50 Suspek Campak di Solo, Hasil Lab Yogyakarta Menunggu

Rini S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
50 Suspek Campak di Solo, Hasil Lab Yogyakarta Menunggu

Gambar atau konten salah?

Di Kota Solo, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat ada lima puluh anak yang diduga menderita campak. Untuk memastikan diagnosis, sampel tersebut dikirim ke Laboratorium di Yogyakarta.

Kepala Dinkes Kota Solo, Retno Erawati Wulandari, menegaskan bahwa anak-anak yang suspek berasal dari semua fasilitas kesehatan di kota. “Kalau data yang positif di 2026 ini Kota Surakarta belum ada. Cuman kalau suspek itu kan ada. Sekitar 50 (sampel) kita kirim ke labnya Jogja dari semua faskes yang ada di Solo,” ujarnya saat ditemui di kantornya pada Kamis, 01 April 2026.

Retno menambahkan bahwa sejak tahun 2026 belum ditemukan pasien yang hasil tes positif campak. Ia berharap hasil laboratorium tidak menunjukkan positif. “Kalau suspek tetap ada dan kalau suspek itu kan belum tentu dia positif. Belum tentu dia positif, harus dipastikan dulu dengan pemeriksaan lab. Harus dipastikan dulu dengan pemeriksaan lab, lah nanti dari hasil pemeriksaan labnya bagaimana, apakah positif atau tidak, nah itu baru kita tahu yang positif berapa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa mayoritas suspek adalah anak-anak, khususnya usia di bawah sekolah dasar. Sampel dikumpulkan selama tiga bulan pertama tahun ini. “Kebanyakan balita, anak-anak SD ke bawah. Sampel 50 itu kita kumpulkan mulai dari Januari sampai dengan akhir Maret kemarin,” tuturnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu dan diperkirakan akan keluar dalam dua minggu ke depan. Hasil ini akan menjadi dasar bagi Dinkes untuk menelusuri lebih jauh status imunisasi dan kondisi lingkungan pasien. “Hasil labnya itu sekitar kalau enggak salah sekitar dua minggu, sejak kemarin baru diuji,” terangnya.

Retno juga menjelaskan gejala campak. Pertama, ciri fisik campak membantu orang melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Gejala awal menyerupai flu dengan tanda fisik khusus. “Ciri-cirinya panas, batuk, pilek, mata merah, terus kemudian muncul ruam-ruam merah. Paling pertama biasanya keluar di belakang telinga, ruam merah tersebut lama-kelamaan akan berubah warna menjadi menghitam dalam waktu satu hingga dua minggu,” bebernya.

Untuk pencegahan, Dinkes Solo sedang memperkuat program Catch-up Campaign atau imunisasi kejar serentak. Meskipun tingkat imunisasi dasar lengkap di Solo cukup tinggi, di atas 75%, masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Retno menyayangkan hal ini, karena anak-anak mereka berada pada kondisi zero dose atau antivaksin. “Manakala banyak yang tidak mau vaksin, artinya kan kelompoknya ini jadi rentan. Rentan terserang virus, tidak hanya campak tapi semua penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” tegasnya.

Namun, Retno melihat tren positif. Kesadaran masyarakat mulai meningkat setelah pemberitaan wabah campak di daerah lain. Banyak orang tua yang kini melengkapi status imunisasi anak mereka. “Setelah lebaran justru suspeknya tidak terlalu signifikan, tetapi ini akhir-akhir ini dengan adanya pemberitaan wabah campak di beberapa daerah, ini kesadaran masyarakat agak naik. Agak naik memang, jadi untuk anak-anaknya yang belum lengkap status imunisasinya ini orang tuanya berbondong-bondong untuk mengimunisasikan anaknya. Tapi ada juga yang masih belum mau,” pungkasnya.

Dengan menunggu hasil laboratorium, Dinkes Solo siap menindaklanjuti setiap temuan. Pemetaan status imunisasi dan lingkungan akan membantu mengendalikan potensi penyebaran campak di kota. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya vaksinasi sebagai langkah preventif, terutama bagi anak-anak yang masih rentan. Peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam meminimalkan risiko wabah di masa depan.

CampakDinas Kesehatan Kota SoloLaboratorium YogyakartaImunisasiZero doseCatch-up Campaign

Komentar

Memuat komentar...