Harga Pertamax Naik Rp16.250, Konsumen Harus Tanggap

Surya B. · 2 min baca · 3 jam lalu · 11 dibaca
Bisik.id
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Konsumen Harus Tanggap

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujar Roberth. Ia menambahkan bahwa proses penyesuaian mengikuti mekanisme pasar yang telah diatur.

Menanggapi pertanyaan publik, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak lepas dari gejolak kondisi geopolitik global. Suasana tegang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia bergerak sangat fluktuatif. Ia juga menyoroti perkembangan terbaru, di mana Iran kembali menutup jalur pelayaran Selat Hormuz untuk siapapun tanpa kecuali.

“Dan ini tentu mau tidak mau berpengaruh terhadap harga BBM di tanah air. Terutama untuk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax salah satunya, dan BBM nonsubsidi ini, penyesuaian harganya mengikuti mekanisme pasar, sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Anggi.

Hasil penyesuaian tersebut tercermin pada harga Pertamax yang kini menjadi Rp 16.250 per liter, naik hampir Rp 4.000 dari harga sebelumnya. Banyak masyarakat terkejut mengetahui kenaikan ini, yang diumumkan pada dini hari Rabu, 10 Juni 2026.

Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKAI) menilai bahwa kenaikan ini dapat menimbulkan tiga dampak utama. Pertama, konsumen BBM nonsubsidi jenis Pertamax kemungkinan akan beralih ke Pertalite. Kedua, penurunan daya beli masyarakat, terutama warga kelas menengah, dapat terasa lebih tajam. Ketiga, masyarakat mengalami kerugian akibat pengumuman tiba-tiba.

“Sebagai produk yang digunakan secara luas dan berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga, perubahan harga seharusnya disampaikan secara lebih transparan dan memberikan waktu yang cukup bagi konsumen untuk menyesuaikan keputusan ekonominya,” kata Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo.

Di sisi lain, sebuah kasus kriminal menarik perhatian publik. Krisno, seorang pria asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, dikabarkan menjadi korban penyekapan oleh dua perempuan yang memanfaatkan modus lowongan kerja palsu. Ia dikabarkan disekap, disiksa, dan diperas Rp 100 juta. Setelah berhasil kabur dengan terluka dan berlumuran darah, Krisno melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Denpasar, yang kemudian ditangani oleh Polsek Kuta.

Sementara itu, pada sore hari, akan diadakan acara talk show yang menampilkan Elisabeth Tita, pendiri kelompok seni Waktunya Main. Tita, yang dikenal dengan karya seni yang mengajak orang terhubung kembali dengan masa kecilnya, akan membahas pentingnya bermain bagi semua usia. Ia mengatakan, “Tak hanya bagi anak-anak, bermain juga menjadi kebutuhan orang dewasa untuk kembali terhubung dengan diri mereka sendiri.”

Acara tersebut akan disiarkan secara langsung setiap Senin hingga Jumat, pukul 15.30–18.00 WIB. Penonton dapat mengikuti siaran melalui platform streaming yang tersedia.

Perubahan harga Pertamax menandai dinamika pasar energi yang dipengaruhi oleh faktor global dan kebijakan pemerintah. Sementara itu, kasus penyekapan menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penipuan. Di sisi lain, upaya seni Tita menegaskan nilai budaya dalam kehidupan sehari‑harinya. Semua peristiwa ini mencerminkan kompleksitas kehidupan modern di Indonesia, di mana kebijakan, keamanan, dan budaya saling berinteraksi dalam keseharian masyarakat.

PertamaxPenyesuaian harga BBMGejolak geopolitikKenaikan hargaKonsumenKejahatan penyekapanSeni Waktunya Main

Komentar

Memuat komentar...