BPA Merusak Sperma Pria, Paraprobiotik FK‑23 Tunjukkan Janji
Gambar atau konten salah?
Di 26 Mei 2026, para ilmuwan dari Osaka Metropolitan University mempublikasikan hasil penelitian baru tentang BPA—bahan kimia sintetis yang sering dipakai dalam pembuatan plastik dan pelapis kaleng makanan—dan dampaknya terhadap kualitas sperma pria.
BPA dipilih karena kemampuannya membuat wadah makanan dan minuman lebih kuat serta tahan panas. Namun, zat ini juga dapat larut ke dalam isi wadah, sehingga masuk ke dalam tubuh manusia saat meminum atau memakan makanan yang disimpan di dalamnya.
Penelitian terdahulu sudah mengaitkan BPA dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk masalah reproduksi pria. Paparan BPA dikatakan dapat menurunkan jumlah sperma, memperlambat pergerakannya, dan meningkatkan risiko sperma abnormal.
Studi terbaru menguji efek BPA pada hewan laboratorium. Hasilnya, BPA memicu stres oksidatif—ketika radikal bebas meningkat dan merusak sel sehat—yang secara cepat memengaruhi sperma.
Setelah satu minggu terpapar BPA, jumlah radikal bebas pada sperma meningkat secara signifikan. Delapan minggu kemudian, kemampuan gerak sperma menurun, termasuk kecepatan dan gerakan kepala sperma yang penting dalam proses pembuahan.
Untuk mengurangi stres oksidatif tersebut, peneliti mencari senyawa yang dapat membantu. Mereka menemukan FK‑23, suplemen paraprobiotik yang berasal dari bakteri Enterococcus faecalis, bakteri alami yang hidup di saluran pencernaan manusia.
Bakteri tersebut dipanaskan terlebih dahulu sehingga tidak aktif dan aman digunakan. Meski sudah dimatikan, komponen bakterinya diyakini tetap memberi efek baik bagi tubuh melalui hubungan antara sistem pencernaan dan sistem imun.
Ketika diberikan pada hewan yang terpapar BPA, FK‑23 terbukti membantu memperbaiki pergerakan sperma dan mengurangi tanda‑tanda kerusakan sel reproduksi. “Kami menemukan bahwa komponen dari bakteri asam laktat memiliki efek perlindungan terhadap gangguan reproduksi akibat bahan kimia lingkungan,” ujar Profesor Yukiko Minamiyama dari Graduate School of Medicine Osaka Metropolitan University.
Walaupun hasilnya menjanjikan, peneliti menekankan perlunya riset lanjutan pada manusia untuk memastikan efektivitas suplemen tersebut terhadap kesehatan reproduksi pria.
Sejauh ini, BPA masih diizinkan digunakan pada beberapa bahan kemasan makanan dan produk konsumen tertentu. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa kadar BPA yang larut dari produk tersebut hingga kini masih dianggap aman berdasarkan bukti ilmiah yang ada.
Namun, sejumlah negara lain memilih langkah lebih ketat. Uni Eropa, misalnya, sudah melarang penggunaan BPA pada wadah makanan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti potensi risiko BPA terhadap kualitas sperma dan menunjukkan bahwa suplemen paraprobiotik seperti FK‑23 dapat menjadi strategi mitigasi. Namun, regulasi dan pengujian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya dalam konteks manusia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
