AS Masih Ada Amunisi, Tapi Pengisian Kembali Butuh Tahun
Gambar atau konten salah?
Amerika Serikat masih memiliki cukup amunisi untuk melanjutkan konflik dengan Iran, namun mengisi kembali persediaan yang menipis akan memakan waktu bertahun‑tahun. Laporan terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menegaskan hal tersebut.
Menurut CSIS, memulihkan stok empat amunisi kritis yang banyak dipakai pasukan AS selama hampir 40 hari pertempuran bersama Israel melawan Iran akan memerlukan setidaknya dua tahun, dan dalam beberapa kasus lebih dari tiga tahun. Empat amunisi utama yang menipis hingga lebih dari separuh persediaan sebelum perang meliputi Land Attack Missile (TLAM), Terminal High Altitude Area Defences (THAAD), rudal Patriot, serta rudal permukaan‑ke‑udara berbasis kapal SM‑3 dan SM‑6.
Penggantian Joint Air‑to‑Surface Standoff Missile (JASSM) dan Precision Strike Missile (PrSM) akan memakan waktu beberapa bulan hingga setahun. Persediaan PrSM sebelum perang tergolong rendah karena baru mulai diproduksi, sementara JASSM, meski banyak digunakan dalam perang Iran, akan menerima pengiriman dalam jumlah besar dari pengadaan baru‑baru ini.
“Akan ada celah kerentanan selama beberapa tahun sampai persediaan kembali ke tingkat sebelumnya, dan beberapa tahun lagi sebelum mencapai tingkat yang diinginkan oleh para perencana perang,” ungkap CSIS. Menurut analis, menipisnya pasokan amunisi dapat memengaruhi perhitungan apakah akan melanjutkan perang melawan Iran.
Masalah utama bukan pendanaan, melainkan waktu produksi, kapasitas manufaktur yang terbatas, dan waktu tunggu pengadaan. Perluasan kapasitas produksi menjadi kunci agar persediaan dapat kembali stabil.
Omar Ashour, profesor studi keamanan di Doha Institute for Graduate Studies di Qatar, menambahkan bahwa meski perang Iran tidak mengosongkan persenjataan AS secara keseluruhan, perang tersebut menghabiskan beberapa lapisan yang paling penting. “Penipisan tersebut akan memengaruhi palagan perang lainnya,” kata Ashour.
Di sisi lain, Angkatan Laut AS menunda penjualan senjata senilai USD 14 miliar ke Taiwan, yang telah disetujui oleh Kongres namun masih menunggu tanda tangan Presiden Donald Trump. Menteri Angkatan Laut menyatakan bahwa mereka membutuhkan amunisi tersebut untuk perang Iran.
Washington Post mengungkapkan awal bulan ini bahwa AS menggunakan lebih banyak pencegat pertahanan rudal canggihnya untuk membela Israel ketimbang yang digunakan oleh Israel sendiri selama 40 hari perang Iran. Pernyataan tersebut menyoroti peran strategis Amerika dalam konflik regional.
Secara keseluruhan, laporan CSIS menegaskan bahwa persediaan amunisi AS akan tetap menjadi faktor penting dalam perencanaan militer di masa depan. Keterbatasan waktu produksi dan kapasitas manufaktur menambah kompleksitas dalam menanggapi kebutuhan militer yang terus berkembang. Dengan demikian, kesiapan logistik menjadi kunci bagi kebijakan pertahanan Amerika Serikat dalam menghadapi dinamika konflik di kawasan tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
