APBN Kuartal III 2026: Pendapatan Naik 25,5%
Gambar atau konten salah?
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 terus menunjukkan peran pentingnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan mencapai target pembangunan nasional. Dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026 di Jakarta Pusat pada Selasa, 03 November 2026, Suahasil memaparkan sejumlah data terkini.
Hingga triwulan III-2026, realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 2.341,5 triliun. Angka ini tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp 1.847,7 triliun. Menurut Suahasil, realisasi ini dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi yang berjalan dan penerapan sistem coretax yang semakin baik. "Di sisi penerimaan perpajakan, realisasinya tumbuh tinggi sebesar 21,8% year-on-year sehingga mencapai Rp1.847,7 triliun, dan realisasi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi dan penerapan coretax sistem yang semakin baik," jelasnya.
Dari sektor kepabeanan dan cukai, realisasi penerimaan selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 240,1 triliun. Angka ini tumbuh 8,5% year-on-year dan menunjukkan sinyal pemulihan. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat on-track sebesar Rp 492,3 triliun, tumbuh 41,7% year-on-year.
Dari sisi belanja, kinerja belanja negara dinilai semakin produktif. Realisasi belanja negara hingga kuartal III-2026 mencapai Rp 2.660,5 triliun, tumbuh 19% year-on-year. Realisasi ini terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 2.061,3 triliun yang tumbuh 29,6% year-on-year, dan transfer ke daerah sebesar Rp 599,2 triliun.
Suahasil menjelaskan bahwa realisasi belanja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bantuan sosial reguler, Penerima Bantuan Iuran (PBI), PBI Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Kartu Sembako, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), serta KIP Kuliah. Selain itu, belanja juga digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, layanan pendidikan, pembayaran manfaat pensiun, serta subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik.
Lebih rinci, Suahasil menyebutkan realisasi program bantuan sosial hingga akhir kuartal III-2026. Program Keluarga Harapan (PKH) telah mencapai Rp 21,8 triliun. Realisasi program bansos Sembako mencapai Rp 28,2 triliun. Sementara Program Indonesia Pintar (PIP) mencapai Rp 11,1 triliun.
"Sebagai agent of development, APBN diarahkan untuk mengakselerasi pelaksanaan program prioritas, termasuk program makan bergizi gratis yang telah terealisasi Rp 153,2 triliun pada akhir bulan September 2026 yang diterima oleh 57 juta penerima manfaat," terang Suahasil.
Di sisi pembiayaan, realisasi hingga kuartal III-2026 mencapai Rp 462 triliun, tumbuh 0,4% year-on-year. Suahasil menegaskan bahwa realisasi pembiayaan ini dikelola secara hati-hati dan terukur. Pengelolaan ini tetap memperhatikan likuiditas pemerintah dan dinamika pasar keuangan. "Pengelolaan pembiayaan juga didukung oleh pembiayaan investasi yang dikelola untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat dalam mendukung akselerasi pangan, pertanian, perumahan, pendidikan, dan infrastruktur," tegasnya.
Data ini menunjukkan bahwa APBN hingga triwulan III-2026 mencatatkan pertumbuhan di sisi pendapatan dan belanja. Penerimaan perpajakan menjadi pendorong utama pendapatan negara, sementara belanja negara difokuskan pada program-program prioritas seperti bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu program dengan realisasi anggaran terbesar, menjangkau puluhan juta penerima manfaat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
