FTAB UB Bangun Fasilitas Olah Limbah B3 Pertama
Gambar atau konten salah?
Laboratorium di berbagai perguruan tinggi masih bergulat dengan satu masalah besar: limbah B3. Bahan berbahaya dan beracun ini—mulai dari sisa bahan kimia, pelarut organik, hingga reagen—butuh penanganan ekstra. Kalau tidak, tanah, air, dan udara bisa tercemar. Kesehatan orang pun ikut terancam.
Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) mengambil langkah. Mereka membangun fasilitas pengolahan limbah B3 sendiri. Skalanya fakultas. Klaimnya, ini yang pertama dan satu-satunya di lingkungan Universitas Brawijaya.
Fasilitas ini mengolah limbah secara internal. Sebelum akhirnya diserahkan ke pihak ketiga yang punya izin resmi. Ada tiga tahapan utama: segregasi atau pemilahan, netralisasi, dan pengurangan volume limbah. Semua dilakukan di dalam kampus.
Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Sukarmi, yang juga asesor penilaian lapangan Sustainable Development Goals (SDGs), memberikan apresiasi. Menurutnya, langkah FTAB ini bisa jadi contoh. "Ini praktik baik yang harus ditiru fakultas lain. Kampus tidak hanya mencetak ilmuwan, tapi juga menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang aman dan berkelanjutan," ujar Prof. Sukarmi pada Sabtu, 04 Juli 2026.
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, menjelaskan bahwa pengelolaan limbah B3 ini adalah bagian dari upaya fakultas mendukung SDGs. Sistem ini terkait dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama di bidang kesehatan, sanitasi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. "Zero Waste bukan slogan. Kami mulai dari hulu: memisah, mengolah, dan mengurangi limbah B3 di sumbernya," kata Prof. Yusuf.
Proses penanganan limbah B3 di FTAB UB dipantau secara digital. Setiap laboratorium wajib mencatat jenis limbah, volume, dan waktu pembuangan. Semua data masuk ke dashboard sistem informasi yang terintegrasi. Tidak ada yang luput dari catatan.
FTAB UB juga tidak berhenti di fasilitas fisik. Mereka rutin mengadakan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Ada juga kampanye praktik laboratorium ramah lingkungan. Sasaran utamanya mahasiswa dan tenaga kependidikan.
Prof. Yusuf Hendrawan, Dekan FTAB UB, menegaskan bahwa riset dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. "Komitmen kami jelas: riset boleh maju, tapi lingkungan harus tetap aman. Dengan fasilitas ini, FTAB UB ingin membuktikan bahwa fakultas teknologi bisa menjadi fakultas paling bertanggung jawab secara ekologis," pungkas Prof. Yusuf.
Fasilitas ini tidak berdiri sendiri. Seluruh proses penanganan limbah B3 dipantau secara digital. Setiap laboratorium wajib mencatat jenis limbah, volume, dan waktu pembuangan. Semua tercatat di dashboard sistem informasi yang terintegrasi. Tidak ada celah untuk kelalaian.
FTAB UB juga menggelar pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara rutin. Ada kampanye praktik laboratorium ramah lingkungan. Mahasiswa dan tenaga kependidikan menjadi sasaran utamanya.
Fasilitas ini mendapat apresiasi dari Prof. Dr. Sukarmi, Guru Besar Universitas Brawijaya yang juga asesor penilaian lapangan SDGs. Menurutnya, langkah FTAB bisa jadi contoh. "Ini praktik baik yang harus ditiru fakultas lain. Kampus tidak hanya mencetak ilmuwan, tapi juga menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang aman dan berkelanjutan," ujar Prof. Sukarmi pada Sabtu, 04 Juli 2026.
Prof. Yusuf menambahkan, pengelolaan limbah B3 ini terkait langsung dengan pencapaian SDGs. Terutama pada aspek kesehatan, sanitasi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. "Zero Waste bukan slogan. Kami mulai dari hulu: memisah, mengolah, dan mengurangi limbah B3 di sumbernya," kata Prof. Yusuf.
Seluruh proses penanganan limbah B3 di FTAB UB dipantau secara digital. Setiap laboratorium wajib mencatat jenis limbah, volume, dan waktu pembuangan. Data masuk ke dashboard sistem informasi yang terintegrasi. Tidak ada yang luput.
FTAB UB juga menggelar pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara rutin. Ada kampanye praktik laboratorium ramah lingkungan. Mahasiswa dan tenaga kependidikan menjadi sasaran utamanya.
Prof. Yusuf menegaskan bahwa riset dan kelestarian lingkungan harus berjalan seiring. "Komitmen kami jelas: riset boleh maju, tapi lingkungan harus tetap aman. Dengan fasilitas ini, FTAB UB ingin membuktikan bahwa fakultas teknologi bisa menjadi fakultas paling bertanggung jawab secara ekologis," pungkas Prof. Yusuf.
Fasilitas pengolahan limbah B3 di FTAB UB ini adalah yang pertama dan satu-satunya di Universitas Brawijaya. Sistemnya mencakup pemilahan, netralisasi, dan pengurangan volume limbah sebelum diserahkan ke pihak ketiga berizin. Semua dipantau digital. Ada pelatihan K3 dan kampanye laboratorium ramah lingkungan. Langkah ini menunjukkan bahwa riset dan tanggung jawab ekologis bisa berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kanada vs Maroko Buka Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
BRIN: Riset Kampus Sulit Sampai ke Industri
Bus Terbalik di Sungai Nganjuk, Kondektur Cerita Momen Histeris
Demi Cilok, Pria Ini Lawan Mertua, Kini Raup Rp500 Ribu Sehari
Maroka Unggul Lawan Kanada di 16 Besar
Prancis vs Paraguay: Rekor Buruk Menanti di 16 Besar Piala Dunia
Berita Terbaru
FTAB UB Bangun Fasilitas Olah Limbah B3 Pertama
266 Atlet Siap Bertarung di Kejurnas BMX Muncar
RUU Pusat Finansial Internasional Ditargetkan Rampung Juli 2026
CDC Selidiki Wabah Diare 'Eksplosif' di 18 Negara Bagian AS
Liburan Sekolah, Stasiun Tugu Diserbu Ribuan Penumpang
Persib Rekrut Ragnar Oratmangoen Kontrak Tiga Tahun
Kanada vs Maroko Buka Babak 16 Besar Piala Dunia 2026