7 KAIH: Gerakan Karakter Anak Disabilitas di SLB 2026

Bima J. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 62 dibaca
Bisik.id
7 KAIH: Gerakan Karakter Anak Disabilitas di SLB 2026

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, para peserta didik di Sekolah Luar Biasa (SLB) diberi hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah satu inisiatif penting yang didorong oleh pemerintah adalah implementasi gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Gerakan ini diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati.

Rita menjelaskan bahwa 7KAIH bukan sekadar rutinitas, melainkan gerakan penguatan karakter agar anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan dan akhlak yang baik. “Gerakan ini berharap bahwa anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter, memiliki kedisiplinan, memiliki karakter yang baik, tidak hanya sehat fisik tetapi juga berakhlak dan siap berkontribusi untuk bangsa,” ujar Rita dalam webinar yang dipantau secara daring pada Kamis, 30 April 2026 melalui YouTube Cerdas Berkarakter Kemendikdasmen RI.

Rita menekankan bahwa implementasi 7KAIH di SLB menjadi bagian penting dari pemenuhan hak pendidikan inklusif. Menurutnya, setiap anak harus mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. “Setiap anak punya hak untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Dengan ragam disabilitas yang sangat bervariasi, maka penerapan 7KAIH juga memerlukan adaptasi,” ungkapnya.

Namun, di balik upaya penguatan karakter tersebut, Rita tidak menampik adanya tantangan besar yang masih membayangi anak-anak disabilitas di Indonesia. Ia menyoroti persoalan stigma sosial yang masih melekat kuat di tengah masyarakat. “Kita masih sangat sering menerima tantangan terkait dengan bagaimana kita membesarkan anak-anak disabilitas. Tantangan dari masyarakat tentang stigma, kemudian juga orang tua lainnya, serta bagaimana kemudian mereka mash memandang anak-anak disabilitas sebagai warga kelas dua,” tegas Rita.

Rita meyakini bahwa setiap anak lahir dengan kesempurnaan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu, masyarakat wajib mendorong agar mereka dapat mandiri dan produktif.

Dalam konteks SLB, penerapan tujuh kebiasaan ini dinilai sangat krusial untuk mendukung kebugaran fisik dan mental siswa. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat. Rita menyebutkan bahwa aktivitas-aktivitas sederhana tersebut akan sangat membantu stimulasi potensi, minat, dan bakat peserta didik disabilitas jika dilakukan secara konsisten. “Ini akan membantu kebugaran fisik mereka, mental mereka, dan juga membantu tumbuh kembang mereka agar tetap dapat tumbuh sebagai individu yang mandiri dan juga produktif,” jelasnya.

Selain adaptasi kebiasaan bagi siswa, Rita menekankan keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada penerapan 7 pilar akomodasi yang layak di lingkungan sekolah. Hal ini mencakup kesiapan SDM hingga sistem pendukung di sekolah. Ia merinci bahwa penguatan kapasitas guru menjadi kunci utama, diikuti dengan identifikasi identitas peserta didik yang akurat, adaptasi kurikulum yang fleksibel, hingga dukungan pembiayaan dan ekosistem sekolah yang inklusif. “Penerapan 7 pilar akomodasi yang layak menjadi sangat krusial, mulai dari penguatan kapasitas guru, identifikasi identitas peserta didik, kemudian adaptasi kurikulum, hingga kemudian pembiayaan dan ekosistem sekolah,” pungkasnya.

Melalui penguatan praktik baik ini, pemerintah berkomitmen untuk memastikan layanan pendidikan terbaik tersedia bagi seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Dengan gerakan 7KAIH dan 7 pilar akomodasi yang terintegrasi, diharapkan anak-anak disabilitas dapat mengembangkan potensi mereka secara menyeluruh. Pendekatan ini menekankan pentingnya adaptasi, dukungan guru, dan lingkungan sekolah yang inklusif sebagai fondasi bagi perkembangan karakter dan kemampuan mereka.

Pendidikan Inklusif7KAIHSLBStigma SosialAdaptasi KurikulumKapasitas GuruPenerapan 7 Pilar Akomodasi

Komentar

Memuat komentar...