Pastri Lipat: Karya Dokter Retired Bawa Kenangan Keluarga
Gambar atau konten salah?
Pada hari Minggu pagi, 14 Juni 2026, aroma mentega hangat langsung menyambut ketika pintu kedai Pastri Lipat terbuka. Dari balik etalase kaca, deretan pastri berlapis tersusun rapi dengan beragam pilihan rasa. Sebagian pengunjung sibuk menentukan menu, sementara yang lain menikmati kopi sambil bercengkerama.
Bangunan dua lantai bergaya kolonial yang menampung Pastri Lipat langsung mencuri perhatian. Dinding dan bukaan jendelanya masih mempertahankan nuansa klasik yang serasi dengan kawasan Pecinan Pasar Gede, salah satu pusat perdagangan tertua di Solo yang telah hidup selama lebih dari satu abad.
Usaha ini dirintis oleh seorang dokter spesialis anak, Eva Musdalifah. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 1993 dan dokter spesialis anak lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) 2008, beliau tengah menyiapkan aktivitas baru untuk memasuki masa pensiun. Namun, keputusan membuka Pastri Lipat bukan semata‑mata soal mencari kesibukan setelah tak lagi praktik sebagai dokter.
Alasan di balik usaha tersebut sangat personal. Eva tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan aktivitas memasak. Sejak kecil, ia kerap membantu sang ibu membuat berbagai jenis makanan dan kue tradisional. “Saya memang tidak berlatar belakang F&B, tetapi sejak kecil biasa membantu memasak. Ibu saya pandai membuat kue,” tutur Eva kepada detikfood.
Dari sekian banyak kue yang pernah dibuat ibunya, ada satu yang paling membekas dalam ingatannya, yakni Grem. Kudapan tradisional berisi kacang itu menjadi salah satu makanan favoritnya semasa kecil. Kenangan terhadap Grem tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Bagi Eva, kue tersebut menjadi pengingat bahwa makanan selalu menyimpan cerita, emosi, dan ikatan keluarga. Pemahaman itulah yang kemudian mendorongnya menghadirkan usaha kuliner yang tidak sekadar menjual makanan, tetapi juga membawa kembali kenangan melalui cita rasa. “Jadi ini bukan soal roti, tetapi soal memanggil kembali kenangan lama,” ujarnya.
Meskipun tidak menghadirkan Grem secara langsung di etalase, semangat yang terkandung dalam kue tradisional itu menjadi fondasi utama Pastri Lipat. Eva berupaya menerjemahkan cita rasa yang akrab di lidah masyarakat Indonesia ke dalam bentuk pastri yang lebih modern. Semangat tersebut juga tercermin dalam pemilihan bahan baku. Sebagian besar kebutuhan dapur diperoleh dari para pedagang di Pasar Gede, mulai dari daging ayam, daging sapi, pisang, ubi ungu, hingga bahan‑bahan untuk dawet.
Konsep lokalitas itu kemudian diterjemahkan menjadi berbagai varian pastri dengan sentuhan rasa Nusantara. Belasan menu tersedia di etalase, mulai dari Pisang Cokelat, Keju, Stroberi, Sapi Lada Hitam, Sosis Pedas, Timus Ketan Legam, hingga Pastri Lipat Dawet. Pastri Lipat Dawet menjadi yang paling banyak disukai sejauh ini, ujar Fafa, staf Pastri Lipat.
Perpaduan dawet dengan pastri berlapis memang terdengar tidak lazim. Dawet yang identik sebagai minuman tradisional berbahan santan, gula aren, dan cendol diolah menjadi isian yang berpadu dengan lapisan pastri renyah. Keunikan itulah yang membuat banyak pelanggan penasaran untuk mencobanya.
Di balik etalase, aktivitas dapur berlangsung nyaris tanpa jeda. Para pegawai terus melayani pelanggan yang datang silih berganti, sementara oven bekerja sejak dini hari. “Semua pastri yang kami jual dibuat pada hari yang sama. Sejak pukul empat pagi tim dapur sudah mulai bekerja, sementara oven terus menyala hingga toko tutup. Kami ingin memastikan setiap pastri yang sampai ke tangan pelanggan tetap segar dan memiliki kualitas terbaik,” kata Eva.
Komitmen tersebut terlihat dari pastri yang tersaji di etalase. Lapisan‑lapisannya mengembang sempurna dengan warna keemasan yang menggoda. Saat digigit, teksturnya renyah di luar namun tetap lembut di bagian dalam.
Salah satu yang menikmati pengalaman itu adalah Esty, pelancong asal Depok, yang pagi itu datang bersama kedua putranya. Di meja mereka tersaji Pastri Lipat Dawet dan Pastri Lipat Pisang Cokelat. Sesekali mereka saling bertukar gigitan untuk mencicipi menu yang berbeda. “Unik sih. Dawet biasanya minuman, ini kok jadi isian pastri. Ternyata memang enak,” kata Esty. Menurutnya, karakter dawet tetap terasa meski hadir dalam bentuk yang berbeda. Perpaduan manis gula aren dan aroma santan muncul dengan pas tanpa terasa berlebihan.
Sementara itu, perhatian Rakha Mukti, putranya, justru tertuju pada minuman yang menemani sarapan mereka. “Kopinya juga beda karena ada campuran kayu manis,” ujarnya. Saat diseruput, aroma rempah memang hadir tipis di antara karakter kopi yang lembut. Tidak mendominasi, tetapi cukup memberi sentuhan hangat yang membuat rasanya lebih berkarakter.
Menjelang siang, suasana kedai semakin ramai. Sebagian pengunjung memilih berlama‑lama menikmati kopi dan pastri, sementara yang lain langsung menuju etalase untuk membeli oleh‑oleh. Esty termasuk salah satunya. Sebelum pulang, ia kembali menghampiri etalase dan memperhatikan satu per satu pilihan pastri yang tersusun di balik kaca. Setelah beberapa saat menentukan pilihan, ia memesan beberapa potong pastri untuk dibawa pulang. “Biar ibu dan adik‑adik saya ikut menikmati,” katanya.
Pemandangan serupa terlihat di sejumlah sudut kedai. Tak sedikit pengunjung yang awalnya datang untuk sarapan atau sekadar menikmati secangkir kopi, lalu pulang sambil menenteng kotak‑kotak pastri.
Di bangunan tua yang berdiri di jantung Pasar Gede itu, Eva tampaknya berhasil mewujudkan sesuatu yang sejak lama ia impikan. Bukan sekadar usaha untuk mengisi masa pensiun kelak, melainkan ruang yang mempertemukan kenangan masa kecil, cita rasa tradisional, dan selera masa kini melalui lapisan‑lapisan pastri yang hangat keluar dari oven setiap pagi.
Keberhasilan Pastri Lipat terletak pada kombinasi sederhana: bahan lokal, resep yang menyentuh nostalgia, dan proses pembuatan yang konsisten. Dengan menjaga kualitas setiap pastri dan menawarkan variasi rasa yang tak terduga, kedai ini menjadi tempat yang menarik bagi siapa saja yang mencari sensasi rasa baru sekaligus kenangan lama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kuliner Betawi Menipis, Mantan Pramugari Jadi Penjual Ikan
Es Buah Jelly: Rasa Segar Leci dan Buah Asam Manis
Kebakaran Hutan di Kalimantan Terkendali, 12 Pemukim Evakuasi
Cara Mudah Membuat Cold Brew Kopi di Rumah Langkah Praktis
Michael Symon Tunjukkan Cara Mudah Membuat Telur Ceplok
Warisan Kuliner Betawi Diperingati di HUT Jakarta 2024 Raya
Berita Terbaru
Pastri Lipat: Karya Dokter Retired Bawa Kenangan Keluarga
Messi Tembus Rekor 16 Gol, Kalahkan Aljazair 3–0 Di KC
Haaland Dua Gol, Norway Menang 4-1 di Piala Dunia 2026
Messi Mencetak 3 Gol, Argentina Kalahkan Aljazair 3-0
Yum! Brands jual Pizza Hut, LongRange beli unit luar China
Bupati Sidoarjo Dorong Anggota Koperasi Desa Merah Putih
Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akan Cair Akhir Juni 2026