Empat Anggota Keluarga Meninggal Akibat Keracunan CO di Tenda Posong
Gambar atau konten salah?
Polisi Temanggung meneliti kematian empat anggota keluarga UGM yang terkapar di dalam tenda saat berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung. Menurut Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini, korban tewas akibat keracunan karbon monoksida.
Peristiwa dimulai pada 26 Mei 2026 pukul 21.02 WIB. Kapolres mengungkapkan bahwa keempat korban, sebuah keluarga, tiba di Taman Wisata Alam Posong. Petugas loket, Ahmad Toha, mengirim pesan WhatsApp ke dua penjaga area kamping, Anas dan Agus, memberitahu kedatangan keluarga tersebut. “Saksi Anas dan saksi Agus sedang bekerja sif malam penjagaan kamping di Taman Wisata Alam Posong, mendapat WA grup oleh saksi Ahmad Toha yang bekerja sebagai petugas loket, memberitahukan bahwa keempat korban datang untuk menuju lokasi camping yang sudah dipesan,” kata Zamrul dalam konferensi pers.
Setelah itu, keluarga mengendarai satu mobil Hionda Jazz RS GK5 berwarna putih. Mobil diparkir di area taman. Salah satu anggota, M, bersama AEH turun menemui saksi Agus di gerbang. Sementara BAH dan MAM masih menurunkan barang, antara lain kompor gas portable, tas punggung, dan perlengkapan lainnya.
Pukul 22.30 WIB, Anas dan Agus mengantar makanan dan tungku arang ke Tenda Kamping Glamping Safari Nomor 3. Mereka mengingatkan agar tungku arang tidak dimasukkan ke dalam tenda. “Sesampainya di lokasi saksi Anas berpesan kepada korban M, 'Ini untuk tungku briketnya bu, dan tungku penghangat badan tidak boleh dimasukkan ke dalam tenda karena bisa menyebabkan kebakaran dan asapnya bisa mengganggu pernapasan'. Kemudian korban M menjawab, 'Oh, iya mas'," jelas Zamrul. Sementara itu, saksi Agus menegaskan, “Apabila terjadi sesuatu untuk menghubungi nomor admin yang ada.”
Menjelang tengah malam, Anas dan Agus memeriksa tenda. Mereka menemukan korban masih melakukan aktivitas barbeque. “Pukul 00.00 WIB saksi Anas dan saksi Agus melakukan pengecekan ke Tenda Kamping Safari nomor 3 dan terlihat korban masih melakukan aktivitas barbeque,” ujar Zamrul.
Hari berikutnya, 27 Mei 2026, pukul 09.00 WIB, Anas dan Agus kembali mengantarkan sarapan ke tenda. Namun tenda tetap tertutup rapat. “Lalu saksi Anas dan Agus bergantian memanggil dengan mengucapkan 'selamat pagi mau mengantar breakfast'. Karena tidak ada respons, saksi Anas meletakkan breakfast di teras tenda bagian kanan,” kata Anas.
Pukul 12.00 WIB, Zaki turun ke tenda Glamping Safari Nomor 3 untuk membersihkan area. Tenda masih tertutup dan tidak ada aktivitas. Pukul 15.30 WIB, Zaki kembali melakukan clean up. Ia mencoba memanggil pemilik tenda, namun tidak ada respons. “Karena sudah melewati jam check out, saksi Zaki berkata 'permisi pak, mohon maaf, izin bapak sudah melebihi jam check out', namun tidak ada respons,” jelas Zamrul. Zaki akhirnya membuka resleting pintu tenda dan menemukan keempat korban tertidur. Ia memeriksa pernapasan salah satu korban dan menemukan kondisi kaku.
Pukul 16.00 WIB, Direksi Taman Wisata Alam Posong datang untuk memeriksa kondisi korban. Mereka menghubungi Polsek Parakan dan melaporkan empat orang meninggal dunia di dalam tenda Glamping Safari Nomor 3. “Direksi Taman Wisata Alam Posong datang untuk mengecek kondisi korban, serta menelfon anggota Polsek Parakan dan memberitahu bahwa ada empat orang meninggal dunia di dalam tenda Glamping Safari Nomor 3 Taman Wisata Alam Posong,” kata Zamrul.
Polisi menyimpulkan kematian akibat keracunan karbon monoksida. Penyelidikan menggunakan metode Scientific Crime Investigation (SCI). Ahli Bid Dokkes Polda Jawa Tengah melakukan pemeriksaan luar dan dalam jenazah salah satu korban, Alvino Evan Hakim (AEH). Hasil laboratorium kriminalistik menunjukkan potongan organ urine dan darah positif mengandung karbon monoksida dan negatif sianida. “Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium kriminalistik dapat disimpulkan bahwa barang bukti berupa potongan organ urine dan darah positif mengandung karbon monoksida dan negatif sianida,” kata Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini.
Polisi tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Semua korban mengalami mati lemas tanpa luka akibat benda tumpul atau tajam. “Tidak didapatkan luka akibat kekerasan benda tumpul atau tajam, didapatkan tanda mati lemas dan pembusukan sebab kematian adalah keracunan karbon monoksida mengakibatkan mati lemas,” ujarnya. Karbon monoksida berasal dari pembakaran briket atau arang di tungku yang disediakan pengelola. Tungku tersebut berada di dalam tenda yang tertutup rapat.
Hasil toksikologi juga menegaskan keracunan karbon monoksida. “Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang toksikologi, didapatkan tanda keracunan karbon monoksida. Tidak didapatkan keracunan sianida,” ungkap Zamrul.
Empat korban adalah warga Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Mereka terdiri dari Muhammad Ali Munawar (MAM) berusia 52 tahun, Alvino Evan Hakim (AEH) berusia 17 tahun, Bagas Amar Hakiki (BAH) berusia 21 tahun, dan seorang perempuan berinisial Maghfirah (M) berusia 43 tahun. Semua anggota keluarga ini terlibat dalam kegiatan berkemah di Taman Wisata Alam Posong.
Keputusan polisi menegaskan bahwa tidak ada unsur kekerasan. Semua bukti menunjuk pada keracunan karbon monoksida akibat penggunaan tungku di dalam tenda tertutup. Kegiatan barbeque yang berlangsung di dalam tenda menjadi penyebab utama terjadinya kondisi tersebut. Tindakan membuka pintu tenda pada saat check out menjadi momen terakhir ketika petugas menemukan korban dalam kondisi kaku.
Polisi menekankan pentingnya memperhatikan peraturan penggunaan tungku di area tenda. Penggunaan tungku di dalam tenda tertutup dapat menimbulkan risiko keracunan karbon monoksida. Masyarakat diharapkan selalu mematuhi petunjuk pengelola dan menghindari penggunaan tungku di dalam tenda yang tertutup rapat.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kegiatan berkemah, meski tampak aman, tetap memerlukan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan. Pengelola tempat wisata dan petugas keamanan harus memastikan semua peralatan berfungsi dengan baik dan petugas keamanan harus memantau penggunaan tungku secara ketat. Sementara keluarga korban, yang terlibat dalam kegiatan berkemah, harus menyadari bahaya yang dapat timbul dari penggunaan tungku di dalam tenda tertutup.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Korban Tak Terkenali Tewas di Kebun Dukuh Kerun Baru
MBG Losari Brebes Pakai Magot, Buang Sampah Makanan 2 Ton
Sholat Tasbih di Malam 1 Muharam 2026 Menjadi Fokus Umat
Polresta Solo Siapkan 854 Personel Amankan Kirab Malam 1Suro
Doa dan Amalan Utama di Awal Muharam Menjadi Fokus Muslim
Kerajaan dan Pemerintah Solo Koordinasi Kirab Suro
Berita Terbaru
SPMB SD Kabupaten Bogor 2026 Dibuka, Daftar Hingga 27 Juni
Korban Tak Terkenali Tewas di Kebun Dukuh Kerun Baru
BGN Ubah Insentif SPPG Sesuai Jumlah Penerima
Megawati Peresmikan Istana Gebang, Soroti Hak Rakyat dan Prabowo
Megawati Kunjungi Istana Gebang dan Patung Bung Karno Blitar
Megawati Serahkan Bibit Pohon Saat Renovasi Istana Gebang
Muara Enim Sambut 1 Muharram dengan Pawai Obor dan Lemang
Gamelan di AS: Warisan Budaya, Jembatan Seni Global