70% Kanker Serviks Terdeteksi Stadium Lanjut

Guntur P. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
70% Kanker Serviks Terdeteksi Stadium Lanjut

Gambar atau konten salah?

Setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdeteksi di Indonesia. Angkanya besar. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 70 persen dari kasus itu baru diketahui saat sudah stadium lanjut. Artinya, risiko kematian meningkat drastis.

Angka deteksi dini yang rendah menjadi penyebab utama tingginya angka kematian akibat penyakit ini. Kanker serviks, atau kanker leher rahim, adalah keganasan sel yang terjadi di serviks. Penyakit ini berasal dari mukosa di permukaan serviks, tumbuh secara lokal, dan bisa menyebar ke uterus, jaringan paraservikal, serta organ panggul.

Kanker serviks sering disebut sebagai silent killer bagi perempuan. Alasannya jelas: penyakit ini hampir tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Banyak pengidap baru sadar saat kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, spesialis obstetri dan ginekologi, menjelaskan bahwa jika kanker serviks sudah mencapai stadium 4, ada beberapa gejala yang bisa muncul. Salah satunya adalah keputihan yang tidak normal.

"Nah sekarang, keputihan itu ada yang bening. Tapi kalau keputihannya itu sudah berwarna, berwarna putih, berwarna kuning, apalagi sampai berbau. Putih, kuning, ada mikroorganisme atau kuman lain. Kita obati sesuai dengan penyebabnya, kan?" ujarnya dalam konferensi pers terkait Rekomendasi POGI untuk Vaksin HPV Bagi Perempuan Pranikah dan Pasca Melahirkan di Jakarta Pusat, Selasa 24 Juni 2026.

"Nah yang parah itu kalau sudah berbau, merah, itu berarti apa? Udah kanker," tambahnya.

Selain keputihan, ada gejala lain yang perlu diwaspadai: perdarahan saat berhubungan intim. Menurut Prof Yudi, jika disertai nyeri, ini bisa menjadi tanda bahwa kanker sudah menyebar keluar dari area mulut rahim.

Pada stadium lanjut, kanker serviks bisa menyebabkan komplikasi serius. Misalnya, keluarnya feses dari vagina atau kebocoran saluran kencing. Prof Yudi mengatakan, ini menandakan kanker sudah menembus dinding antara rahim dan saluran pencernaan atau saluran kemih.

"Tambah lagi kalau (kanker) ke depan (kena) saluran kencing, bocor, ngompol terus. Itu sudah stadium 4A dan 4B," jelasnya.

Penyebab Kanker Serviks

Human Papillomavirus (HPV) adalah penyebab tersering kanker serviks pada wanita. Virus ini ditularkan melalui kontak seksual. Ada 15 tipe HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks, dan yang paling umum adalah tipe 16 dan 18.

HPV ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Jika infeksi HPV tidak diatasi, sel-sel abnormal di leher rahim bisa berkembang menjadi kanker seiring waktu.

Penularan virus HPV bisa terjadi karena berganti-ganti pasangan seksual. Ibu hamil yang sudah terdiagnosis kanker serviks juga bisa menularkan virus ke bayinya. Sering bertukar celana dalam juga menjadi faktor risiko.

Faktor risiko kanker serviks meliputi:

  1. Merokok — Kebiasaan ini meningkatkan risiko kanker serviks. Pada perempuan yang terinfeksi HPV, merokok membuat infeksi bertahan lebih lama dan lebih sulit hilang. Padahal, sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan infeksi HPV.
  2. Memiliki banyak pasangan seksual — Risiko terinfeksi HPV meningkat pada seseorang yang memiliki banyak pasangan seksual, atau memiliki pasangan yang juga berganti-ganti pasangan. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan risiko kanker serviks.
  3. Memulai aktivitas seksual pada usia dini — Melakukan hubungan seksual di usia muda meningkatkan risiko terpapar HPV, sehingga risiko kanker serviks juga lebih tinggi.
  4. Mengidap infeksi menular seksual lainnya — Infeksi seperti herpes, klamidia, gonore, sifilis, atau HIV-AIDS dapat meningkatkan risiko infeksi HPV yang berujung pada kanker serviks.
  5. Sistem kekebalan tubuh lemah — Orang dengan sistem imun yang lemah, misalnya akibat penyakit tertentu, lebih rentan mengalami infeksi HPV yang menetap. Ini meningkatkan risiko berkembangnya kanker serviks.
  6. Terpapar obat pencegah keguguran di dalam kandungan — Risiko kanker serviks meningkat pada perempuan yang saat masih dalam kandungan ibunya mengonsumsi diethylstilbestrol (DES), obat yang digunakan untuk mencegah keguguran sekitar tahun 1950-an. Paparan DES dikaitkan dengan peningkatan risiko jenis kanker serviks yang disebut clear cell adenocarcinoma.

Pemeriksaan Kanker Serviks

Prof Yudi menekankan, penyakit ini tidak perlu ditakuti, tapi harus diwaspadai. Pemeriksaan rutin adalah langkah penting dalam mencegah kanker serviks sejak dini.

"Malah saya katakan, kanker serviks tidak perlu ditakuti tapi harus diwaspadai. Karena itu masih bisa kita berantas dengan baik," tegasnya.

Pemeriksaan kanker serviks meliputi:

  • Pemeriksaan Pap Smear — Deteksi dengan mengambil sampel sel dari leher rahim di ujung vagina untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda kanker tahap awal.
  • Tes HPV — Tujuannya mendeteksi ada tidaknya virus HPV pada leher rahim. Analisa bisa dilakukan dengan sampel yang sama dengan tes Pap atau mengambil sampel kedua.
  • Biopsi — Jika pada deteksi awal ditemukan tanda-tanda mencurigakan, dokter bisa mengambil sampel kecil jaringan untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
  • Skrining dengan IVA — Pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat dilakukan dengan mengoleskan asam asetat atau cuka dapur encer pada leher rahim. Bercak putih akan terlihat setelah 1 menit jika ada sel-sel kanker.

Kanker serviks masih bisa dicegah dan diobati jika terdeteksi sejak dini. Pemeriksaan rutin dan vaksinasi HPV adalah langkah-langkah yang sudah terbukti efektif. Sayangnya, kesadaran dan akses terhadap deteksi dini masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kasus baru ditemukan pada stadium lanjut, yang berarti peluang kesembuhan jauh lebih kecil. Padahal, dengan deteksi dini, angka kematian akibat kanker serviks bisa ditekan secara signifikan.

kanker serviksdeteksi diniHPVgejalastadium lanjutpencegahanvaksinasi

Komentar

Memuat komentar...