9 Muharram Besok: Puasa Tasua Bisa Dua Versi Tanggal

Hendra M. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
9 Muharram Besok: Puasa Tasua Bisa Dua Versi Tanggal

Gambar atau konten salah?

Bulan Muharram 1448 Hijriah sudah memasuki minggu pertamanya. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa bulan ini menyimpan kesempatan besar untuk meraih pahala melalui puasa sunnah. Tanggal-tanggal di bulan Muharram perlu diperhatikan dengan saksama karena ada beberapa jenis puasa yang bisa dikerjakan, dan masing-masing memiliki keutamaan tersendiri.

Puasa di bulan Muharram memang bukan puasa biasa. Bulan ini adalah salah satu dari empat bulan yang disebut Allah sebagai bulan haram atau bulan suci. Dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 36, Allah berfirman bahwa di antara dua belas bulan yang ada, terdapat empat bulan yang dimuliakan. Keempat bulan itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Tapi perlu diingat, dosa juga mendapat ganjaran yang lebih berat.

Besok, Rabu 24 Juni 2026, bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1448 H. Itu artinya besok adalah waktu yang tepat untuk menjalankan puasa Tasua. Tapi ada sedikit kerumitan. Tahun ini, penentuan awal bulan Muharram berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi. Kalau mengikuti kalender yang dikeluarkan Kementerian Agama dan juga keputusan Muhammadiyah, maka 9 Muharram jatuh pada hari Rabu. Sementara itu, Nahdlatul Ulama atau NU menetapkan 9 Muharram jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Jadi, ada dua versi.

Ustadz Rusdianto dalam bukunya yang berjudul Kitab Terlengkap Bersuci, Shalat, Puasa, Shalawat, Surat-Surat Pendek, Hadits Qudsi dan Hadits Arba'in Pilihan, serta Dzikir & Doa menjelaskan asal-usul puasa Tasua. Awalnya, Nabi Muhammad SAW hanya memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram, yaitu puasa Asyura. Tapi kemudian para sahabat memberi tahu Nabi bahwa pemeluk agama lain juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Mendengar itu, Nabi berniat untuk berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram. Puasa itulah yang kemudian dinamakan Tasua.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim yang dikutip oleh Isnan Ansory dalam buku Puasa yang Masyru' dan Tidak, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berniat akan mengerjakan puasa Tasua pada tahun berikutnya. Tapi belum sempat tahun itu tiba, Nabi sudah lebih dulu wafat. Ibnu Abbas berkata, "Belum sampai ke tahun depan, Rasulullah SAW telah wafat." Meskipun Nabi tidak pernah benar-benar mengerjakan puasa Tasua, niat beliau itu sudah dianggap cukup kuat sebagai dasar. Umat Islam dianjurkan untuk ikut mengerjakan puasa yang pernah diniatkan oleh Nabi.

Niat puasa Tasua bisa dibaca dalam bahasa Arab, latin, dan artinya. Dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia atau MUI Digital, niat puasa Tasua adalah: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى. Dalam tulisan latinnya: Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatit Tasua lillâhi ta'âlâ. Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah SWT."

Perlu diingat, dalam syariat Islam, niat itu cukup ada di dalam hati. Mengucapkan niat dengan lisan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang mengatakan sunnah, ada juga yang tidak. Sebab, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW atau para sahabat pernah membaca niat puasa dengan suara keras sebelum melakukannya.

Lalu apa pahala puasa Tasua? Puasa Tasua tidak memiliki keutamaan khusus seperti puasa Asyura. Puasa Asyura, yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram, memiliki ganjaran berupa penghapusan dosa selama setahun yang lalu. Tapi puasa Tasua tidak memiliki keistimewaan seperti itu. Namun jangan salah, pahalanya tetap besar. Seperti yang sudah disebutkan, puasa Tasua dikerjakan di bulan Muharram, dan di bulan ini pahala dilipatgandakan.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim nomor 1163. Karena dikerjakan di awal tahun, puasa di bulan Muharram diharapkan bisa menghapus dosa-dosa yang mungkin dilakukan di bulan-bulan selanjutnya. Al-Wazir Ibnu Hubairah dalam kitab Al-Ifshah jilid VIII halaman 215 menjelaskan, bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Menjalankan ibadah di awal tahun diharapkan bisa menghapus dosa-dosa yang terjadi di bulan-bulan yang tersisa. Ini mirip dengan keutamaan berdzikir di waktu pagi.

Para ulama membagi puasa Tasua dan Asyura menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah puasa Asyura saja, yaitu hanya pada tanggal 10 Muharram. Tingkatan kedua adalah puasa Tasua dan Asyura, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tingkatan ketiga adalah puasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Dasar puasa tanggal 11 ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari yang menyuruh untuk berpuasa pada hari Asyura dan juga berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya untuk membedakan diri dari Yahudi.

Dengan mengerjakan puasa selama tiga hari, tidak perlu khawatir lagi tentang kesalahan dalam penentuan tanggal. Puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar pasti akan didapatkan. Jadi, bagi yang ingin meraih pahala besar di bulan Muharram, puasa Tasua besok adalah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Singkatnya, bulan Muharram menawarkan lebih dari sekadar awal tahun baru Islam. Ia adalah bulan yang penuh dengan peluang ibadah, terutama puasa sunnah. Mulai dari puasa Tasua, Asyura, hingga puasa tiga hari berturut-turut, semuanya memiliki dasar dan keutamaan yang kuat dalam ajaran Islam. Jangan sampai melewatkannya.

Puasa TasuaMuharramBulan HaramKeutamaan PuasaNiat PuasaPahalaAsyura

Komentar

Memuat komentar...