BI Menaikkan Suku Bunga, KPR dan Pinjaman Online Naik

Jaka M. · 3 min baca · 2 hari lalu · 138 dibaca
Bisik.id
BI Menaikkan Suku Bunga, KPR dan Pinjaman Online Naik

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini diambil untuk memperkuat mata uang rupiah dan menahan kenaikan harga barang. BI Rate dipasang lebih tinggi, sehingga harapan pasar adalah nilai rupiah akan lebih stabil dan inflasi tidak melambung.

Namun, kenaikan BI Rate langsung memicu kenaikan suku bunga pinjaman bagi masyarakat. Kelas menengah dan kelas bawah akan merasakan dampak terbesar karena mereka sering menggunakan kredit untuk membeli rumah, mobil, atau barang elektronik.

“Biasanya kenaikan BI rate lebih cepat direspons oleh kenaikan suku bunga pinjaman untuk kredit konsumsi dan kredit investasi. Beda kalau BI menurunkan suku bunga, perbankan biasanya menurunkan suku bunga lebih lambat. Tapi kalau naik biasanya lebih cepat. Biasanya dalam sebulan akan naik,” kata Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, kepada detikcom, Selasa (9/6/2026).

Efeknya terlihat pada KPR dan pinjaman online. KPR biasanya menyesuaikan suku bunga secara otomatis ketika BI Rate naik. Pinjaman online, yang dikelola oleh pelaku usaha, juga akan menaikkan suku bunga sesuai kebijakan bank.

“Termasuk tadi KPR biasanya mengikuti. Termasuk pinjaman online juga bunganya pasti oleh pelaku usaha akan ikut naik. Konsekuensinya seperti itu,” tegas Tauhid.

Untuk kelas menengah, kenaikan bunga berarti mereka harus menghitung ulang rencana kredit. Mereka harus memutuskan apakah membeli barang mahal dengan cicilan tenor panjang atau lebih pendek. Jika bunga naik, mereka cenderung memanjangkan tenor, namun total beban cicilan akan lebih tinggi.

“Bagi kelas menengah mereka akan menghitung ulang apakah membeli barang yang mahal dengan cicilan tenor panjang atau justru lebih pendek. Jadi kalau bunga naik ya biasanya mereka bisa saja memanjangkan (tenor), tapi beban totalnya akan lebih berat,” jelasnya.

Di sisi lain, kelas bawah juga tertekan. Mereka biasanya bergantung pada subsidi dan tidak sering mendapatkan pinjaman karena tidak memenuhi syarat. Namun, kenaikan suku bunga tetap memengaruhi mereka melalui biaya hidup yang lebih tinggi.

“Jadi ya mereka akan wait and see untuk konsumsi barang-barang yang katakanlah pinjamannya cukup tinggi termasuk KPR, motor, alat elektronik. Kelas bawah juga tertekan, cuma bawah ini kan ada bantalan subsidi, dan mereka nggak banyak dapat pinjaman karena tidak sebagai kelompok yang eligible,” terang Tauhid lagi.

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, menambahkan bahwa penguatan mata uang Garuda membawa risiko kenaikan suku bunga pinjaman. Hal ini membuat cicilan kredit, termasuk KPR, menjadi lebih berat bagi masyarakat.

“Jadi biasanya behavior-nya itu kalau BI rate itu naik, yang naik duluan adalah kenaikan di suku bunga kredit di perbankan. Maksudnya ini respons daripada perbankan komersialnya dengan kenaikan tingkat suku bunga acuan,” ucapnya.

Risiko kenaikan cicilan KPR akan menambah beban keuangan, terutama bagi kelas menengah dan bawah. Bank harus menyesuaikan suku bunga sesuai kondisi nasabah agar tidak menekan konsumsi.

“Kalau selaku konsumennya, kalau sasaran konsumennya itu menengah ke bawah, nah itu biasanya memang agak susah untuk bisa menyerap kenaikan suku bunga KPR. Nah, itu juga jadi ada perbedaan antarbank penyedia KPR dalam merespons kenaikan tingkat suku bunga acuan,” tuturnya.

Secara keseluruhan, kenaikan BI Rate diharapkan menstabilkan rupiah dan menahan inflasi, namun juga menimbulkan tekanan pada cicilan kredit. Kelas menengah dan kelas bawah harus menyesuaikan rencana pembelian mereka, sementara bank perlu menyeimbangkan kebijakan suku bunga dengan kemampuan bayar nasabah. igo/fdl

BI Ratesuku bungarupiahinflasiKPRkelas menengahkelas bawah

Komentar

Memuat komentar...