Baht Menguat, Pariwisata Thailand Risiko Kehilangan 15%
Gambar atau konten salah?
Penguatan nilai tukar baht dapat mengurangi daya tarik Thailand bagi wisatawan asing. Yuthasak Supasorn, mantan Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), menilai bahwa sektor pariwisata bisa kehilangan antara 15‑17% pendapatan jika baht menguat di atas 30 per dolar AS.
Yuthasak telah menyiapkan tiga skenario pergerakan baht dan dampaknya terhadap pariwisata. Ia menyoroti bahwa krisis di Timur Tengah tetap berlanjut, sehingga nilai tukar baht dapat berfluktuasi tajam. Dalam skenario terburuk, penguatan baht diprediksi melemahkan daya saing Thailand. Biaya perjalanan yang lebih tinggi akan menekan wisata jarak jauh, sementara wisatawan jarak dekat berpotensi beralih ke negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, dan Indonesia.
Meski demikian, ia menilai kurs baht di kisaran 30‑32 per dolar AS saat ini masih belum mengurangi minat wisatawan asing. Kurs ini masih berada pada tingkat yang sesuai bagi wisatawan dengan pengeluaran fleksibel yang lebih mempertimbangkan pengalaman, kuliner, dan keamanan, kata Yuthasak.
Yuthasak menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk wisata. Saat ini, rata‑rata pengeluaran wisatawan di Thailand sekitar 300 USD (Rp 5 juta) per perjalanan, masih di bawah Jepang dan Singapura yang mencapai 600 USD (Rp 10 juta) hingga 700 USD (Rp 11,9 juta). Ia menyarankan Thailand memperkuat promosi keunggulan seperti wisata medis dan kesehatan, destinasi premium untuk kegiatan MICE, serta menjadi basis bagi pekerja digital nomaden.
Ia juga melihat potensi Thailand sebagai destinasi ketenangan di tengah situasi global yang tidak menentu. Posisi netralnya dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pertemuan dan negosiasi bisnis.
Jika baht melemah ke kisaran 32‑34 per dolar AS, kondisi tersebut dinilai lebih ideal. Harga yang lebih kompetitif dibandingkan Jepang dan Vietnam dapat meningkatkan jumlah kunjungan.
Asosiasi Hotel Thailand (THA) memperkirakan pemesanan hotel selama libur Songkran tahun ini turun antara 5‑10% dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap kenaikan biaya perjalanan serta potensi kelangkaan bahan bakar. Presiden THA, Thienprasit Chaiyapatranun, menjelaskan bahwa dampak penurunan tidak merata. Beberapa daerah diperkirakan terdampak lebih besar, seperti Chiang Mai yang tengah menghadapi masalah polusi udara.
Ia menambahkan bahwa sebagian wisatawan domestik kemungkinan menunda perjalanan darat jarak jauh, termasuk rute Bangkok‑Chiang Mai. Sementara itu, Krabi dilaporkan mengalami peningkatan pembatalan penerbangan. Dalam situasi ini, pelaku hotel cenderung menahan kenaikan tarif kamar dan menawarkan berbagai insentif tambahan untuk menarik wisatawan.
Dengan nilai tukar baht yang masih fluktuatif, sektor pariwisata Thailand harus menyesuaikan strategi. Fokus pada peningkatan kualitas layanan, diversifikasi produk wisata, dan promosi nilai tambah dapat membantu menjaga daya tariknya di mata wisatawan global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kebun Raya Cibodas Tetap Rp15.500/Tiket, Tanpa Kenaikan
Kebun Binatang Bandung Tunggu Izin Operasi, Faunaland Siap?
Trans Luxury Hotel Surabaya Harga Promo Rp 999.000
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Dean Huijsen di Bali, Tidak Dipanggil Timnas Spanyol 2026
Perang Pandan Tenganan: Tradisi Daya Tarik Wisatawan
Berita Terbaru
Brusky 125 di Jakarta Fair, Hadapi Honda Vario Fitur USB
Workshop UMKM Jambi: Inovasi Produk Kuliner Berbahan Sawit
Hari Donor Darah Sedunia 2026: Setetes Kemanusiaan, Selamatkan
Pegadaian Mengajar: Mahasiswa UMI Pelajari Investasi Emas
Antonio Gracias Jadi Saham Kedua SpaceX, Rp 1 Triliun
Unesa Buka Jalur Non Tes Rapor 10‑22 Juni 2026 SMA, MA, SMK
BBM Non‑Subsidi Naik Rp 16.250/17.000, Warga Terkejut
