5 Potongan Steak Tidak Cocok Dimakan Rare, Medium Disarankan

Ani R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
5 Potongan Steak Tidak Cocok Dimakan Rare, Medium Disarankan

Gambar atau konten salah?

Di restoran steak, pelanggan sering kali menemukan beragam potongan daging sapi yang dapat dipilih. Namun, tidak semua potongan tersebut cocok untuk dimasak atau dinikmati dalam kondisi mentah atau *rare*. Beberapa potongan mengandung jaringan otot dan lemak yang lebih padat, sehingga memerlukan waktu memasak yang lebih lama agar teksturnya menjadi empuk dan juicy.

Perbedaan kualitas daging ini berasal dari bagian tubuh sapi yang menjadi sumber potongan. Setiap area tubuh menghasilkan serat otot dan lemak yang berbeda, sehingga memengaruhi cara daging tersebut harus diproses. Untuk menghindari rasa kenyal atau tekstur keras, para chef biasanya menyarankan tingkat kematangan *medium* atau *medium rare* pada potongan-potongan tertentu.

Berikut adalah lima potongan steak yang sebaiknya tidak dimasak atau dinikmati dalam kondisi *rare*:

1. Chuck atau sampil

Potongan ini berasal dari area punuk, termasuk bahu, leher, dan bagian atas paha. Karena sering bergerak, serat otot di dalamnya padat dan memiliki tekstur yang agak liat. “Jaringan ikat dan struktur intramuskular membutuhkan waktu memasak lebih lama untuk melunak. Jika tidak, daging tersebut akan cenderung lebih kenyal daripada empuk.” ujar Danny Grant, chef eksekutif dan mitra Maple Hospitality Group. Chef Stephen Sandoval juga menegaskan bahwa “potongan daging sampil tidak ideal untuk dimakan dalam kondisi mentah atau setengah matang. Alasannya juga karena bagian tersebut mengandung banyak otot yang sering dipakai sapi selama hidup, sehingga membangun banyak jaringan ikat dan kolagen.” Karena alasan tersebut, banyak koki menyarankan memasak potongan ini dengan metode slow‑cook pada suhu rendah, sehingga lemak dan kolagen dapat larut dan daging menjadi lebih lembut.

2. Flank atau sancan belakang

Flank mencakup area perut di bawah short loin dan sirloin. Serat dagingnya padat, dan kandungan lemak lebih sedikit dibandingkan sancan depan. Jika disajikan dalam kondisi *rare*, seratnya akan terasa lebih kenyal, menyerupai permen karet. Chef Jess Pryles menyatakan bahwa “rasanya juga akan sedikit kurang tajam jika disajikan rare.” Ia menyarankan agar, bila tetap ingin menikmati flank dalam kondisi *rare*, potongan daging harus diiris setipis mungkin agar kekerasan dan seratnya berkurang. Meskipun demikian, banyak restoran tetap merekomendasikan tingkat kematangan *medium* untuk hasil terbaik.

3. Hanger steak

Hanger steak berasal dari otot diafragma yang menggantung di antara rusuk terakhir dan pinggang sapi. Meskipun otot ini tidak bekerja terlalu berat, potongan ini tetap mengandung jaringan ikat yang cukup banyak. Chef Gustavo Montes mengatakan bahwa “daging ini tidak dipesan dalam kondisi rare. Potongan hanger disebut mengandung lebih banyak jaringan ikat dan serat otot lebih panjang yang membuatnya kenyal dan kurang nikmat jika disajikan dalam kondisi rare.” Untuk mendapatkan tekstur yang lebih baik, ia menekankan pentingnya memotong daging melawan arah serat. Menurut Montes, “idealnya daging dimasak hingga tingkat kematangan medium rare.”

4. Skirt steak

Skirt steak juga berasal dari otot diafragma, terletak di bawah tulang rusuk atau area dada dan perut. Seratnya tebal dan otot bekerja lebih keras, sehingga potongan ini cenderung keras jika dimakan mentah. “Potongan daging sapi ini tidak cocok disajikan dalam kondisi mentah.” Para koki biasanya merekomendasikan memasak skirt steak pada suhu tinggi dan waktu singkat agar tetap juicy, namun tetap menghindari kondisi *rare*. Karena ketebalan seratnya, steak ini lebih baik dimasak pada tingkat kematangan *medium* atau *medium rare*.

5. Tri‑tip

Tri‑tip adalah potongan daging sapi tanpa tulang yang berasal dari bagian bawah sirloin, tepatnya ujung bawah belakang hewan. Daging ini dikenal memiliki rasa gurih, berserat, dan marbling yang baik. Namun, lemak di dalamnya memerlukan waktu untuk melunak. Chef Jess Pryles menekankan bahwa “potongan ini bisa menjadi keras jika tidak dimasak sampai matang.” Ia merekomendasikan tingkat kematangan *medium rare* agar lemak dapat larut dan daging menjadi empuk. Karena ujungnya yang tebal, tri‑tip memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai kematangan yang diinginkan dibandingkan potongan daging lainnya.

Secara umum, potongan-potongan steak yang berasal dari otot-otot yang sering bergerak atau memiliki jaringan ikat yang lebih banyak cenderung tidak cocok untuk dimasak dalam kondisi *rare*. Menyesuaikan tingkat kematangan dengan karakteristik potongan dapat menghasilkan daging yang lebih empuk, juicy, dan nikmat. Para chef profesional sering menekankan pentingnya memotong daging melawan arah serat dan memilih metode memasak yang tepat, seperti slow‑cook atau memasak pada suhu tinggi namun dalam waktu singkat.

Dengan memahami karakteristik setiap potongan, pelanggan dapat membuat pilihan yang lebih bijak ketika memesan steak di restoran. Memilih tingkat kematangan yang sesuai tidak hanya meningkatkan rasa, tetapi juga memastikan tekstur daging tetap lembut dan tidak kenyal. Kunci utamanya adalah kesadaran bahwa tidak semua daging cocok dimakan mentah, dan penyesuaian metode memasak sangat penting untuk menikmati steak dengan kualitas terbaik.

potongan steaktingkat kematanganjaringan ototkolagenslow-cookmedium rareempuk

Komentar

Memuat komentar...