Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik

Sari D. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik

Gambar atau konten salah?

Pemerintah memutuskan bahwa 60 persen gas yang dihasilkan dari Blok Masela akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Sektor-sektor yang menjadi sasaran utama meliputi industri pupuk, kelistrikan, dan hilirisasi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahdalia menyampaikan, gas yang boleh diekspor maksimal 40 persen. Ia melaporkan hal ini kepada Presiden sebelum acara peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

"Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor. Di mana sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi daripada PT Pupuk yang berencana akan membangun industri hilirisasi di sini," kata Bahlil dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (18 Juli 2026).

Gas dari Blok Masela tidak hanya untuk pupuk. Sebagian juga akan diberikan ke PT PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta. Tujuannya, meningkatkan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

"Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," jelas Bahlil.

Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi gas untuk dalam negeri sudah masuk dalam rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (PoD). Langkah ini untuk memenuhi kebutuhan gas bumi yang terus meningkat, terutama di sektor industri, pupuk, dan pembangkit listrik.

Lapangan Gas Abadi Blok Masela adalah salah satu Proyek Strategis Nasional. Lokasinya sekitar 180 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut 400 hingga 800 meter.

Kontrak Kerja Sama (PSC) Wilayah Kerja Masela berlaku sejak 1998 hingga 2055. Lapangan ini direncanakan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun atau million tonnes per annum (MTPA). Selain itu, juga akan memproduksi 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari.

Pengembangan Blok Masela mencakup beberapa hal. Pertama, sistem pengeboran dan produksi bawah laut. Kedua, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO). Ketiga, pipa gas ekspor sepanjang sekitar 175 kilometer. Keempat, kilang LNG di darat.

Proyek ini juga direncanakan menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam produksi LNG. Teknologi ini untuk mendukung pengurangan emisi karbon dan upaya pemerintah menjalankan transisi energi.

Dengan komposisi alokasi yang sudah disiapkan, produksi gas Blok Masela diharapkan bisa memenuhi kebutuhan beberapa sektor di dalam negeri tanpa menutup peluang ekspor. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kesiapan proyek, realisasi fasilitas pengolahan, dan penyerapan gas oleh calon pengguna domestik.

Blok Masela menjadi salah satu proyek gas terbesar di Indonesia. Keputusan mengalokasikan 60 persen gas untuk dalam negeri menunjukkan prioritas pemerintah pada kebutuhan energi dan industri lokal. Namun, keberhasilan proyek ini masih tergantung pada penyelesaian infrastruktur dan kesiapan industri di dalam negeri untuk menyerap gas tersebut.

Blok Maselaalokasi gas domestikindustri pupukhilirisasiekspor gasproyek strategis nasionalLNG Abadi Masela

Komentar

Memuat komentar...