BCA Dukung Desa Patakbanteng: Pariwisata, UMKM, Agrowisata

Teguh A. · 3 min baca · 15 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
BCA Dukung Desa Patakbanteng: Pariwisata, UMKM, Agrowisata

Gambar atau konten salah?

Pariwisata di Indonesia menawarkan banyak pilihan bagi wisatawan, baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu destinasi menarik adalah Desa Patakbanteng yang terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Desa ini menjadi rute favorit bagi pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Prau, namun potensi lainnya masih banyak ditemukan di sekitar Patakbanteng.

Seorang warga desa, Solikin, mengingat kembali sejarah desa ini ketika pada tahun 2004 Desa Patakbanteng mewakili Kabupaten Wonosobo dalam lomba desa wisata. Hasilnya membanggakan: desa tersebut meraih juara satu di bidang resiliensi. “Kategori resiliensi itu berkaitan dengan teman‑teman yang menjadi pengelola (tempat wisata) itu semua sudah bersertifikat rescue dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dari situ dilihat nilai ekonomi dengan kegiatan pariwisata itu memang sudah sangat membantu,” ujar Solikin kepada wartawan, dikutip 11 Juni 2026.

Resiliensi di sini tidak hanya tentang kesiapsiagaan, tetapi juga tentang bagaimana warga memanfaatkan potensi pariwisata untuk meningkatkan pendapatan. Salah satu contoh sederhana adalah layanan ojek menuju puncak gunung. Dari satu sektor transportasi ini saja, sudah ada sekitar 100 warga desa yang terlibat. “Kalau di akhir pekan, itu (supir ojek) kadang ada yang sampai 50 kali untuk membawa teman‑teman pengunjung. Itu di ekonomi ya sudah lumayan. Selain itu ada di UMKM, warung‑warung yang ada di depan basecamp itu yang buka 24 jam juga sudah banyak,” tambah Solikin.

Selain transportasi, UMKM di Patakbanteng juga berkembang. Warung‑warung yang buka sepanjang malam menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga. Di sisi lain, desa ini juga dikenal dengan hasil bumi unggulan, seperti kentang dan tanaman purwoceng. Industri rumahan di sini memproduksi makanan khas, termasuk manisan carica dan keripik kentang, yang menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Meski sektor pariwisata memberikan dorongan ekonomi, generasi muda di Patakbanteng masih kurang tertarik pada pertanian. Hal ini memicu Solikin untuk menjaga keunikan hasil bumi desa. “Karena petani itu kebutuhan pokok di negara kita. Jadi, kita ingin mengembangkan agrowisata. Bagaimana caranya agar tamu‑tamu yang datang ke Patakbanteng itu bisa belajar menanam, melihat proses panen secara langsung dengan pemandangan alam yang seperti ini,” ujar Solikin dengan optimisme.

Untuk memperkuat potensi ekonomi desa, PT Bank Central Asia (BCA) melalui program Bakti BCA ingin terlibat. “Bakti BCA hadir di Desa Patakbanteng relatif baru. Kita sedang dalam tahap menyelesaikan rancangan program. Akan ada tiga fase yang kita siapkan bersama dengan teman‑teman dari Desa Patakbanteng,” ungkap VP Corporate Social Responsibility BCA, Nona Faletta.

Fase pertama adalah pembuatan desain program. Nona menjelaskan bahwa warga desa sudah lebih dulu mengidentifikasi potensi dan peluang bisnis yang dapat dikembangkan. “Menggali gap potensi dan kompetensi yang masih ada. Nanti kita akan isi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia seperti apa yang akan cocok,” lanjutnya.

Fase kedua, atau fase enabler, mencakup penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia yang masih memiliki kekurangan. “Fase enabler akan dilakukan selama setahun ke depan,” jelas Nona.

Fase ketiga berfokus pada perluasan akses pasar. “Mungkin masih banyak tempat‑tempat lain yang belum mengetahui bahwa Patakbanteng bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mereka bisa berwisata. Atau mungkin belajar sesuatu tentang nilai‑nilai kehidupan yang ada di masyarakat,” tambah Nona.

Di sisi lain, VP Corporate Communication BCA, Mas Wendiyanto Saputro, menegaskan bahwa program ini akan dilakukan secara partisipatif melalui Generasi Berbakti. “Dengan demikian, BCA akan menggandeng mahasiswa untuk mengajukan proposal pengabdian masyarakat. Salah satu fokus lokasi pengabdiannya adalah Desa Patakbanteng. Jadi, nanti di bulan Juli akan ada yang live‑in selama satu bulan dari teman‑teman mahasiswa,” kata Wendi.

Proses pengabdian melibatkan penjurian, penilaian, dan penyaringan proposal. “Kita kurasi, kita verifikasi, dan kita support dari sisi pendanaan programnya para mahasiswa itu juga. Selama satu bulan itu akan membersamai warga desa ini untuk mencoba bersama‑sama mencarikan solusi atas berbagai isu,” tutup Wendi.

Dengan dukungan BCA dan inisiatif warga, Patakbanteng berpotensi menjadi contoh desa yang menggabungkan pariwisata, pertanian, dan inovasi sosial. Keberhasilan sebelumnya di bidang resiliensi menunjukkan bahwa desa ini mampu mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi. Melalui program BCA, diharapkan potensi pariwisata, UMKM, dan agrowisata dapat terintegrasi, memberi manfaat langsung kepada masyarakat setempat, dan menarik minat generasi muda untuk terlibat lebih aktif dalam pengembangan desa.

Desa PatakbantengpariwisataUMKMagrowisataBCA BaktiresiliensiGunung Prau

Komentar

Memuat komentar...