Biaya Liburan AS Naik, Warga Tetap Membayar Besar Mewah

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Biaya Liburan AS Naik, Warga Tetap Membayar Besar Mewah

Gambar atau konten salah?

Biaya hidup di Amerika Serikat terus naik, namun warga tetap menaruh banyak uang untuk liburan. Rata‑rata pengeluaran perjalanan pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai 7.257 USD (sekitar Rp 116 juta), menurut data Squaremouth. Angka ini naik 3,6 % dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai 23 tahun lalu.

Biaya per perjalanan juga lebih tinggi, lebih dari 1.250 USD (sekitar Rp 21 juta) lebih mahal dibandingkan periode 2017‑2020. Peningkatan ini dipicu oleh perubahan pola perjalanan. Wisatawan kini lebih memilih pengalaman besar seperti safari atau pelayaran ekspedisi, dan tren wisata mewah semakin meluas.

Harga bahan bakar juga memberi tekanan. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak 28 Februari 2026 mendorong harga minyak mendekati level tertinggi. Data International Air Transport Association menunjukkan harga bahan bakar jet di Amerika Utara hampir dua kali lipat dalam beberapa pekan setelah konflik dimulai, yang berdampak langsung pada tarif penerbangan.

CEO United Airlines, Scott Kirby, mengatakan bahwa “tarif tiket telah naik sekitar 15 hingga 20 %.” Menjelang musim liburan musim panas, harga diperkirakan masih akan tinggi.

Selain tiket, biaya tambahan juga ikut naik. Setidaknya enam maskapai menaikkan tarif bagasi untuk menyesuaikan biaya operasional. Delta Air Lines dan Southwest Airlines termasuk yang menaikkan biaya bagasi sebesar 10 USD (sekitar Rp 172 ribu) sejak konflik berlangsung.

Meski biaya meningkat, sebagian wisatawan AS tidak langsung mencari opsi termurah. Laporan Squaremouth mencatat “42 % responden lebih memilih membatalkan perjalanan daripada harus menggunakan penerbangan dan akomodasi berbiaya rendah.”

Di tengah kondisi ekonomi tersebut, muncul tren pembiayaan perjalanan dengan utang. Survei NerdWallet pada Maret menemukan sekitar 60 % wisatawan berencana meminjam uang untuk berlibur. Dari jumlah itu, 23 % memilih menggunakan kartu kredit tanpa langsung melunasi tagihan, 13 % memanfaatkan penarikan tunai, sementara 7 % lainnya menggunakan pinjaman jangka pendek.

Risikonya mulai terlihat. Sekitar 35 % wisatawan yang membayar perjalanan pada 2025 dengan kartu kredit mengaku masih memiliki sisa tagihan hingga sekarang.

Data ini menunjukkan bahwa meski tekanan inflasi dan harga bahan bakar tinggi, minat warga AS untuk bepergian tidak menurun. Mereka lebih bersedia mengeluarkan uang lebih banyak, bahkan meminjam, demi pengalaman perjalanan yang lebih besar dan mewah.

biaya hiduppengeluaran liburantarif bahan bakarkonflik AS-Israel-Iranpenerbanganpembiayaan perjalanankartu kredit

Komentar

Memuat komentar...