Anak-anak Nekat Seluncur di Bendung Semarang

Ani R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Anak-anak Nekat Seluncur di Bendung Semarang

Gambar atau konten salah?

Sebuah pemandangan biasa terjadi di Bendung Pleret, yang merupakan bagian dari Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) di Kota Semarang. Anak-anak terlihat asyik bermain seluncuran di bidang miring bendungan tersebut. Mereka memanfaatkan permukaan beton yang landai untuk meluncur, tertawa riang saat melakukannya. Beberapa orang dewasa juga tampak duduk di pinggir sambil memancing.

Padahal, di lokasi tersebut terpasang papan larangan yang cukup jelas. Papan itu melarang berbagai aktivitas, termasuk mandi dan memancing di area bendungan. Namun, larangan itu seolah tidak diindahkan.

Sita (40), seorang warga asal Tembalang, duduk di pinggir bendungan pada Rabu, 08 Juli 2024, sekitar pukul 16.30 WIB. Ia mengaku sedang mengawasi anaknya yang tengah berseluncur. "Mengantar anak yang ingin ke sini," ujarnya. Menurut Sita, anak-anak biasa bermain seluncur di BKB saat debit air sedang kecil. Anaknya sendiri baru pertama kali bermain di tempat itu. Sita sadar betul akan risiko yang mengintai. "Sebenarnya bahaya. Kalau nggak diawasi takutnya banjir dari sana kan nggak tahu. Aslinya bahaya sih, tapi namanya anak-anak," katanya.

Bayu Wanapati, Operator Bendung Simongan Wilayah BKB, menegaskan bahwa aktivitas seperti seluncuran di bendungan itu tidak diperbolehkan. Ia menjelaskan bahwa aturan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana melarang keras segala bentuk kegiatan masyarakat di dalam radius zona 1 bendungan. "Kalau kita dari BBWS aturannya tidak boleh. Kita melarang, dalam artian seluruh aktivitas di dalam radius atau zona 1, seluruh aktivitas masyarakat seharusnya tidak ada entah itu seluncuran, mancing, mandi," kata Bayu.

Bayu menambahkan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada pemangku wilayah setempat. Sosialisasi itu melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat wilayah sekitar. Selain itu, enam papan larangan telah dipasang di berbagai titik di sekitar BKB. "Dari kita sendiri sudah memberikan sosialisasi kepada kemarin dari pihak bhabinkamtibmas, babinsa, wilayah sekitar. Terus yang kedua kita sudah memberikan papan larangan di setiap titik, kita kasih enam titik di sini," jelasnya.

Meski sudah ada larangan dan teguran, anak-anak tetap sulit dikendalikan. Bayu mengakui bahwa kebiasaan bermain di bendungan sudah mendarah daging. "Pihak keamanan kita sering memberi teguran kepada anak-anak supaya tidak boleh masuk. Tapi karena bisa dikatakan habit itu agak sedikit susah untuk mengontrolnya," ujarnya. Pada sore itu, debit air tercatat hanya 3,8 meter per kubik. Namun, Bayu menekankan bahwa kondisi air yang tenang bukan berarti aman.

Bayu kembali menegaskan bahwa BKB bukanlah tempat wisata. Bendungan itu adalah aset infrastruktur yang berfungsi untuk mengendalikan banjir. "Ini bukan tempat untuk wisata. Kita juga mempertimbangkan keselamatan dari orang-orang yang nekat masuk itu," kata Bayu. Ia juga mengingatkan bahwa aktivitas warga bisa merusak peralatan di bendungan. "Kita juga harus menjaga aset ini supaya, jika tiba-tiba alat kita rusak pada waktu mau dipakai, efeknya kan ke semua," tambahnya.

Bermain di bendungan memang terlihat menyenangkan, terutama saat air tidak deras. Namun, risikonya nyata. Banjir bandang bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan. Peralatan bendungan juga bisa rusak jika diganggu. Anak-anak yang bermain di sana tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi utama bendungan sebagai pengendali banjir. Pengawasan orang tua saja tidak cukup jika aturan jelas-jelas melarang aktivitas tersebut.

bermain di bendunganlaranganrisiko banjirpengawasan anakkeselamatanaset infrastrukturSungai Banjir Kanal Barat

Komentar

Memuat komentar...