Airlangga Bela Data Desil: Basisnya Survei

Dwi H. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Airlangga Bela Data Desil: Basisnya Survei

Gambar atau konten salah?

Belakangan ini, istilah desil sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang yang mempertanyakan keakuratan pemetaan tersebut karena merasa tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya mereka alami. Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto angkat bicara.

Airlangga menjelaskan bahwa pembagian desil didasarkan pada data yang dihimpun melalui mekanisme sensus. Menurut laman resmi Cek Bansos Kementerian Sosial (Kemensos), desil adalah pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga. Pengukuran ini menggunakan berbagai variabel sosial ekonomi, seperti pekerjaan dan pendidikan seseorang, kondisi rumah dan daya listrik, hingga kepemilikan aset.

"Kan kita udah ada, desil itu basisnya sensus ekonomi. Jadi, sudah ada DTSEN (data tunggal sosial dan ekonomi nasional)," kata Airlangga di AYANA Midplaza, Jakarta Pusat, pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah penentuan desil lebih mengacu pada besaran pengeluaran atau kepemilikan aset, Airlangga memastikan bahwa semua indikator ekonomi tersebut dikumpulkan melalui metode survei. "Ya itu berdasarkan survei," tambahnya singkat.

Sebelumnya, topik desil menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet yang mengecek data ekonomi mereka secara mandiri di situs dtsen-form.bps.go.id dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Berbagai reaksi pun bermunculan.

  • Salah satu pengguna, listyan******, menulis: "Udah pada cek data ekonomi kalian kah? Kalian di desil berapa? Aku mau flexing lah, karena aku masuk desil 10 alias SANGAT KAYA. Entahlah..Aminkan aja ya gaes ya.. amiiin.. Ada tetangga yg kerja serabutan tapi masuk desil 9."
  • Pengguna lain, @Seek******, mengeluh: "Terlepas dari tabel nya yg hoax, gue rasa ini pengukurannya perlu dibenahi sih. Masa iya gue di desil 9 weiii??? Rumah aja kaga punya."
  • @keluhkesah****** juga ikut bersuara: "mamaku single parent dengan gaji 1,4 jt perbulan, tapi herannya kami malah dapet desil 9. aneh banget:( kip kuliahku terancam gagal karena desilnya terlalu tinggi.. padahal seharusnya kami masuk desil 3."

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, turut menanggapi keluhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa data desil bersifat dinamis dan dapat diperbarui setiap tiga bulan sekali. Warga yang merasa data ekonominya tidak akurat bisa mengajukan sanggahan. Caranya melalui aplikasi Cek Bansos atau langsung ke kelurahan dan desa setempat.

"Setiap tiga bulan sekali ada hasil pemutakhiran. Maka itu kita harapkan memang semuanya bisa ikut berpartisipasi aktif dalam pemutakhiran data ini," ujar Gus Ipul.

Pada intinya, pemerintah menegaskan bahwa data desil bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Masyarakat didorong untuk aktif memeriksa dan melaporkan jika ada ketidaksesuaian. Dengan begitu, data yang digunakan bisa lebih akurat dan mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

desilAirlangga Hartartosensus ekonomidata tunggal sosial dan ekonomi nasionalpemetaan kesejahteraanperbincangan media sosial

Komentar

Memuat komentar...