Bekerja Keras Bisa Bahagia Bila Dukung Kepemimpinan Inklusif

Jaka M. · 2 min baca · 1 jam lalu · 37 dibaca
Bisik.id
Bekerja Keras Bisa Bahagia Bila Dukung Kepemimpinan Inklusif

Gambar atau konten salah?

Stres dan kelelahan sering dikaitkan dengan kerja sampai larut malam. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menunjukkan bahwa workaholic tidak selalu membawa dampak negatif.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hasilnya menegaskan bahwa kecenderungan bekerja berlebihan dapat meningkatkan kebahagiaan kerja bila karyawan merasa terus berkembang dan didukung oleh lingkungan kerja yang positif.

Studi berjudul Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia dipimpin oleh Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, Prof. Reni Rosari.

Prof. Reni menyoroti pentingnya inclusive leadership—kepemimpinan yang memfokuskan pada pencapaian target sekaligus memastikan setiap karyawan dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berkembang.

Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut. Di sinilah konsep inclusive leadership menjadi penting,” ujarnya, dilansir pada 07 Juni 2026.

Temuan menarik lain berkaitan dengan workaholism. Berbeda dengan banyak studi sebelumnya yang mengaitkan workaholism dengan stres, penelitian UGM menunjukkan kondisi tersebut tidak selalu berdampak negatif.

Prof. Reni menjelaskan bahwa karyawan yang workaholic dapat tetap merasakan kebahagiaan kerja ketika mereka mengalami thriving at work—kondisi di mana seseorang merasa produktif sekaligus terus belajar dan bertumbuh.

Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan. Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” tutur Reni.

Menurutnya, budaya kerja di Indonesia, terutama di banyak BUMN, memiliki karakteristik tersendiri. Struktur organisasi yang cenderung hierarkis dan tuntutan kerja tinggi sering membuat kerja keras dipandang sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral.

Oleh karena itu, keberadaan pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang adil dan suportif menjadi sangat penting. Penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan kebahagiaan kerja tidak cukup hanya melalui fasilitas atau insentif, tetapi perlu dibarengi dengan hubungan yang sehat antara pimpinan dan karyawan.

Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan,” tutupnya.

Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan inklusif dapat mengubah persepsi kerja keras menjadi pengalaman yang memuaskan. Dengan memberi ruang bagi karyawan untuk berkembang, organisasi dapat memanfaatkan potensi kerja berlebih tanpa menimbulkan stres berlebihan.

workaholickebahagiaan kerjakepemimpinan inklusifBUMNthriving at workkaryawanstres

Komentar

Memuat komentar...