BI Rate Naik 25 BP, Fokus Stabilitas Nilai Tukar Indonesia

Yanto K. · 2 min baca · 2 hari lalu · 36 dibaca
Bisik.id
BI Rate Naik 25 BP, Fokus Stabilitas Nilai Tukar Indonesia

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, sehingga menjadi 5,50 %. Suku bunga Deposit Facility juga dipertinggi menjadi 4,50 %, sementara Lending Facility meningkat menjadi 6,25 %. Langkah ini diambil untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengurangi risiko tekanan eksternal.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Myrdal Gunarto menilai kebijakan ini sebagai upaya menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Ia menekankan bahwa bauran kebijakan moneter harus disesuaikan agar rupiah tetap kuat.

Menurut Myrdal, pelemahan rupiah beberapa pekan terakhir telah menambah risiko kenaikan harga barang impor, atau yang disebut imported inflation. Sektor yang sangat bergantung pada bahan baku, barang modal, dan komponen impor akan merasakan dampak ini secara langsung.

Ia berharap Bank Indonesia dapat mempercepat penyesuaian pasar sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Dengan demikian, investor akan lebih percaya terhadap perekonomian Indonesia.

"Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional, penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," kata Myrdal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/6/2026).

Myrdal menjelaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih relatif kuat. Sektor pembangunan infrastruktur, perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, dan ekspor sumber daya alam diperkirakan akan tetap menjadi motor pertumbuhan pada tahun 2026.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,2 %. Pertumbuhan ini didukung oleh aktivitas investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga.

Namun, kenaikan suku bunga acuan dapat memberi tekanan pada sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat. Myrdal menekankan pentingnya menjaga keseimbangan kebijakan agar tidak menghambat pertumbuhan.

"Keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan," terangnya.

Ke depan, ruang penyesuaian BI Rate akan bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, dan dinamika ekonomi global. Menurutnya, Bank Indonesia akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan sesuai kondisi pasar.

"Dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas nilai tukar dapat terjaga, ruang kenaikan suku bunga lanjutan diperkirakan relatif terbatas. Namun demikian, Bank Indonesia diperkirakan tetap akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan guna merespons perubahan kondisi pasar secara cepat dan terukur," pungkasnya.

Secara keseluruhan, kenaikan suku bunga ini mencerminkan upaya Bank Indonesia untuk menyeimbangkan antara menahan inflasi, menjaga nilai tukar, dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini diharapkan dapat menstabilkan pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.

Bank Indonesiasuku bunga acuannilai tukar rupiahinflasipasar keuangan domestikMyrdal Gunarto

Komentar

Memuat komentar...