BKSDA Siapkan Jebakan, Relokasi Monyet ke Pulau Nusakambangan
Gambar atau konten salah?
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah telah mempersiapkan langkah jangka pendek untuk mengatasi masuknya kawanan monyet ke permukiman Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Langkah ini meliputi pemasangan jebakan, edukasi kepada warga, dan rencana relokasi hewan primata.
"Untuk jangka pendek ini kita datang itu sosialisasi juga, kita mengedukasi juga, masangkan yang jebak (jebakan)," kata Nova Indri Hapsari, Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jateng, saat ditemui pada 30 April 2026 di kantor BKSDA di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat.
Jika monyet tertangkap, Nova menjelaskan bahwa hewan tersebut akan relokasi ke Pulau Nusakabangan di Cilacap. Ia menegaskan pentingnya penanganan lintas instansi.
"Nanti kalau satwanya sudah tertangkap nanti kita jemput untuk kita relokasi di belakang terus kita pindahkan ke tempat yang lainnya. Kita punya satu pulau yang kebetulan kawasan kami itu Nusakambangan," sebutnya.
Nova juga menambahkan bahwa di Pulau Nusakambangan terdapat predator alami seperti ular sanca dan macan tutul. Dengan kehadiran predator, ia percaya ekosistem monyet akan berfungsi secara alami.
"Di sana ada predatornya, macan tutul, ular sanca, macan kumbang. Jadi, di mana di situ ada predator, di situ ada pakan. Ya itu akan bekerja secara alami. Ya, yang jelas itu akan jadi pakannya si macan-macan yang ada di Nusakambangan," bebernya.
Sementara itu, Priyatna, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Konservasi Lingkungan Hidup DLH Kota Semarang, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan survei ke lokasi pada hari itu.
"Hari ini kita langsung survei ke lokasi kondisi sebenarnya kaya apa, nanti tindakannya apa. Kita belum bisa matur (menyampaikan) yang harus kita lakukan apa. Kita harus koordinasi dengan kelurahan dulu," kata Priyatna.
Kasus ini pertama kali dilaporkan ketika kawanan monyet menyerbu RT 3/RW 7 di Kampung Kalialang Baru. Kunjaeri, Ketua RT 3/RW 7, menjelaskan bahwa monyet-monyet tersebut sudah lama berada di lingkungan tersebut.
Menurut Kunjaeri, monyet-monyet tersebut mulai datang secara bertahap. Awalnya hanya satu atau dua ekor, lalu meningkat seiring waktu.
"Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan," kata Kunjaeri pada 27 April 2026.
Ia menyebutkan bahwa kelompok monyet dapat mencapai 50-100 ekor. Monyet-monyet ini biasanya datang pada siang hari dan sering nongkrong di pos ronda kampung.
"Malah sudah mencapai bahkan 50-100 monyet datang ke sini," sebutnya.
Selain pos ronda, monyet-monyet juga naik ke atap rumah dan mengacak-acak tempat sampah warga. Kunjaeri mengaitkan perilaku ini dengan kebutuhan akan makanan.
"Kadang ada di atap genting. nah itu terkadang cari-cari makanan. Kadang itu ngorak-ngarik sampah. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya," ungkap Kunjaeri.
Ia menduga asal muasal monyet-monyet tersebut berasal dari arah selatan, khususnya wilayah Goa Kreo. Warga pernah berkejaran dengan gerombolan monyet, menggunakan mercon dan kembang api.
"Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya dengan, mungkin, di Gua Kreo," sebutnya.
Warga juga mengaku pernah menggunakan jaring dan katapel untuk mengusir monyet. Pada hari Raya, masih tersisa stok kembang api atau mercon yang digunakan sebagai senjata.
"Sempat ada sekitar 50-an itu kejar-kejar warga bahkan sampai di apa serang pakai apa itu kembang api mercon itu kan jadi kayak perang zaman '45 gitu," jelas Kunjaeri.
Ia menambahkan, "Kemarin sempat mempersiapkan plintheng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu," sebutnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa monyet telah menyesuaikan diri dengan lingkungan manusia. Upaya BKSDA dan pihak kota masih dalam tahap awal, dengan survei dan rencana relokasi yang akan dilaksanakan setelah jebakan berhasil menangkap monyet. Penanganan lintas instansi diharapkan dapat mengatasi masalah ini secara berkelanjutan, sambil menjaga keseimbangan ekosistem di pulau tujuan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
