah dalam negosiasi. Tanpa bantuan nyata dari pemerintah, menurutnya, sulit membujuk induk usaha di Jepang. "Kalau perlu kita temui Presiden melalui Menteri Perindustrian, kita temui DPR melalui bang Dasco apa yang menjadi kesulitan-kesulitan pindah ke Vietnam? Sepertinya ada keputusan prinsipal. Nah kalau prinsipal di Jepang kan agak sulit. Mereka harus G to G, government to government," jelas Dasco.

Proses negosiasi ini, kata Said, sudah berlangsung hampir setahun. Perusahaan masih berunding dengan serikat pekerjanya. "Sudah hampir setahun negosiasi itu," sebutnya. Dan proses ini akan terus berlanjut, selama masih ada waktu.

Intinya, rencana pemindahan ini bukan soal dadakan. Sudah setahun negosiasi berjalan. Keterlibatan pemerintah dan serikat buruh di Jepang jadi kunci. Semua diupayakan agar 7.000 buruh di Pasuruan dan Mojokerto tidak kehilangan pekerjaan.

pemindahan produksiPHKotomotifVietnamserikat buruhnegosiasimobil listrik

Komentar

Memuat komentar...