Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Gambar atau konten salah?
Iran mengeluarkan ancaman keras untuk menghentikan seluruh ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Langkah ini muncul saat ketegangan bersenjata dengan Amerika Serikat semakin meningkat. Ancaman tersebut merupakan respons terhadap keputusan AS yang kembali memberlakukan blokade di pelabuhan dan kapal-kapal milik Iran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan terus melancarkan serangan terhadap semua fasilitas Iran yang berhubungan dengan program pengembangan nuklir. Ia juga mengaku sedang mempertimbangkan untuk memperluas serangan lebih lanjut pada minggu depan.
Blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran mulai berlaku pada Rabu, 15 Juli 2026 pagi. Tindakan ini diikuti dengan serangan selama 90 menit yang menyasar sistem pertahanan pantai dan fasilitas rudal Iran.
Otoritas Iran menyebut serangan AS yang terjadi sehari sebelumnya telah menewaskan sedikitnya tujuh tentara. Lebih dari 300 warga sipil juga dilaporkan terluka. Angka ini menjadi jumlah korban tertinggi dalam setiap putaran konflik antara kedua negara belakangan ini.
Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan sedikitnya 30 warga sipil tewas akibat serangan AS di Iran selatan dalam beberapa hari terakhir.
Iran tidak tinggal diam. Serangan dan blokade AS mendorong Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz. Mereka juga melakukan serangkaian serangan udara balasan terhadap negara-negara di Timur Tengah yang memiliki pangkalan dan fasilitas militer AS.
"Ekspor energi regional bisa dinikmati untuk semua atau dilarang untuk siapapun," demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu, 15 Juli 2026.
Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS menghentikan semua serangan. Kondisi ini dipastikan akan kembali mengganggu pengiriman minyak mentah dan gas di jalur air yang menjadi titik penting bagi 20% pasokan energi dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa blokade AS telah melanggar memorandum Islamabad. Kesepakatan sementara itu sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga kawasan selat tetap terbuka dan memberikan ruang negosiasi menuju perdamaian permanen.
Memanasnya konflik dan gangguan terhadap pengiriman energi dari Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah pada Rabu terus naik melewati level tertinggi dalam sebulan terakhir.
Ketegangan antara Iran dan AS kali ini menunjukkan siklus yang berulang: serangan dibalas dengan serangan, blokade dibalas dengan penutupan jalur energi. Selat Hormuz menjadi titik paling rawan karena perannya yang vital bagi pasokan minyak dan gas global. Setiap gangguan di sana langsung berdampak pada harga energi dunia, dan kali ini tidak terkecuali.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
MSCI Longgarkan Aturan Saham 'Extreme Price'
UU SAL 2026: Dua Jalur, DPR Awasi Program Baru