65% Responden Amerika Menuduh Trump Penyebab Kenaikan BBM

Rizki W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 58 dibaca
Bisik.id
65% Responden Amerika Menuduh Trump Penyebab Kenaikan BBM

Gambar atau konten salah?

Di 17 April 2026, jajak pendapat nasional yang dilakukan oleh Universitas Quinnipiac menunjukkan bahwa 65 % responden warga Amerika Serikat menuduh Presiden Donald Trump sebagai penyebab utama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di negeri ini. Persentase tersebut mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap menekan harga BBM.

Hanya 38 % responden yang menyatakan setuju dengan cara Trump menangani perekonomian saat ini. Angka ini menegaskan bahwa mayoritas warga merasa tidak puas dengan kondisi ekonomi, terutama setelah harga BBM melonjak drastis. Kenaikan ini dianggap sebagai salah satu konsekuensi dari perang di Timur Tengah, khususnya konflik dengan Iran.

Ketika ditanya tentang masa depan harga bensin, Trump menjawab, “Yah, harganya tidak terlalu tinggi,” kepada seorang reporter di Gedung Putih. Ia menekankan bahwa kenaikan harga saat ini tidak separah yang diprediksi akibat perang di Timur Tengah. Trump menambahkan, “Faktanya, jika Anda perhatikan, pasar saham sedang naik, semuanya berjalan sangat baik, dan hal terpenting yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir.”

Harga BBM di AS telah mengalami lonjakan signifikan sejak konflik di Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. Pada awal tahun ini, rata‑rata harga bensin reguler sedikit di atas US$ 2,75 per galon. Namun, pada 16 April 2026, harga rata‑rata bensin reguler telah mencapai US$ 4,093 per galon, meningkat sekitar 49 %. Sementara itu, harga diesel, yang pada Januari 2026 berada di atas US$ 3,50 per galon, kini telah naik ke kisaran US$ 5,65 per galon.

Perubahan harga ini menambah tekanan pada konsumen yang harus membayar lebih setiap kali mengisi tangki. Kenaikan ini juga memicu diskusi publik tentang peran kebijakan luar negeri dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Meski Trump tampak menganggap harga masih dapat ditangani, mayoritas responden tetap menilai kebijakan tersebut tidak memadai.

Secara keseluruhan, data survei menandakan ketegangan antara kebijakan pemerintah dan persepsi publik. Harga BBM yang melonjak, dipicu oleh konflik di Timur Tengah, menjadi fokus utama bagi warga yang mencari penjelasan atas beban ekonomi yang terus meningkat.

Harga BBMTrumpPerang Timur TengahIranKebijakan ekonomiSurvei QuinnipiacPasar sahamKonsumen

Komentar

Memuat komentar...