AS dan China Stabilisasi Harga Minyak Dunia Tengah Krisis
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Amerika Serikat dan China bersepakat untuk memainkan peran besar dalam menstabilkan harga minyak mentah dunia akibat gangguan rantai pasok dari Timur Tengah. Kedua negara berencana mencegah harga minyak melonjak lebih tinggi selama konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Pasar minyak global diperkirakan kehilangan sekitar 10 juta barel per hari ekspor dari kawasan Teluk Persia akibat blokade Iran di Selat Hormuz. Jumlah itu setara dengan 10% konsumsi minyak dunia dan menjadi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Di tengah situasi ini, China dan AS memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pasar minyak global. China telah lama menjadi importir minyak terbesar di dunia, sementara AS adalah produsen minyak terbesar dan eksportir penting. Keduanya memanfaatkan posisi ini untuk menutupi kesenjangan pasokan.
Selama perang Iran, AS meningkatkan ekspor minyak sebesar 3,5 juta barel per hari. Sementara itu, China memangkas impor minyak hingga 3,6 juta barel per hari. Secara total, langkah tersebut menutup sekitar 70% kekurangan ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia.
Jepang, Korea Selatan, dan India juga ikut menekan impor minyak mereka hingga 3,6 juta barel per hari. “AS dan China memberikan bentuk penyesuaian penting untuk mengimbangi gangguan ekspor dari Teluk Persia. Itulah mungkin mengapa harga minyak mentah Brent, patokan internasional, belum melonjak hingga US$ 120 per barel,” kata analis Deutsche Bank, Michael Hsueh dikutip dari CNBC, Sabtu (16 Mei 2026).
Ahli strategi komoditas Morgan Stanley, Martijn Rats, menyampaikan pandangan serupa. Menurut dia, pemangkasan impor China menjadi faktor paling signifikan dalam menahan kenaikan harga minyak dunia. “Pengurangan impor China menjadi hal yang luar biasa dan komponen terpenting yang menjelaskan mengapa harga minyak tidak lebih tinggi. Pertanyaannya adalah apakah AS dan China dapat mempertahankan ekspor yang lebih tinggi dan impor yang lebih rendah hingga Selat Hormuz dibuka kembali,” ujarnya.
Menurut Badan Informasi Energi AS, per Desember 2025 China memiliki cadangan minyak strategis terbesar di dunia sebanyak 1,4 miliar barel. Dengan cadangan ini, China diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan energinya selama beberapa bulan dan mungkin hingga akhir tahun.
Di sisi lain, persediaan AS berada di bawah tekanan akibat lonjakan ekspor. Pada Maret, pemerintah AS setuju untuk menggunakan 172 juta barel dari cadangannya sebagai respons terhadap guncangan harga minyak. Masalahnya, pemenuhan lonjakan ekspor minyak AS ini sebagian besar berasal dari persediaan, termasuk cadangan strategis nasional, bukan dari peningkatan produksi minyak yang saat ini diperkirakan mencapai 413 juta barel.
“Kemampuan AS untuk mempertahankan tingkat ekspor yang tinggi ini sulit untuk diukur, tetapi tampaknya berada di bawah tekanan yang lebih besar,” kata Rats.
Peran kedua negara ini menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dan strategi pasokan dapat mempengaruhi harga minyak global. Tindakan AS dan China dalam menyesuaikan ekspor dan impor berpotensi menjaga stabilitas harga, meski ketergantungan pada cadangan strategis tetap menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian pasokan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Garuda Indonesia Ubah Sistem Bagasi per 1 September 2026
Marc Marquez Pole di MotoGP Jerman, Bezzecchi Cedera
Warga Malang Mulai Borong Alat Tulis Jauh Sebelum Sekolah
Ledakan Toko Bangunan di Purwakarta, Satu Tewas
Prabowo: 3-4 Tahun Lagi RI Bisa Hasilkan Bensin dari Tanaman
PS Bhayangkara Polda Babel Juara Umum Silat IPSI Cup
Sensus Ekonomi Aceh Capai 50 Persen, Tertinggi Nasional
Bos Robbak Bon Utang Karyawan, Restoran Malah Makin Laris
