Banjir Parah di Embacang Lama Evakuasi 424 Warga ke Baru
Gambar atau konten salah?
Di Desa Embacang Lama, Kabupaten Musi Rawas Utara, banjir parah menenggelamkan permukiman. Air setinggi kepala orang dewasa membuat 424 warga terpaksa mengungsi ke Desa Embacang Baru pada 08 Mei 2026. Camat Karang Jaya, Rusli, melaporkan bahwa semua rumah di desa tersebut terendam.
“Kalau banjir saat ini di Kecamatan Karang Jaya tidak terlalu parah lagi. Yang paling parah kemarin (Jumat) di Desa Embacang Lama, kemarin air sempat setinggi kepala orang dewasa,” kata Rusli pada 09 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa kondisi air di desa baru tidak terlalu tinggi, meski tetap terdampak banjir.
Evakuasi dilakukan secara cepat. “Kemarin karena sudah setinggi kepala jadi warga mengungsi ke Desa Embacang Baru. Kami evakuasi semua warga ke sana karena ada posko di Desa Embacang Baru,” ujarnya. Posko di desa baru dilengkapi obat-obatan dan perlengkapan kesehatan, sehingga tidak ada korban jiwa atau warga sakit.
Selain merendam rumah, banjir memaksa warga menyelamatkan ternak. Rusli menyebut kambing sebagai hewan yang paling banyak berhasil dievakuasi. Ia memperkirakan sekitar 50 ekor kambing dipindahkan, namun beberapa ternak tidak sempat diselamatkan. “Kalau ternak kemarin dipindahkan semua ke Desa Embacang Baru. Yang sempat diselamatkan itu kambing, sementara ayam dan bebek banyak yang ditinggal karena tidak sempat lagi diselamatkan. Kalau sapi memang tidak ada, sementara kerbau itu dilepas ke hutan,” jelasnya.
Setelah banjir mereda, beberapa warga mulai kembali ke rumah masing-masing. “Sebagian warga yang sebelumnya mengungsi kini mulai kembali ke rumah masing-masing. Kondisi banjir saat ini sudah tidak separah sehari sebelumnya. Ketinggian air yang sempat melebihi kepala orang dewasa kini turun hingga setinggi lutut orang dewasa,” ungkap Rusli. Ia juga menegaskan bahwa kambing masih banyak di Desa Embacang Baru, namun sebagian warga sudah membawa kambing mereka kembali ke desa lama.
Meski banjir menimbulkan kerugian, upaya evakuasi dan penyiapan posko berhasil menghindari korban jiwa. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan lokal dalam menghadapi bencana. Warga yang kembali ke rumah kemungkinan akan memulai proses pemulihan, mulai dari membersihkan rumah hingga mengembalikan ternak ke kandang.
Peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya infrastruktur di daerah rawan banjir. Meskipun air sudah menurun, dampak jangka panjang bagi ekonomi peternakan dan keamanan pangan masih menjadi perhatian. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat sistem drainase dan memperbaiki fasilitas posko agar lebih siap menghadapi banjir di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
