Investor Asing Borong SBN Rp 28,79 Triliun di Q3 2026

Nita W. · 3 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Investor Asing Borong SBN Rp 28,79 Triliun di Q3 2026

Gambar atau konten salah?

Pasar keuangan global memang sedang tidak menentu. Suku bunga acuan di berbagai negara masih bertahan di level tinggi, atau yang sering disebut dengan istilah higher for longer. Namun di tengah situasi penuh ketidakpastian ini, Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia justru masih menarik minat investor asing. Buktinya, banyak surat utang negara yang dibeli oleh mereka sepanjang triwulan ketiga tahun 2026.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih tergolong tinggi. Hal ini terlihat dari aksi investor non-residen yang melakukan pembelian bersih atau net buy senilai Rp 28,79 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa aliran modal dari luar negeri masih terus masuk ke pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Akibat dari masuknya dana tersebut, kepemilikan investor non-residen di pasar SBN domestik naik sebesar 3,28 persen. Kenaikan ini dihitung dari posisi kepemilikan mereka pada akhir tahun 2025. Suahasil menjelaskan hal ini dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026 yang digelar di Jakarta Pusat pada Selasa, 03 November 2026.

"Kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih relatif tinggi, di mana investor non-residen mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 28,79 triliun," kata Suahasil dalam kesempatan tersebut.

Tidak hanya itu, ketahanan pasar SBN nasional juga terlihat dari selisih imbal hasil atau spread yang stabil. Pada periode yang sama, selisih imbal hasil antara Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun dengan US Treasury (UST) bertenor 10 tahun berada di angka 183 basis poin. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar 184 basis poin.

Suahasil menilai, capaian ini cukup positif. Terutama jika mengingat lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi-tingginya. Banyak bank sentral utama dunia, seperti Federal Reserve (The Fed) dari Amerika Serikat, European Central Bank dari Eropa, dan Bank of Japan dari Jepang, masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Kebijakan ini biasanya membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di negara berkembang.

"Spread SUN 10 tahun terhadap UST 10 tahun berada di level 183 basis poin atau turun tipis dibandingkan dengan akhir tahun 2025 sebesar 184 basis poin. Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah lingkungan suku bunga global yang sedang tinggi," terang Suahasil.

Ke depan, pemerintah berjanji akan terus memperkuat koordinasi. Suahasil memastikan bahwa dirinya bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yang terdiri dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan terus bekerja sama. Pengelolaan pembiayaan anggaran, termasuk penerbitan SBN, akan dilakukan secara hati-hati dan terukur. Likuiditas pemerintah dan dinamika pasar keuangan akan terus dipantau. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

"KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK, dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward-looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan, serta kami akan terus memperkuat kerjasama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global," ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun suku bunga global tinggi, investor asing masih melihat Indonesia sebagai tempat yang cukup aman untuk menanamkan modal, setidaknya melalui pembelian surat utang negara. Stabilitas imbal hasil dan koordinasi antar lembaga keuangan menjadi faktor kunci yang menjaga kepercayaan tersebut.

SBNinvestor asingkepercayaansuku bunga tinggipembelian bersihstabilitasimbal hasil

Komentar

Memuat komentar...