Pasokan SPHP dan Minyak Kita di Banyuwangi Macet

Dwi H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Pasokan SPHP dan Minyak Kita di Banyuwangi Macet

Gambar atau konten salah?

Tiga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Banyuwangi mengeluhkan distribusi beras SPHP dan Minyak Kita dari Perum Bulog Banyuwangi yang berjalan lambat. Padahal, kedua komoditas ini sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan anggota koperasi dan warga sekitar.

Ketua Asosiasi KDKMP Banyuwangi, Imam Maskun, mengatakan keluhan ini sudah dirasakan sejak 10 Juni lalu. Berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dari berkomunikasi langsung dengan pihak Bulog Banyuwangi hingga mengajukan pembelian melalui aplikasi Klik SPHP dan layanan pemesanan daring Minyak Kita. Namun, sampai sekarang belum ada realisasi distribusi beras SPHP maupun Minyak Kita. Sementara itu, permintaan dari masyarakat terus berdatangan.

Imam menjelaskan, KDKMP adalah mitra resmi Bulog sekaligus mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Selama ini, koperasi juga sering dilibatkan dalam operasi pasar. Tapi, karena pasokan barang kosong, pihaknya mengaku kesulitan menjalankan peran tersebut.

"KDKMP ini dibentuk dengan tujuan yang sudah jelas, untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sekitar dengan menyediakan barang di harga yang sesuai HET. Tapi, pesanan kami yang biasanya itu bisa dapat beras SPHP 800 sak atau 4 ton. Sampai hari ini tidak ada realisasi. Minyak Kita malah nol kosong tidak ada sama sekali," tegas Imam pada Sabtu, 04 Juli 2026.

Imam juga mengaku sudah berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Menurutnya, gubernur mendukung upaya KDKMP dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat melalui distribusi pangan murah di gerai koperasi.

Ia menyebut, satu gerai KDKMP mampu menjual hingga lima karton Minyak Kita setiap hari dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Sementara itu, beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual seharga Rp57.000. Untuk memastikan pemerataan, seluruh KDKMP yang sudah beroperasi sepakat membatasi pembelian maksimal satu kemasan per orang setiap hari.

"Kemarin saat operasi pasar kami konsultasi pada Bu Gubernur dan beliau mendukung KDKMP bahkan seharusnya Bulog turut memfasilitasi untuk bisa menyalurkan kebutuhan pangan yang kami distribusikan. Kami juga taat aturan dan menjual beras ataupun minyak sesuai HET. Bisa dicek saja ke koperasi," jelasnya.

Imam berharap KDKMP tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh pasokan kebutuhan pokok. Terutama karena masyarakat masih membutuhkan bahan pangan dengan harga terjangkau.

Di sisi lain, Kepala Perum Bulog Cabang Banyuwangi, Dwiana Puspitasari, mengatakan secara umum pihaknya mendukung keberadaan KDKMP di Banyuwangi. Namun, distribusi beras SPHP saat ini terkendala keterbatasan kemasan.

"Jadi kami masih menunggu kemasan berasnya itu datang karena masih dikirim dari pusat. Sekitar satu minggu lagi baru datang," ungkap Dwiana.

Ia memastikan distribusi beras SPHP akan kembali normal setelah kemasan dari pusat tiba. Dwiana menambahkan, stok beras Bulog saat ini dalam kondisi melimpah, yakni mencapai 129.000 ton setara beras. Persediaan tersebut dialokasikan untuk distribusi beras SPHP, bantuan pangan, serta pemerataan stok antarpulau.

Sementara itu, untuk distribusi Minyak Kita, Dwiana menjelaskan adanya kebijakan baru dari Perum Bulog Pusat. Mulai 3 Juni 2026, penyaluran Minyak Kita diprioritaskan untuk kios di pasar tradisional serta Sentra Penggilingan Padi dan Sentra Produksi Pangan (SP2KP).

Dengan kebijakan tersebut, jalur distribusi nontradisional, termasuk KDKMP, sementara belum menjadi prioritas sesuai arahan Kementerian Perdagangan.

"Kondisi Minyak Kita itu seperti ini. Bulog memiliki stok yang cukup, akan tetapi mulai Juni kemarin ada aturan dari kantor pusat bahwa untuk Minyak Kita fokusnya ke kios pasar di pasar SP2KP dan kios pasar lainnya. Jadi untuk saluran di luar kios-kios pasar tersebut sementara belum bisa dilayani. Kalau periode awal tahun sampai bulan Mei masih bisa, tetapi per 3 Juni ada aturan dari pusat bahwa Bulog fokus untuk pemenuhan kios pasar SP2KP dan pasar-pasar lainnya," terang Dwiana.

Saat ini, Bulog Banyuwangi memiliki stok Minyak Kita sebanyak 125.000 liter dengan harga eceran tertinggi Rp15.700 per liter. Dalam setiap kegiatan operasi pasar, Bulog juga menyalurkan komoditas sesuai kebutuhan.

Terbaru, pada pasar murah yang digelar Gubernur Jawa Timur di Kecamatan Muncar, Bulog Banyuwangi mendistribusikan 1 ton beras SPHP, 250 liter Minyak Kita, serta 250 kilogram gula pasir.

Masalah distribusi ini menunjukkan adanya ketegangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan di lapangan. KDKMP yang dibentuk untuk mendekatkan akses pangan murah ke masyarakat justru terkendala pasokan. Sementara Bulog mengaku punya stok berlimpah, aturan baru soal prioritas distribusi Minyak Kita membuat koperasi harus menunggu. Situasi ini menekankan pentingnya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah daerah, Bulog, dan koperasi agar tujuan stabilisasi harga pangan bisa tercapai.

distribusi beras SPHPMinyak KitaKDKMPBulog Banyuwangikeluhan pasokanharga eceran tertinggikebijakan prioritas

Komentar

Memuat komentar...