9.000 Pekerja Tekstil & Plastik Terancam PHK Akibat Konflik
Gambar atau konten salah?
Said Iqbal, presiden Partai Buruh sekaligus presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), mengungkapkan bahwa sekitar 9.000 buruh di industri tekstil dan plastik berpotensi terkena PHK akibat konflik di Timur Tengah.
“Terutama di industri plastik dan industri tekstil, saat ini tercatat 9.000 berpotensi, berpotensi 9.000 karyawan akan terjadi PHK,” kata Said dalam konferensi pers online pada 17 April 2026.
Informasi tersebut berasal dari para buruh yang menerima sinyal efisiensi dari pemimpin perusahaan mereka. Namun, Said belum dapat memberikan rincian lebih lanjut karena langkah efisiensi tersebut masih belum dilaksanakan secara resmi.
“Saya belum bisa menyebut nama perusahaannya karena teman‑teman di tingkat pabrik meminta jangan disebut dulu karena belum terjadi PHK. Ini akan terlihat di 3 bulan ke depan,” ujarnya.
Said menjelaskan bahwa perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengakibatkan lonjakan harga energi global. Kondisi ini langsung memengaruhi biaya produksi di sektor industri.
“Yang akan menyebabkan PHK, pertama, harga BBM industri melambung tinggi. Karena harga BBM industri tidak bersubsidi dia mengikuti mekanisme pasar,” paparnya.
Selain kenaikan BBM, konflik di Timur Tengah juga mendorong harga impor bahan baku pabrik. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar dan kesulitan logistik akibat perang membuat bahan baku impor naik tajam.
“Sudahlah bahan bakar industri yang tidak bersubsidi mengakibatkan ongkos produksi naik, ditambah bahan baku juga naik. Industri‑industri plastik itu sudah naik,” jelasnya.
Semua faktor tersebut memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi, yang diharapkan berupa PHK massal dalam tiga bulan ke depan, dengan potensi 9.000 pekerja terimbas.
Pabrik‑pabrik ini akan menekan biaya produksi melalui pengurangan tenaga kerja. “Efisiensinya adalah di labor cost, di biaya buruh. Untuk melakukan penekanan biaya buruh adalah pengurangan karyawan,” kata Said.
Perubahan ini menandai dampak langsung dari konflik regional terhadap ekonomi lokal, terutama bagi pekerja di sektor tekstil dan plastik. Perusahaan harus menyesuaikan struktur biaya mereka agar tetap beroperasi di tengah tekanan harga energi dan bahan baku. 9.000 buruh yang terancam kehilangan pekerjaan menandakan ketidakpastian yang meluas bagi sektor ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Dibuka Melemah, Anjlok 1,57 Persen ke 4.827
BRI Buka Galeri E-Channel di JPM Dukuh Atas untuk Komuter
Kemenkeu Tolak Jadi Pemegang Saham BEI
Pandu Sjahrir Lepas Saham Supra Sekuritas Sejak Juni
OJK Paksa Pengembalian Dana Rp5 Miliar Kasus Manipulasi Saham
LPS: 14 BPR Tutup Akibat Tata Kelola Buruk
