Kuliner Betawi Menipis, Mantan Pramugari Jadi Penjual Ikan

Teguh A. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kuliner Betawi Menipis, Mantan Pramugari Jadi Penjual Ikan

Gambar atau konten salah?

Jakarta dikenal dengan ragam kuliner yang terus berkembang, namun di balik tren makanan kekinian masih ada hidangan tradisional yang tetap bertahan. Pada 16 Juni 2026, perhatian publik tertuju pada beberapa makanan Betawi yang mulai jarang ditemui, serta kisah unik mantan pramugari yang kini menjual ikan di pasar.

Sayur babanci, sayur besan, bubur ase, dan gabus pucung adalah contoh hidangan Betawi yang kini sulit ditemukan. Sayur babanci berkuah santan dengan daging sapi dan rempah lengkap memerlukan proses memasak yang rumit. Sayur besan, yang biasanya disajikan di acara pernikahan Betawi, menggunakan terubuk – bahan yang kini semakin sulit didapat. Bubur ase, yang dulu menjadi sarapan khas, kini tersisih oleh menu sarapan modern. Sementara gabus pucung, dengan kuah kluwek, semakin jarang dijual karena terbatasnya penjual dan bahan baku.

Kurangnya bahan baku dan perubahan selera menjadi faktor utama mengapa hidangan-hidangan tersebut semakin langka. Selain itu, proses memasak yang memakan waktu dan memerlukan keterampilan khusus membuatnya tidak mudah diproduksi di warung-warung modern. Akibatnya, banyak generasi muda yang belum pernah mencicipinya.

Di sisi lain, Jakarta tetap memelihara warisan bakso legendaris yang telah berjualan puluhan tahun. Salah satu yang paling dikenal adalah Bakso Cendana, yang sudah berdiri sejak 1965 di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Bakso ini menawarkan pilihan bakso urat dan bakso telur, lengkap dengan tetelan favorit pelanggan.

Bakso Titoti, yang mulai berjualan pada 1971, dikenal sebagai bakso khas Wonogiri. Meskipun berasal dari daerah lain, bakso ini telah menjadi favorit di kalangan penduduk Jakarta. Bakso Selera, yang berada di Pondok Bambu, sudah beroperasi sejak 1969 dan menonjolkan cita rasa bakso Solo yang kuat.

Bakso Mas Kumis menonjol dengan bakso daging sapi polos bertekstur empuk, disajikan bersama kuah gurih dan tetelan sapi. Keunikan rasa dan konsistensi bakso ini membuatnya tetap dicari oleh pelanggan setia.

Di sisi lain, kisah Amber Tan, mantan pramugari Singapore Airlines, menarik perhatian publik. Amber, berusia 35 tahun, memutuskan untuk beralih karier setelah bertahun-tahun terbang. Ia menginvestasikan tabungan sebesar SGD170.000 atau sekitar Rp2,3 miliar untuk memulai usaha grosir seafood bersama mantan kekasihnya.

Usaha tersebut mengalami masalah keuangan yang hampir membuatnya bangkrut. Setelah berpisah, Amber mengambil alih seluruh operasional usaha. Selama dua bulan, ia belajar berjualan ikan di pasar tradisional, mempelajari cara penyortiran, penanganan kepiting, dan cumi-cumi.

Kini, Amber mengurus penyortiran ikan, kepiting, dan cumi-cumi, sekaligus melayani pesanan online. Ia juga mengantar pesanan pelanggan secara pribadi, menambah nilai tambah bagi pelanggan yang menginginkan layanan cepat dan terpercaya.

Keberhasilan Amber menunjukkan bahwa transisi karier dapat berhasil jika didukung oleh ketekunan dan pengetahuan. Sementara itu, keberadaan bakso legendaris dan hidangan Betawi yang langka menyoroti pentingnya pelestarian kuliner tradisional di tengah perubahan zaman.

Sayur babanciBetawibaksoAmber TanSingapore Airlineskuliner tradisionalJakarta

Komentar

Memuat komentar...