BGN Sambut Beras Premium Bulog, Prioritas Utama Tetap Lokal

Ningsih R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BGN Sambut Beras Premium Bulog, Prioritas Utama Tetap Lokal

Gambar atau konten salah?

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, memberikan tanggapan positif terhadap usulan yang diajukan oleh Perum Bulog. Usulan tersebut berkaitan dengan penyediaan beras premium untuk mendukung pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun menyambut baik, Sudaryono dengan tegas menyatakan bahwa prioritas utama program ini tetap pada penggunaan bahan pangan lokal.

Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memperkuat ekonomi di tingkat daerah. Caranya dengan memberdayakan petani setempat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta rantai pasok pangan yang berada di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Peran Bulog tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemasok lokal yang sudah ada.

Sebaliknya, Bulog akan berfungsi sebagai penyangga atau buffer. Fungsi ini baru akan aktif ketika pasokan beras di suatu wilayah mengalami kekurangan atau ketika terjadi gejolak harga yang tidak stabil. "Usulan dari Bulog kami pandang positif. Namun yang ingin kami tegaskan, Program MBG tetap memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari daerah setempat. Kami ingin petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan manfaat dari perputaran ekonomi yang dihasilkan program ini," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 01 Agustus 2026.

Penting untuk dicatat, usulan dari Bulog ini bukanlah mengenai beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Jenis beras yang diusulkan adalah beras premium. Beras premium ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai cadangan. Khususnya ketika suatu daerah mengalami keterbatasan pasokan beras dari sumber lokal.

Menurut Sudaryono, keberadaan Bulog sebagai lembaga negara memiliki peran yang sangat strategis. Peran tersebut mencakup menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan stok pangan nasional. "Bulog memiliki fungsi sebagai stabilisator harga dan penjaga stok pangan. Karena itu kami ingin menempatkan Bulog sebagai buffer. Ketika pasokan beras lokal belum mencukupi atau ada potensi kenaikan harga akibat meningkatnya kebutuhan, Bulog dapat menjadi penyangga sehingga masyarakat tetap memperoleh harga yang wajar dan stok pangan tetap tersedia," jelas Sudaryono.

Ia menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari strategi BGN. Tujuannya agar Program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi daerah-daerah. Dengan mengutamakan pembelian bahan pangan dari lingkungan sekitar SPPG, perputaran ekonomi di tingkat desa maupun kecamatan diharapkan akan semakin meningkat.

"Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru memicu gejolak harga di suatu wilayah karena menyerap pasokan yang terbatas. Karena itu kami memprioritaskan bahan pangan lokal terlebih dahulu. Jika memang terjadi kekurangan, baru Bulog hadir sebagai penyangga agar harga tetap stabil dan pasokan tetap aman," tutup Sudaryono.

Program MBG dirancang untuk memberikan dampak ganda. Pertama, meningkatkan asupan gizi bagi masyarakat yang membutuhkan. Kedua, menggerakkan roda ekonomi lokal melalui pembelian bahan pangan dari petani dan UMKM setempat. Keterlibatan Bulog hanya sebagai jaring pengaman, bukan sebagai pemain utama dalam rantai pasok program ini. Hal ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari program tersebut tetap dirasakan oleh komunitas lokal terlebih dahulu.

Beras PremiumProgram MBGBahan Pangan LokalBulogBufferUMKMEkonomi Daerah

Komentar

Memuat komentar...