Batu Lingga Prasasti Klaten Dipindahkan ke Museum Klaten
Gambar atau konten salah?
Batu lingga prasasti yang ditemukan di gang Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten kini akan dipindahkan ke museum Klaten. Batu tersebut terbuat dari batu andesit dan menampilkan aksara kuno yang masih dapat dibaca. Relokasi ini menjadi langkah penting dalam pelestarian warisan budaya daerah.
“Setelah kemarin kita tinjauan ke lokasi maka untuk pengamanan kita bawa ke museum sebagai koleksi dan bahan edukasi,” ungkap pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung.
Pada Senin, 15 Juni 2026, Wiyan Ari Tanjung mengumumkan rencana relokasi batu lingga prasasti ke museum Klaten.
Rencana relokasi akan dilaksanakan dalam pekan ini, sehingga batu lingga prasasti menjadi koleksi pertama di museum Klaten. Proses ini melibatkan pengamanan, pengukuran, dan dokumentasi sebelum dipindahkan ke ruang eksposur.
“Ya monggo, tidak apa karena di sini cuma digeletakkan. Bisa dimanfaatkan di museum,” ungkap Yanti, pemilik rumah tempat lingga ditemukan. Ia menegaskan bahwa batu tersebut lebih baik dipajang di museum daripada tetap terabaikan di gang rumah.
Batu tersebut dulunya terletak di depan kamar mandi rumahnya, berfungsi sebagai tiang penopang padasan sejak zaman kakeknya, Mbah Amat. Setelah rumah dibangun, lingga itu digeser dan diletakkan di tempat yang sekarang.
Pamong budaya ahli pertama BPK Jateng, Harun Al Rasyid, menjelaskan bahwa timnya menindaklanjuti informasi adanya lingga prasasti pada hari ini. Mereka mengukur, mendokumentasikan, dan membawa ahli epigraf untuk analisis lebih lanjut.
Hasil pengukuran menunjukkan tinggi batu lingga 82 sentimeter, diameter 34 sentimeter, dan alas kubus 32 x 32 sentimeter. Tinggi huruf mencapai 3,5 sentimeter dengan panjang tulisan 34 sentimeter, menandakan ukuran yang cukup besar untuk sebuah prasasti.
Ejaan tulisan pada batu tersebut sama dengan prasasti lain yang dikenal dengan nama Palyangan. Aksara ini berasal dari era Mataram kuno abad kesembilan hingga kesepuluh Masehi, menandai periode akhir sejarah kerajaan tersebut.
Epigraf BPK Jateng, Yoses Tanzaq, menjelaskan hasil pembacaan tulisan berbunyi Palyangan. Ia menilai bahwa aksara tersebut berasal dari era Mataram kuno Medang akhir. Yoses berencana membandingkan dengan prasasti-prasasti era Mpu Sindok atau Airlangga.
Sebelumnya, sebuah batu lingga ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Penemuan ini diungkapkan oleh Wiyan Ari Tanjung ketika timnya melakukan blusukan ke lokasi setelah menerima informasi di dekat masjid Al Muttaqien.
Saat tiba di lokasi, posisi lingga terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah dibersihkan, ditemukan aksara yang masih jelas. Tahap awal dilakukan dokumentasi, pengukuran dimensi, dan permintaan bantuan epigraf untuk membaca tulisan tersebut.
Dengan langkah ini, Klaten menegaskan komitmen dalam melestarikan warisan budaya. Batu lingga prasasti tidak hanya menjadi koleksi museum, namun juga menjadi bahan edukasi bagi masyarakat. Proses ini menambah pemahaman tentang sejarah Mataram kuno di wilayah tersebut.
Museum Klaten, yang baru dibuka pada tahun 2020, berfokus pada koleksi artefak lokal. Penambahan batu lingga prasasti akan memperkaya galeri, memberikan contoh nyata bagi pengunjung tentang sejarah dan kebudayaan Jawa.
Warga setempat turut berperan dalam proses pengamanan. Mereka membantu menandai lokasi, memberi informasi sejarah, dan menyiapkan ruang penyimpanan sementara sebelum batu dipindahkan ke museum.
Para ahli epigraf berencana melakukan analisis lebih mendalam, termasuk pencocokan huruf dengan prasasti lain di Jawa Timur. Hasilnya akan dipublikasikan dalam jurnal sejarah regional.
Di museum, batu lingga prasasti akan dipajang bersama penjelasan interaktif. Pengunjung, terutama pelajar, dapat mempelajari cara membaca aksara kuno dan memahami konteks sejarah Mataram.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Anggota Keluarga Meninggal Akibat Keracunan CO di Tenda Posong
Korban Tak Terkenali Tewas di Kebun Dukuh Kerun Baru
MBG Losari Brebes Pakai Magot, Buang Sampah Makanan 2 Ton
Sholat Tasbih di Malam 1 Muharam 2026 Menjadi Fokus Umat
Polresta Solo Siapkan 854 Personel Amankan Kirab Malam 1Suro
Doa dan Amalan Utama di Awal Muharam Menjadi Fokus Muslim
Berita Terbaru
Marc Klok Persib Siap Menonton Piala Dunia 2026 di Miami
Empat Anggota Keluarga Meninggal Akibat Keracunan CO di Tenda Posong
SPMB SD Kabupaten Bogor 2026 Dibuka, Daftar Hingga 27 Juni
Korban Tak Terkenali Tewas di Kebun Dukuh Kerun Baru
BGN Ubah Insentif SPPG Sesuai Jumlah Penerima
Megawati Peresmikan Istana Gebang, Soroti Hak Rakyat dan Prabowo
Megawati Kunjungi Istana Gebang dan Patung Bung Karno Blitar
Megawati Serahkan Bibit Pohon Saat Renovasi Istana Gebang
