Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Gambar atau konten salah?
Pemerintah Indonesia menargetkan langkah besar berikutnya di sektor energi terbarukan. Setelah sukses dengan biosolar, kini giliran bioetanol yang menjadi fokus utama. Presiden Prabowo Subianto secara langsung menargetkan Indonesia bisa memproduksi bahan bakar minyak (BBM) yang dicampur dengan etanol dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya saat menghadiri Panen Raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026, Prabowo menyampaikan rencana pencampuran bensin dengan etanol. "Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10% etanol. Tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20," tegasnya. E20 sendiri merujuk pada campuran bensin dengan 20% etanol.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sudah menyampaikan rencana serupa. Pemerintah akan mengejar program mandatori pencampuran BBM dengan etanol sebesar 10-20% dalam beberapa tahun ke depan. Tahun depan, direncanakan pencampuran bensin dengan 10% etanol mulai diterapkan.
Target ini sejalan dengan keberhasilan program biosolar B50 yang baru saja diluncurkan. B50 adalah campuran solar dengan 50% minyak kelapa sawit. "Nah arahan Bapak Presiden, etanol kita harus lakukan, maka mandatori kita akan lakukan 2027, tahap pertama 10% sampai dengan 20%, sehingga etanol ini akan bisa mengikuti jejak daripada biodiesel," ujar Bahlil saat peluncuran B50 di Rest Area KM 57, Tol Japek, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis, 9 Juni lalu.
Langkah ini didukung oleh melimpahnya bahan baku bioetanol di Indonesia. Tanaman seperti tebu, singkong, dan jagung tumbuh subur di tanah air. Bahlil mengatakan pengembangan bahan baku tersebut akan dilakukan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pertamina, dan pihak swasta. "Jadi tebu, singkong, kemudian jagung, dan itu akan dikelola bersama-sama baik Danantara maupun Pertamina dan swasta yang lain," katanya.
Untuk mewujudkan target produksi bioetanol, pemerintah tidak main-main. Presiden Prabowo memutuskan untuk membangun puluhan pabrik etanol baru. Saat ini Indonesia hanya memiliki satu pabrik etanol. "Butuh tadi pabriknya yang baru kita miliki baru 1 pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik etanol. Kalau perlu sampai 50 pabrik," kata Prabowo.
Dengan tambahan pabrik-pabrik ini, Indonesia diyakini bisa menerapkan bensin campuran etanol hingga E20. Prabowo membandingkan Indonesia dengan negara lain yang sudah lebih dulu maju. "India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia nggak bisa. Indonesia bisa kan? Bisa? Bisa, bisa," sebutnya.
Bioetanol sendiri merupakan bahan bakar nabati yang dihasilkan dari fermentasi tanaman kaya gula atau pati. Berbeda dengan biosolar yang menggunakan minyak sawit, bioetanol memanfaatkan tebu, singkong, dan jagung. Indonesia memiliki potensi besar di sektor ini karena ketiga tanaman tersebut mudah dibudidayakan di berbagai daerah.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, Indonesia berharap bisa menekan impor BBM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian dan industri pengolahan.
Namun, tantangan tetap ada. Membangun 30 hingga 50 pabrik etanol bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan investasi besar, teknologi yang tepat, dan koordinasi antara berbagai pihak. Pemerintah mengandalkan kolaborasi dengan BPI Danantara, Pertamina, dan swasta untuk merealisasikan target ambisius ini.
Indonesia memang masih tertinggal dibanding Brasil yang sudah menggunakan E100 atau India dengan E20. Tapi dengan sumber daya alam yang melimpah dan komitmen politik yang kuat, bukan tidak mungkin target E20 tercapai dalam beberapa tahun ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait