Avtur Naik 70% Akibat Konflik Timur Tengah, Maskapai Menaik
Gambar atau konten salah?
Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah menekan harga avtur di Indonesia. Dampaknya terlihat pada kenaikan harga bahan bakar pesawat yang signifikan.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association atau INACA) mengungkapkan bahwa harga avtur domestik pada periode 1–30 April 2026 naik rata‑rata 70%, sementara harga avtur internasional meningkat 80%. Angka ini mencerminkan tekanan global yang memengaruhi pasar lokal.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengakui adanya kenaikan harga avtur oleh Pertamina. Namun ia menegaskan bahwa harga avtur di Indonesia tetap lebih kompetitif dibanding negara tetangga. “Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain, khususnya negara tetangga, itu kita masih jauh lebih kompetitif,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (6 April 2026).
Bahlil menjelaskan bahwa harga avtur mengikuti mekanisme pasar. Ia menambahkan bahwa layanan pengisian avtur tidak hanya melayani pesawat domestik, tetapi juga pesawat luar negeri yang beroperasi di Indonesia. “Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar, dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat‑pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar,” jelas Bahlil.
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, meminta pemerintah segera mengimplementasikan kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur dan Tarif Batas Atas (TBA) tiket penerbangan domestik. “Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah. Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur dan Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan domestik,” tulis Denon pada Rabu (1 April 2026).
Denon menegaskan bahwa penyesuaian ini harus segera dilaksanakan, mengingat kenaikan harga avtur yang sangat tinggi. Harga avtur mempengaruhi sekitar 40% biaya operasional maskapai penerbangan, sehingga perubahan tarif dapat berdampak langsung pada tarif tiket dan profitabilitas perusahaan.
Harga avtur yang meningkat akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah menempatkan industri penerbangan Indonesia dalam situasi sulit. Pemerintah dan regulator diharapkan dapat menanggapi dengan kebijakan yang menyeimbangkan kebutuhan maskapai dan konsumen, serta menjaga daya saing industri di pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
